Perpustakaan Impian

NOVEMBER 2009. Usai mengikuti satu workshop, saya mau meminjam buku dari perpustakaan pusat

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: Mujiburrahman

NOVEMBER 2009. Usai mengikuti satu workshop, saya mau meminjam buku dari perpustakaan pusat Universitas Leiden. Biasanya, prosedurnya adalah, cari koleksi yang diinginkan di katalog online-nya.

Setelah dapat, kita bisa langsung pesan dengan memasukkan nomor kartu perpustakaan dan PIN, lalu klik ‘pinjam’. Sekitar satu jam kemudian, buku sudah bisa diambil ke perpustakaan.

Ketika saya sampai di meja pelayanan dan menyerahkan kartu kepada pustakawan, dia tertawa kecil. “Anda baru datang ya?”

“Kok Anda tahu?” kata saya.

“Sekarang, sistemnya sudah berubah. Anda tidak perlu lagi kami layani secara langsung. “ katanya.

Ia lantas men-scan kartu saya. Lalu muncullah tulisan di layar: Buku Anda di kotak nomor (sekian). Kotaknya sudah terbuka. Jadi, tinggal diambil.

Di berbagai perguruan tinggi kelas dunia, perpustakaan biasanya adalah tempat yang sangat nyaman. Di situ, orang bisa belajar sepuasnya. Bahkan ada meja belajar khusus untuk mahasiswa pascasarjana.

Komputer umum berjejer, siap digunakan pengunjung. Sejumlah mesin fotokopi tersedia, dan kita harus bisa memfotokopi sendiri. Di Amerika dan Kanada, jika musim ujian, perpustakaan bisa buka 24 jam.

Bagi mereka, perpustakaan adalah jantung universitas. Karena itu wajar jika gedung perpustakaan luas dan bertingkat-tingkat hingga ke bawah tanah, dan koleksinya jutaan, mencakup buku, jurnal, majalah, koran, manuskrip, microfilm, kaset dan lain-lain.

Semuanya disimpan di tempat yang aman. Kini, banyak dokumen yang sudah didigitalisasi, dan jurnal-jurnal ilmiah, hampir semuanya sudah elektronik.

Bagaimana dengan perpustakaan umum? Pada 2011, saya berkesempatan mengunjungi State Library of New South Wales di Australia. Perpustakaan ini didirikan pada 1826 sebagai sumbangan hartawan bernama David Scott Mitchell.

Pada 1869, pengelolaannya diambil alih oleh pemerintah, dan sejak itu menjadi perpustakaan umum. Sekarang, perpustakaan ini menyimpan lebih dari 5 juta koleksi.

Sebagai perpustakaan publik, State Library of New South Wales, tidak hanya didukung oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat. Hingga kini, ada masyarakat yang menyumbang uang atau koleksi tertentu ke perpustakaan.

Sejumlah pekerja di perpustakaan ini ternyata adalah relawan yang tidak digaji. Sebagian mereka adalah orang pensiunan, ibu rumah tangga, atau pekerja paruh waktu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved