Mempertahankan Ciri Khas Jambi
SATU lagi spesies yang menjadi ciri khas Jambi terancam penuh. Ikan Ridiangus, yang pernah menjadi
SATU lagi spesies yang menjadi ciri khas Jambi terancam penuh. Ikan Ridiangus, yang pernah menjadi primadona khas daerah setempat, nyaris punah. Saat ini, sulit sekali mendapatkan ikan bewarna perak dengan ujung-ujung sirip bewarna hitam ini. Baik itu saat memancing atau pada saat air pasang.
Padahal belasan tahun lalu, ikan ini menjadi salah satu pemasukan besar bagi Jambi, karena diekspor ke luar negeri. Ironinya, pedagang ikan hias di dalam negeri -termasuk di Jambi- saat ini mengimpor ikan ini untuk memenuhi permintaan Ridiangus yang dijadikan ikan hias. Harganya hampir menyamai ikan Koi.
Ridiangus, yang dalam bahasa Inggris juga dikenal dengan sebutan Silver Shark atau Bala Shark, adalah ikan air tawar yang biasa ada di sungai-sungai di kawasan Sumatera -termasuk di Sungai Batanghari, Malaysia, dan Thailand.
Ikan yang ukurannya bisa mencapai 30 sentimeter ini mendapatkan sebutan “Shark” lantaran bentuk tubuhnya yang ramping dan meruncing seperti ikan hiu. Sementara kebiasaan hidup dan sifatnya sangat bertolak belakang dengan ikan hiu yang ganas. Mengapa pula ia diberi nama Ridik Angus tak banyak yang tahu, kecuali mengasosiasikan angus pada warna hitam di ujung-ujung sirip ikan ini.
Ikan ini biasanya berkelompok. Lebih mudah menemukannya pada perairan (sungai) yang banyak batang terendam, lantaran dari sanalah ia mendapatkan makanannya.
Sayangnya, populasi Ridiangus kini genting. Berdasarkan analisis Tedjo Sukmono, dosen Biologi Unja, survei selama dua tahun hanya menemukan seekor saja ikan ini di areal Hutam Harapan Jambi, di wilayah Sarolangun.
Diperkirakan, banyak faktor yang membuat populasi ikan eksotik ini menurun drastis. Seperti penangkapan besar-besaran (untuk ekspor tanpa diikuti pengembangbiakan), perubahan habitat alaminya, akibat pembangunan yang kerap mengubah bentang alam, ataupun fragmentasi kawasan hutan yang mengubah komposisi ekosistem rawa dalam hutan.
Status populasi yang genting (endangered) ini akan membuat ikan ini terancam punah jika tidak ditanggulangi. Rasanya sudah pada saatnya kita memberi perhatian lebih bagi upaya mempertahankan spesies-spesies (flora dan fauna) yang khas Jambi ini. Upaya Dinas Kelautan dan Perikanan untuk mengembangkan ikan Ridiangus ini di balai pembenihan perlu didukung.
Suatu keberhasilan mengembangbiakkan ikan yang hampir punah ini sangat dimungkinkan, mengingat Jambi dan Indonesia pada umumnya mempunyai sumber daya manusia yang cukup dan mumpuni. Hasil-hasil penelitian dari Balai riset air tawar, misalnya, bisa digunakan bagi keberhasilan penangkaran Ridiangus.
Upaya mempertahankan spesies ciri khas Jambi ini juga perlu dilakukan terhadap spesies yang endangered lainnya. Seperti ikan arwana, ikan belida, ikan sepat mutiara, lais kaca, dan parang- parang bengkok.
Semoga upaya mempertahankan keberadaan ikan Ridiangus ini membawa hasil yang menggembirakan. Kita tentu tidak ingin jika di masa depan, Ridiangus bukan saja sulit didapat, namun sudah dilupakan masyarakat sebagai salah satu ciri khas di Jambi dan kawasan Sumatera lainnya. (*)