Masjid bagi Umat Islam
SEJUMLAH peristiwa terjadi dalam kehidupan Rasulullah SAW, menunjukkan betapa pentingnya
Oleh: KH Husin Naparin
SEJUMLAH peristiwa terjadi dalam kehidupan Rasulullah SAW, menunjukkan betapa pentingnya masjid bagi umat Islam. Ketika beliau diperjalankan di waktu malam (Isra), diperlihatkan berbagai ayat Allah SWT dan bermacam tamsil dan ibarat; adalah perjalanan yang dilaksanakan dari masjid ke masjid, dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina.
Dalam rangka hijrah untuk membuat suatu strategi baru bagi dakwah Islamiyah dan pembinaan masyarakat muslim, beliau langsung membangun masjid di Quba (pinggiran kota Yatsrib) pada Senin, 12 Rabiul Awal; masjid ini tercatat dalam Alquran sebagai masjid yang didirikan atas dasar taqwa.
Setelah beberapa hari berada di Quba, ia meneruskan perjalanan ke pusat kota Yatsrib pada Jumat 16 Rabiul Awwal (20 September 622 M), setibanya di situ beliau juga langsung mendirikan masjid, disebut Masjid Nabawi.
Masjid ini didirikan di atas sebidang tanah kepunyaan dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, dibeli oleh beliau seharga sepuluh dinar. Nabi SAW sendiri ikut serta membangunnya sambil berdoa: “Allahuma la aisya ila aisyal-akhirah, fagfir lil-anshari wal-muhadjirah.” Artinya: “Tidak ada kehidupan (yang hakiki) melainkan kehidupan akhirat. Wahai Tuhan, ampunilah kaum Anshar dan Muhajirah”.
Selama tujuh bulan Nabi SAW menjadi tamu Abu Ayyub Al-Anshari dan setelah selesai membangun masjid barulah ia mendirikan rumah yang didirikan di samping masjid. Demikianlah, Nabi Muhammad SAW membangun masjid pada saat-saat kritis, bahkan mendahulukan membangun masjid daripada kepentingan pribadi.
Kalaulah pembangunan masjid sekadar untuk salat, maka bisa saja ditunda ke suatu saat dimana situasi dan kondisi umat Islam sudah lapang, baik dari segi ekonomi, politik dan lain sebagainya, bukankah tiap jengkal bumi bisa dijadikan tempat salat; tetapi rupanya tidak demikian, masjid harus dibangun karena ia tempat membina dan menempa umat Islam serta pusat kegiatan.
Kata masjid diambil dari akar kata sa-ja-da, artinya meletakkan dahi ke lantai untuk beribadah. Mengapa tempat khusus untuk menyembah Allah SWT diambil dari kata sa-ja-da, padahal sujud hanyalah sebagian dari bentuk pelaksanaan ibadah, seutuhnya penyembahan itu disebut salat; seyogianya tempat untuk salat dalam segi bahasa disebut mushalla.
Sujud adalah merupakan puncak penyembahaan kepada Allah SWT dengan menaruh dahi ke lantai bagian yang paling mulia dari tubuh seorang hamba. Pada saat seseorang menaruh dahi ke lantai untuk menyembah Allah SWT, pada saat itu keberadaannya pada posisi paling dekat dengan Khalik (sang pencipta) nya.
Nabi SAW bersabda: “aqrabu ma yakunul-abdu mirrabbihi wahuwa sajid, fa aktsiru fihi minaddu’a” artinya: “Posisi seorang hamba yang paling dekat dengan tuhannya ialah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa pada saat itu” (HR Muslim, Abu Daud dan Nasa’i).
Masjid Al-Haram di Makkah, Masjid Al-Aqhsa di Palestina dan Masjid Nabawi di Madinah tercatat mempunyai kelebihan tersendiri dari masjid-masjid lain di permukaan bumi ini; ke ketiga masjid ini dibolehkan memaksakan kepergian ke sana. (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).
Bangunlah masjid atau ikutlah membangunnya karena Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya, niscaya Allah SWT bangunkan rumah di dalam surga untuknya. (HR. Muttafaq alaih).
Makmurkan masjid dengan banyak berkunjung ke sana untuk iktikaf dan salat berjamaah, karena banyaknya langkah ke masjid dapat menghapuskan dosa dan akan dibangunkan Allah SWT rumah di dalam surga (HR Muttafaq alaih).
Dalam perjalanan mikraj, di atas langit baginda Rasulullah SAW menyaksikan seorang hamba yang tenggelam dalam sorotan cahaya ‘Arsy (magibun binuril-‘Arsy). Rasulullah SAW bertanya kepada kepada Jibril AS, apakah itu malaikat?
Dijawab, tidak. Ia bertanya lagi, apakah ia seorang rasul atau seorang nabi?
Dijawab,tidak. Rasul bertanya lagi, lantas siapa? Dijawab: orang itu adalah sebagian dari umatmu.
Rasul bertanya kembali, bagaimana bisa begitu? Dijawab, ia adalah umatmu yang lidahnya selalu basah (rathbun) menyebut nama Allah SWT, hatinya selalu terpaut (mu’allaq) dengan masjid dan orang itu tidak pernah mencela kedua orang tuanya.
Selamat tinggal bulan Rajab 1435 H, Allahuma barik lana fi Rajab wa Sya’ban waballigna Ramadhan; Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikan umur kami ke bulan Ramadan. (*)