Apakah Itu Alquran?

RAMADAN 1435 H telah tiba. Ramadan adalah bulan awal turun Alquran ,bahkan bulan turunnya wahyu-wahyu

Editor: Dheny Irwan Saputra

RAMADAN 1435 H telah tiba. Ramadan adalah bulan awal turun Alquran ,bahkan bulan turunnya wahyu-wahyu Allah SWT kepada para nabi sebelum Muhammad SAW.

Alquran ialah: “Kalam Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW, yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir serta membacanya adalah ibadah” (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI)

Menurut Syekh Abdurrahman, Alquran itu ada empat bentuk:

Pertama: Dalam bentuk nuqusy, yaitu tulisan yang terdapat pada mushaf. Mereka yang berhadas kecil dan besar, haram menyentuh dan membawanya .

Kedua: Dalam bentuk lafazh yaitu ucapan; seorang yang berhadas besar diharamkan membaca atau melafalkan sampai ia bersuci; kendati dibolehkan melafalkannya sebagai zikir, bukan dengan maksud membaca Alquran.

Ketiga: Dalam ma’na ; maksudnya ialah Alquran yang ada pada zihn atau benak seorang alim atau faqih yang memahami isi Alquran; sehingga ia lebih afdhal menjadi imam daripada seorang qari yang hanya pandai membaca.

Keempat: Al-qa’im bizatillah, yaitu Alquran yang ada pada Dzat Allah SWT, wallahu a’lam apa dan bagaimana. (Bugyah Al Mustarsyidin, Dar Al Fikr, tt, hal. 294).

Menurut kalangan ahli fiqih (Syafi’iyyah dan Hanafiyah), mereka yang berhadas besar (junub) “haram” membaca Alquran kendati hanya satu huruf atau kurang dari satu ayat dengan niat/maksud membaca Alquran; tetapi “dibolehkan” jika dimaksudkan sebagai doa, tsana (puji-pujian kepada Allah SWT), iftitahu amrin (pembukaan suatu masalah), ta’lim (proses ajar-mengajar), isti’azah (permohonan perlindungan diri), dan zikir; atau spontanitas terlontar di lidah tanpa sengaja.

Dengan demikian, membaca basmalah, hamdalah, fatihah, ayat Kursi dan surah Al-Ikhlas tidak diharamkan dengan niat untuk zikir. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wa ‘Adillatuh, Dar-Al Fikr, Beirut, jilId I, cet. 3, 1989 M, hal. 383-384).

Dalam membaca Alquran diperlukan adab. Imam Al Gazali dalam Ihya Ulumiddin menguraikan adab tersebut, baik lahir maupun batin. Di antara adab lahir :

1. Suci dari hadas besar maupun kecil, termasuk bersih mulut.

2. Membaca dengan penuh kesopanan, yaitu menghadap kiblat; berdiri jika dalam salat lebih utama (afdhal) daripada duduk, kendati dibolehkan dalam posisi duduk atau berbaring.

3. Menguraikan air mata (menangis). Nabi SAW bersabda: “Bacalah Alquran dan menangislah anda, bila anda tidak bisa menangis maka buatlah seperti menangis.”

4. Memelihara hak masing-masing huruf dan ayat, termasuk melaksanakan sujud tilawah pada 14 tempat yang dianjurkan.

5. Membaca dimulai menyebut ta’awwuz (membaca a’uzubillahi minasy-syaithanirrajim) dan ditutup tashdiq (membaca shadaqallahul-azhim) termasuk membaca tasbih, istigfar dan doa pada tempat-tempat tertentu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved