Kok Bisa?

PASCA-banjir yang menggenangi jalan raya sepanjang jalur pantura (pantai utara Jawa), ribuan tentara bagaikan barisan semut pekerja

Editor: M Fadli Setia Rahman

PASCA-banjir yang menggenangi jalan raya sepanjang jalur pantura (pantai utara Jawa), ribuan tentara bagaikan barisan semut pekerja bahu membahu membetulkan jalan-jalan yang penuh lubang, mulai yang kecil sampai kubangan kerbau.

Jalan-jalan itu rusak berat akibat hujan yang turun tiada henti. Mau tahu siapa yang menginstruksikan? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bandingkan kalau ditangani Kementerian Pekerjaan Umum (PU) lama dan biayanya membengkak.

Sabtu, 15 Maret 2014 lalu, Yudhoyono juga langsung memimpin pemadaman api yang asapnya sudah menyelimuti Riau dan privinsi tetangga selama berminggu-minggu. Penduduk terserang sesak napas, aktivitas penerbangan terhenti, perekonomian tersendat. Di Riau, Yudhoyono juga ditemani ribuan tentara yang sengaja dikerahkan untuk memadamkan api.

Sebelumnya, dia juga sudah menginstruksikan agar pelaku pembakaran hutan ditindak tegas. Dia mengadakan melalui rapat jarak jauh antara Jakarta dan Riau.

Sebelum ke Riau, dia datang ke Semarang, Jateng untuk meresmikan pembangunan pipa gas dari Jepara-Semarang. Nantinya Semarang menjadi kota gas, karena gas dari Jatim, Jabar dan  Kalimantan akan ‘menumpuk’ di kota itu untuk kepentingan PLN dan masyarakat lewat pipa-pipa distribusi.

Jadi masyarakat tak usah berebut tabung gas karena akan dialirkan melalui pipa sampai ke dapur. Di Semarang, Yudhoyono juga menyanggupi menyelesaikan kebuntuan perluasan Bandara Ahmad Yani yang urusan tanahnya dengan Kementerian Pertahanan belum selesai.

Apa komentar orang? Lho, kok bisa. Ya, Yudhoyono yang selama ini dinilai sebagian masyarakat lamban mengambil keputusan ternyata bisa membuat keputusan cepat.

Sebagai presiden ia juga ingin perintahnya dilaksanakan oleh para bawahan. Tapi harus diakui selama ini banyak yang tidak dikerjakan dan Yudhoyono diam saja. Apa presiden yang tidak tegas atau bawahan yang kurang ajar, entahlah.

Zaman Soeharto menjadi presiden, lidahnya bagai api, ucapannya bagai hukum, tindakannya bagai malaikat yang diikuti semua bawahan. Tak ada yang berani membangkang perintahnya. Semua takut. Tentara pun tak berkutik.

Ketika dia mengucapkan kata ‘gebuk’ untuk pembangkang, semua pejabat menggunakan kata gebuk untuk mengancam. Ketika penembakan misterius (petrus) terhadap preman direstui, preman pontang-panting menyelamatkan diri, bahkan ada yang lari ke hutan.

Sekarang Yudhoyono ngomong, orang acuh. Yudhoyono bertindak dibilang latah, instruksi tak dijalankan. Preman diancam malah menantang, toko-toko emas dirampok, geng motor dari hobi kebut- kebutan sekarang sudah menjadi komplotan berandal untuk menjarah barang milik orang lain.

***

Mengapa media massa kurang mengangkat Yudhoyono, tidak pentingkah? Kalau mau dilihat penting tidaknya, salah satu tolok ukurnya di media massa. Dulu, tiada hari tanpa berita Pak Harto. Hampir semua kegiatan presiden dimuat di halaman pertama koran.

Bandingkan sekarang, koran-koran begitu pelit dengan kolom untuk berita Yudhoyono. Televisi swasta juga lebih senang memberitakan aktivitas pemiliknya daripada pemerintah.  TVRI pernah melakukan bloking waktu untuk memberitakan aktivitas Yudhoyono dan Partai Demokrat, malah menjadi masalah berkepanjangan.

Zaman Soeharto pers memang dipasung, takut untuk tidak memberitakan kegiatannya. Tapi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) tanpa meminta, juga mendapat pemberitaan yang luar biasa luas. Mantan Gubernur Sutiyoso sampai bilang, pada zaman dia, gubernur itu enemy (musuh), sekarang darling.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved