Madinatun Nabawi Inilah Kota Nabi
Romansa Gerbang Sembilan
HARI ketiga di Madinah, pikiran dan perasaan masih tertambat ke Masjid Nabawi. Ada semacam semangat untuk
Oleh: Yusran Pare
Tanggal 9-18 Maret 2014, Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post Group, Yusran Pare berziarah ke Tanah Suci bersama rombongan umrah Travellindo. Ini tulisan terakhir dari tiga catatan pribadinya mengenai Madinah. Nantikan catatan menarik tentang umrah dan Makkah mulai Senin (31/3) mendatang.
HARI ketiga di Madinah, pikiran dan perasaan masih tertambat ke Masjid Nabawi. Ada semacam semangat untuk datang lebih awal ke dalam pelukan kenyamanan suasananya. Lima kali dalam sehari, salat berjamaah di tengah keragaman penampilan dan tata cara, sungguh suatu kenikmatan tersendiri. Di luar itu, suasana masjid ini membuat saya –mungkin juga orang
lain– betah berlama-lama berada di dalamnya.
Ada rasa damai, aman, dan tenteram saat berada di dalam masjid ini. Deretan tiang menciptakan kesan lorong simetrik yang indah berkat ornamen-ornamen yang menghiasinya. Di luar waktu salat, bangunan seluas kirakira 1.000x1.500 meter ini selalu menyediakan ruang nyaman untuk orang beritikaf, membaca kitab suci, belajar, berdiskusi. Atau, ada yang sekadar berbaring, tiduran sambil menanti saat waktu salat tiba.
Begitu azan berkumandang, ribuan orang dari berbagai penjuru berdatangan. Begitu pula saya dan istri. Kami selalu berusaha memburu kesempatan jangan sampai tak kebagian tempat di dalam masjid. Tempat salat kaum perempuan, dipisahkan secara tegas dari kaum lelaki. Karena itu kami hanya bisa bersama dari hotel sampai memasuki gerbang.
Di pelataran, kami berpisah. Dan nanti, selalu kami saling tunggu di tempat berpisah tadi. Siapa yang lebih dahulu tiba, dialah yang menanti pasangannya. Lucu juga. Seperti pasangan remaja yang janji ketemuan saat bolos sekolah.
Biasanya, kami masuk dari rute paling dekat dari hotel, di gerbang sembilan, persis di sebelah pusat perbelanjaan Bin Dawood. Subhanallah. Saya baru menyadari, betapa kami saling tergantung satu sama lain. Hampir tiga puluh tahun berumah tangga, tiga perempat dari kurun itu kami “habiskan” dengan cara hidup terpisah karena saya bertugas di berbagai kota. Rupanya, dengan cara itu Tuhan mengingatkan tentang makna relasi di antara satu pasangan.
Setiap habis dari Nabawi, selalu saja ada hal baru yang kami bicarakan mengenai masjid itu. Entah itu mengenai perilaku jemaah dari negara lain, entah soal tata ruang, kincir, lapisan emas pernak-pernik ornamen tertentu dan sebagainya. Tak akan kehabisan topik untuk membahas masjid istimewa ini.
Bagi saya pribadi, keindahan Masjid Nabawi itu terasa sebagai gabungan antara keindahan artifisial dengan keindahan sejati yang hadir dari rekayasa rancang bangun dan tata arsitekutral, plus pemanfaatan tekonolgi tinggi.
Suasana hari-harinya, juga merupakan paduan harmoni antara perkawinan tradisi lokal dengan teknologi tinggi, dan dengan tradisi asal masing-masing pendatang.
Teknologi diterapkan dan dioptimalkan pemanfaatannya untuk membuat nyaman orang beribadat, di tempat bernilai sejarah tinggi. Saya membayangkan ruwetnya mengatur sistem tata air, tata cahaya, tata suara, kelistrikan dan unsur-unsur lainnya.
Untuk mengatur 27 kubah geser (sliding dome)-nya saja tentu diperlukan sistem pengoperasian tersendiri yang mutlak harus memanfaatkan kecanggihan tekonologi, sebagaimana mengatur kuncupkembangnya 105 payung raksasa berbahan khusus. Ada 12 kubah geser sayap kiri dan kanan dan 12 di bangunan sayap kanan. Tiga kubah lagi ditempatjkan di sayap belakang bangunan utama Masjid Nabawi. Terlalu merepotkan jika pengoperasiannya hanya dilakukan secara manual.
Itu perihal piranti modern yang digunakan, belum lagi benda paling berharga sepanjang sejarah manusia, yakni emas. Sangat boleh jadi, seluruh ornamen penting di masjid ini dilapisi emas murni. Ada yang menyebutkan, sekitar enam ton emas murni digunakan untuk menghias masjid agung ini. Demikian pula pemanfaatan teknologi tata suara. Nyaris tanpa cela.
“Kira-kira pengeras suara jenis apa yang dipakai di sini ya? Suaranya enak sekali, tidak membuat sakit telinga, tidak pecah,” ujar seorang rekan seperjalanan, saat kami duduk bersiap-siap menanti salat. Ia mengarahkan tatapannya ke beberapa sudut pada bagian atas pilar-pilar masjid. Di beberapa tempat, tampak ada pengeras suara, namun bentuknya disesuaikan dengan karakter pilar itu sehingga tersamar. Juga di beberapa sudut lain, bahkan pada tiang payung-payung raksasa di halaman dan di pelataran tengah.
Betul. Saya pun baru menyadarinya. Suara yang dipancarkan ke seantero masjid ini demikian empuk. Bahkan di tempat tertentu di dalam masjid itu, suara tersebut terasa seperti datang dari dalam kepala kita sendiri. Demikian pula suara azan atau suara imam saat memimpin sembahyang. Pengeras suara yang dipasang di sepuluh menaranya mengantarkan suara yang lembut. Tinggi tapi empuk. Tidak kasar dan tidak membuat kuping sakit.