Sujud Syukur
KETIKA Prabowo Subianto melakukan sujud syukur beberapa saat setelah hitung cepat hasil pemilihan presiden
Oleh: Pramono BS
KETIKA Prabowo Subianto melakukan sujud syukur beberapa saat setelah hitung cepat hasil pemilihan presiden selesai, orang sudah menduga ceritanya bakal panjang. Saat itu 6 lembaga survei, yang sudah dipercaya masyarakat, dalam hitungan cepatnya memenangkan pasangan Jokowi/JK. Jokowi pun langsung memberikan pidato kemenangan. Kubu Prabowo/Hatta tidak terima dan empat lembaga survei (yang belakangan diketahui tidak kredibel) memenangkan pasangan nomor urut 1. Itu sebabnya Prabowo lantas sujud syukur.
Benar juga, Prabowo terus melakukan perlawanan. Bahkan ketika penghitungan suara secara manual oleh KPU tinggal menyelesaikan satu atau dua propinsi, Prabowo menyatakan mundur dari pilpres dan minta saksi-saksinya meninggalkan ruang penghitungan suara sebagai protes atas tindakan KPU yang dinilai melanggar dan curang untuk memenangkan Jokowi/JK. Tapi penghitungan oleh KPU jalan terus dan hasilnya pasangan Jokowi/JK menjadi capres/cawapres terpilih.
Tidak terima dengan hasil itu Prabowo pun mengajukan gugatan terhadap KPU ke Mahkamah Konstitusi dan meinta agar kemenangan Jokowi/JK dianulir karena menurut perhitungannya suara Prabowo/Hatta lebih banyak dari Jokowi/JK.
Prabowo melaporkan adanya kecurangan yang terstruktur, sistemik dan masif oleh KPU. Ia tidak sendirian, mantan Danjen Kopassus itu didukung oleh tokoh-tokoh politik dari koalisinya seperti Akbar Tanjung dan Aburizal Bakrie (Golkar), Amien Rais (PAN), Anis Mata dan Hidayat Nurwahid (PKS), Fadli Zon (Gerindra). Tidak tampak MS Kaban (PBB) dan Surya Dharma Ali (PPP) yang kini jadi tersangka korupsi. Mahfud MD yang sudah mundur dari ketua tim sukses, tidak tampak meski masih bergabung.
Selama sidang, di luar gedung MK ribuan massa “mengepung” gedung MK, berorasi dan meneriakkan yel-yel anti-KPU. Ketua DPD Gerindra DKI M Taufik bahkan meneriakkan ajakan agar menangkap Ketua KPU Husni Kamil Manik. Setiap hari massa mendatangi gedung KPK dengan orasi-orasi yang menantang.
Sejumlah pengamat menilai saksi-saksi yang diajukan Prabowo/Hatta tidak didukung data yang kuat. Jadi gugatan ke MK hanya akal-akalan saja karena tidak legowo menerima kekalahan.
Apapun itu hak Prabowo, wajar dia nggak enak hati, kecewa bahkan kalap atas kekalahannya, karena keinginan yang sudah terpendam lama ditambah dengan kerugian materi yang tidak sedikit, gagal. Padahal tinggal selangkah lagi. Sebelumnya ia begitu yakin akan menang karena lawannya bukan siapa-siapa, Jokowi bukan tokoh yang sudah dikenal masyarakat seperti Prabowo. Ia muncul tiba-tiba dan hanya dibesarkan oleh pers.
***
Kalau kita mau melihat ke belakang, sikap, tingkah laku, cara-cara menjatuhkan lawan yang dipertontonkan pihak Prabowo sebenarnya sudah menunjukkan kelemahan Prabowo. Dia tidak melihat psikologi masyarakat yang secara naluri akan berpihak kepada orang yang disakiti, teraniaya. Ia lupa dengan taktik Presiden Yudhoyono ketika tampil mencalonkan diri pertama kali yang memposisikan diri sebagai orang teraniaya.
Banyak orang mengira Prabowo banyak “dikipas-kipas” orang sekelilingnya yang tidak punya beban moral apa pun, sebaliknya akan menangguk keuntungan besar jika Prabowo menang. Prabowo mungkintidak menyadari bahwa orang di sekelilingnya terdiri dari tokoh-tokoh yang dalam banyak hal berseberangan dengan rakyat. Di antaranya ada orang kecewa, koruptor, pemburu jabatan bahkan para pemfitnah seperti pengelola tabloid Obor Rakyat.
Lebih seru lagi, kalau di MK kalah pun Prabowo masih akan menempuh cara lain, di antaranya membuat panitia khusus (pansus) di DPR yang saat ini masih dikuasai oleh koalisi besarnya Prabowo. Juga akan menempuh jalur hukum lewat Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Padahal keputusan MK itu final dan mengikat sehingga tidak bisa diganggu gugat. Kemenangan apa pun yang dicapai di luar sidang MK tidak akan mengubah keputusan MK.
Ini memang beda dengan pendukung Jokowi. Nggak usah diceritakan pun orang sudah tahu. Yang paling spektakuler ketika para artis yang dimotori Grup Slank membuat panggung terbuka di Gelora Bung Karno pada penutupan kampanye. Hanya seminggu dipersiapkan ternyata puluhan ribu pengunjung tersedot ke Senayan hingga tampak menyemut. Ratusan artis berbagai bidang seni tampil tanpa bayaran sesenpun. Inilah yang oleh sementara pengamat dianggap sangat berperan dalam menangguk suara untuk Jokowi.
Sidang MK tinggal beberapa hari lagi, semua tegang menanti keputusannya. Entah siapa yang akan sujud syukur setelah keputusan dibacakan nanti, Jokowi atau Prabowo lagi. (*)