Heboh Nazi

AHMAD Dhani memang biasa tampil dengan atribut militer. Tak jarang pula pentolan grup band Dewa

Editor: Dheny Irwan Saputra

AHMAD Dhani memang biasa tampil dengan atribut militer. Tak jarang pula pentolan grup band Dewa ini tampil mengenakan baju khas Bung Karno. Namun, penampilannya dengan tema serupa kali ini bikin heboh dunia. Dalam video klipnya, Ahmad Dhani menampilkan simbol-simbol Nazi.

Media Jerman, Der Spiegel, yang pertama kali mengangkat isu tersebut. Makin seru setelah situs majalah Time, disusul media-media di Israel, ikutan bereaksi. Intinya, media-media itu sama-sama mempertanyakan komentar Dhani yang dinilai tidak menyesal menggunakan simbol-simbol Nazi.

“Apa hubungan antara tentara Jerman dan musisi Indonesia? Kami, orang Indonesia, tidak membunuh jutaan orang Yahudi, bukan?” komentar Dhani yang menjadi sorotan.

Penampilan Dhani dalam video berjudul “We Will Rock You” sebagai dukungan kepada salah satu pasangan capres, menuai kritik internasional karena menyerupai seragam komandan SS Heinrich Himmler, orang kepercayaan Adolf Hitler (1889-1890).

Times of Israel juga menyoroti burung garuda yang digunakan dalam klip video tersebut. Burung Garuda Pancasila berwarna emas dianggap media itu menyerupai lambang elang Nazi.

Mengutip literatur, Nationalsozialistische Deutsche Arbeitrerpartei adalah sebuah partai di Jerman yang didirikan pada 1920. Mengusung konsep Nationalsozialist, partai ini umum disebut sebagai Nazi. Pada 1921, Adolf Hitler memimpin partai tersebut hingga 1945. Satu hal menggemparkan yang dilakukan oleh partai ini adalah holocaust (pembunuhan massal) terhadap golongan Yahudi dan golongan lain, sehingga menimbulkan kontroversi kemanusiaan, baik terkait rasa kemanusiaan maupun tentang pemikiran moral dan ideologi.

Wajar saja jika ulah Dhani bikin heboh dunia yang sudah sepakat menjunjung tinggi HAM. Tetapi Dhani tak sendirian. Sebuah kafe di kota kembang, Bandung SoldatenKaffee, juga pernah bikin heboh dunia. Kafe yang berdiri sejak 2011 ini terpaksa ditutup oleh pemiliknya pada 2013, menyusul kontroversi tentang tema kafe yang dipicu pemberitaan sebuah media yang menyebut kafe itu sebagai kafe Nazi.

Akibat sejarah kelam Jerman masa Hitler, berbagai simbol terkait Nazi, misalnya Swastika, menjadi sangat sensitif. Keberadaan simbol-simbol Nazi juga lah yang akhirnya menjadi pemicu kontroversi dari SoldatenKaffee.

Perkembangan kemudian, pada Sabtu (21/6/2014), pihak SoldatenKaffee menggelar konferensi pers terkait dibukanya kembali kafe tersebut. Pemilik kafe, Henry Mulyana, menegaskan konsep kafe itu bukan lah tentang Nazi melainkan karya-karya bertema Perang Dunia II.

Agar adil, kontroversi Nazi memang selayaknya disikapi dari berbagai sudut pandang. Lambang yang dipakai Nazi, Swastika (berbentuk seperti kipas angin yang tiap ujungnya dibelokkan), misalnya, sebenarnya semula bermakna baik bahkan sakral. Swastika diambil dari kalimat sangsekerta “Svastika”. Dari penggalan-pengalan hurufnya, “su” artinya baik, “asti” artinya menjadi dan “ka” artinya akhiran.

Berbagai sumber menyebutkan, sebelum Nazi menggunakan simbol ini, Swastika digunakan untuk mewakili kehidupan, matahari, kekuatan, dan nasib baik. Bahkan di awal abad ke-20, Swastika masih memiliki arti positif. Contohnya, lambang ini digambarkan di kartu pos, koin dan gedung. Bahkan saat Perang Dunia I, Swastika dipakai di jahitan punggung Divisi Amerika ke-45 dan Angkatan Udara Florida sampai Perang Dunia II.

Swastika juga banyak menyebar di Tanah Air. Lambang ini banyak terdapat di aksesori yang dipakai di badan, kalung, atau tas. Lantas, sejauhmana para pemakai aksesori simbol Swastika memahaminya selain sebatas terkait Nazi?

Tak jauh-jauh, lambang Garuda Pancasila (yang dipegang Ahmad Dani dalam video klip menghebohkan itu) pun mungkin belum sepenuhnya dipahami secara utuh di negeri ini, semisal terkait Bhineka Tunggal Ika yang tercantum di lambang tersebut. Mengingat, kasus-kasus semacam berbau SARA masih saja terjadi, meski grafiknya kian hari kian menurun. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved