Politik Uang dan Ambisi
PEMILIHAN Umum Legislatif 2014 tinggal hitungan hari. Sejumlah calon yang maju untuk duduk sebagai perwakilan
PEMILIHAN Umum Legislatif 2014 tinggal hitungan hari. Sejumlah calon yang maju untuk duduk sebagai perwakilan dari masyarakat pun mulai melakukan lobi agar bisa terpilih. Politik uang pun rentan terjadi.
Berbagai trik dilakukan para calon atau partai politik untuk dapat menarik simpati. Mulai dari blusukan alias melakukan kunjungan hingga ke tempat-tempat yang selama ini jarang mendapat perhatian, hingga ke kawasan yang kerap terlupakan. Di sini dengan dalih kedekatan, tak sedikit para calon mengeluarkan sejumlah uang yang dibagi-bagikan kepada masyarakat yang ditemui. Hal ini tampaknya sudah lazim dan banyak dilakukan. Bahkan ada juga calon yang menyusup dalam kegiatan-kegiatan yang digelar. Selipan berupa kartu nama ataupun barang yang bergambar caleg pun beredar.
Tak hanya itu, pemberian barang yang di sertai ‘titipan’ rupiah juga menyasar. Masyarakat yang mendapatkannya bakalan menemukan kertas atau gambar caleg yang telah memberikan “bantuan’ tersebut.
Yang luar biasa lagi adalah adanya upaya pengerahan massa dalam kegiatan kampanye terbuka yang digelar oleh partai politik. Berdalih sebagai uang transportasi, massa yang datang ke kampanye pun bakalan mendapat beberapa lembar rupiah.
Ada pihak-pihak yang mampu melakukan pengerahan massa agar kampanye terlihat meriah. Ini terkadang musti dilakukan demi gengsi agar tak dipandang sebelah mata.Kampanye yang sepi pengunjung tentunya sedikit banyak akan meninggalkan efek negatif.
Memang kondisi ini tak serta merta bisa mendulang keberhasilan. Masyarakat yang mulai pintar tak sungkan-sungkan menerima bantuan ataupun kucuran rupiah dari para caleg atau parpol. Namun saat pemilihan, tentunya merekalah yang menentukan sendiri.
Jurus-jurus ampuh menarik minat masyarakat memang saat ini dikeluarkan habis-habisan oleh para calon legislatif dan partai politik untuk meraup dukungan. Namun terlepas dari semua persoalan tersebut, tentunya sangat disayangkan. Masyarakat diajak memilih dan menyalurkan hak politiknya karena adanya imbalan. Memang, kondisi ini tak seratus persen menjamin bahwa si caleg atau parpol tersebut mampu mendulang suara secara maksimal.
Jor-joran mengeluarkan dana untuk bisa lolos juga sebenarnya membahayakan bagi caleg itu sendiri. Mereka yang nekat namun terganjal finansial nekat meminjam sejumlah uang. Kondisi berbahaya terjadi saat caleg tersebut ternyata tak lolos, dan pinjaman musti dikembalikan. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Satu hal yang seharusnya dilakukan para caleg atau parpol adalah dengan menunjukkan kredibilitas mereka sejak awal. Raih kepercayaan masyarakat lewat upaya-upaya pembangunan yang bisa dirasakan oleh masyarakatnya. Dengan begitu, masyarakat pun merasa senang dan menyalurkan haknya sesuai hati nurani. Jika ini memang terjadi, maka pemilu bersih bakal terwujud, dan tentunya para wakil rakyat yang duduk pun mereka-mereka yang punya kemampuan, semoga. (*)