Ikhlas Tanpa Beban
RAMADAN telah tiba. Bulan berkah berlimpah pahala ini kembali menyapa kaum muslimin di seluruh
RAMADAN telah tiba. Bulan berkah berlimpah pahala ini kembali menyapa kaum muslimin di seluruh dunia dengan segala kelebihan pahala di dalamnya.
Amalan sunat diganjar sebanding perintah wajib dalam agama. Allah Swt memberikan jaminan ampunan dosa bagi mereka yang beribadah di bulan Ramadhan dengan ikhlas sekaligus meraih predikat takwa.
Prinsip puasa adalah pengendalian diri untuk tetap berada pada posisi yang ditentukan Allah Swt. Dalam bahasa Arab dikenal istilah imsak-an (menahan diri) dan imsak-bi (berpegang teguh kepada) perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan kata lain puasa berarti upaya untuk mengendalikan diri dan mengendalikan hawa nafsu karena mentaati perintah Allah.
Daniel Goleman, seorang ahli kecerdasan emosional telah melakukan riset tentang pengaruh puasa terhadap kepribadian seseorang. Riset yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak Stanford terhadap anak-anak usia empat tahun yang perkembangan terus dipantau sampai mereka dewasa dan masuk dunia kerja.
Hasil penelitian Goleman menunjukkan bahwa anak yang mampu mengendalikan diri lewat puasa akan memiliki sifat-sifat kuat dan tahan menghadapi stres, sabar, tidak mudah bertengkar, cerdas, mampu berkolaborasi dan bertanggung jawab. Inilah sesungguhnya sifat yang diharapkan tumbuh dari kaum muslimin yang berpuasa dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini pula yang seharusnya mengubah cara pandang kita saat menghadapi bulan puasa yang sejak lama dipersepsikan sebagai bulan berlebihan dan menyambutnya pun cenderung berlebihan secara materi.
Padahal sesungguhnya, inti ibadah puasa Ramadan sebagaimana dalam terminologi fiqh adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya (seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri), dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Untuk itu, memasuki bulan yang penuh berkah ini marilah kita memperbaharui kembali cara kita berpuasa. Mari kita berpuasa dengan penuh kesadaran, ikhlas dan tanpa harus membebani diri dengan hal-hal duniawi yang sesungguhnya tidak diajarkan dalam agama kita.
Mari kita menyambutnya dengan gembira, menyambutnya dengan penuh ikhlas dan ketundukan atas perintah Allah Swt.
Dengan demikian, saat proses puasa dilakukan dengan baik sesuai tuntunan agama, maka puncak spiritualitas puasa yang hendak kita capai nanti, akan sempurna wujud dalam setiap pribadi umat Islam.
Inilah sesungguhnya predikat takwa itu, La’allakum tattaquun.
Ahlan wa sahlan ya Ramadan! (*)