Perpustakaan Impian
NOVEMBER 2009. Usai mengikuti satu workshop, saya mau meminjam buku dari perpustakaan pusat
Perpustakaan ini memberikan layanan publik yang beragam. Selain meminjamkan koleksi untuk dibaca, juga ada internet gratis. Perpustakaan juga menyediakan versi digital hukum-hukum di negara itu, agar bisa diakses masyarakat.
Berbagai kegiatan pun dilaksanakan seperti pameran koleksi, temu penulis dan pembaca, dan Kids@Library, yakni program untuk anak-anak seperti mendongeng dan pemutaran film.
Kalau demikian keadaan beberapa perpustakaan di Eropa, Amerika dan Australia, bagaimana di Asia Tenggara? Pada Juni 2014 lalu, rombongan dari IAIN Antasari berkunjung ke kampus International Islamic University, Malaysia, termasuk ke perpustakaannya.
Ternyata, perpustakaan universitas Islam ini sangat bagus dan canggih, sejajar dengan perpustakaan di berbagai universitas Barat yang maju.
Didirikan pada 1983, perpustakaan ini terus berkembang pesat, dengan fasilitas dan pelayanan prima. Koleksinya sudah mencapai 2 juta lebih, dan dikelola oleh 50 pustakawan profesional.
Selain buku, jurnal, majalah dan koran, perpustakaan ini memiliki banyak koleksi microfilm manuskrip Islam. Peminjaman dan pengembalian buku bisa dilakukan oleh pengunjung sendiri melalui mesin khusus.
Kalau kita kembali ke tanah air, dan melihat perpustakaan-perpustakaan yang ada, memang sebagian sudah ada yang bagus, tetapi kebanyakannya masih ketinggalan.
Program otomasi dan digitalisasi belum sepenuhnya jalan. Kerjasama antar perpustakaan, baik dalam hal peminjaman ataupun jaringan data digital, juga masih belum lancar. Sementara itu, minat baca masyarakat kita tampaknya masih rendah.
Tetapi, ini semua tidak berarti bahwa kita tidak bisa berubah. Jika Malaysia bisa, kenapa kita tidak? (*)