Kok Bisa?

PASCA-banjir yang menggenangi jalan raya sepanjang jalur pantura (pantai utara Jawa), ribuan tentara bagaikan barisan semut pekerja

Editor: M Fadli Setia Rahman

Contoh lain, kegiatan KPK (Komisi Pemberantaan Korupsi) saat  memeriksa koruptor mendapat liputan yang bukan hanya luas tapi sangat luas. Bandingkan dengan kegiatan yang sama oleh kejaksaan dan Polri, pemberitaannya sangat seremonial dan ‘kering’.

Pers itu sebenarnya akan datang, diminta atau tidak tergantung objeknya. Aktivitas jujur dan tidak itu, beda.

Mengapa perintah Yudhoyono pada tentara agar memperbaiki jalur pantura dan memadamkan api di Riau menarik? Karena waktunya tepat jadi terasa orisinal (asli), bukan palsu.

Sayang momennya pas lagi kampanye pemilu atau setidaknya menjelang kampanye sehingga penilaian orang menjadi lain, kok begitu gigih tak seperti biasanya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa aktivitas ketua umum parpol di masa kampanye, dalam kapasitas apapun, tak bisa dipisahkan dari kepentingan partai.

Padahal di luar kampanye pun Yudhoyono sebenarnya bisa bertindak cepat dan tegas. Entah mengapa selama hampir 10 tahun terkesan sangat lembut, jauh dari tegas, sehingga jadi bulan-bulanan. Ini pelajaran buat penerusnya. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved