Kutukan

Di satu sisi ada Ketua Umum Aburizal Bakrie dan sisi lain ada Wakil Ketua Umum Agung Laksono

Editor: BPost Online

Sebenarnya jabatan ketua umum selama satu, dua atau tiga periode tidak aneh. Megawati dan Wiranto menjadi ketua umum sejak lahirnya PDIP dan Hanura, Yudhoyono dan Surya Paloh mengambil alih jabatan ketua umum Demokrat dan NasDem tanpa gejolak. Mereka adalah pendiri dari partai yang dipiminnya.

Sementara Ical bukan apa-apa. Dia bukan pendiri dan tidak memiliki ‘saham’ dalam pendirian Partai Golkar. Dari hitung-hitungan politik, Ical tidak layak karena dalam pemilu yang lalu perolehan suara Golkar menurun.

Golkar juga gagal mengajukan calon presiden bahkan wapres sekalipun. Majunya Ical dalam munas di Bali tidak ada kaitannya dengan kepentingan rakyat, bahkan untuk kepentingan Golkar pun tidak. Lantas apa?

Mungkin ambisinya untuk menjadi presiden atau wapres belum padam. Dia melihat KMP merupakan gerbong besar yang bisa menghela banyak pendukung sehingga berpeluang untuk menang.

Apalagi jika pilpresnya lewat MPR, ambisi itu tidak sulit diwujudkan. Mengubah pemilihan presiden lewat MPR pernah diwacanakan KMP.

Buat apa dia bela KMP mati-matian kalau tidak ada imbalannya, tidak ada makan siang yang gratis. Tapi harus diingat Ical di KMP bukan bos besar.

Dulu Golkar adalah partai yang solid, partai lain tercerai berai. Sekarang partai lain yang solid, Golkar tercerai berai. Ini namanya kutukan zaman. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved