Rupanya Bungas Kelakuannya Baik

Kebungasan Nabi saw tak tercela, Kufar Quraish Makkah tidak menemukan titik celah untuk mencelanya.

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

ADA satu ungkapan pada syair maulid Ad-Diba’i; Kaana sallallaahu alihi wassalama ahsanannaasi khalqan wakhuluqan, adalah Nabi SAW sebaik-baik manusia dari segi ciptaannya dan dari segi akhlaknya. Jika diungkapkan dalam bahasa Banjar, rupanya bungas, kelakuannya baik.

Kebungasan Nabi saw tak tercela, Kufar Quraish Makkah tidak menemukan titik celah untuk mencelanya. Imam Tirmidzi dalam bukunya Asy-Sama’il Al-Muhammadiyyah, mengumpulkan sejumlah riwayat tentang sifat-sifat Nabi, yang paling banyak bertutur adalah Anas bin Malik ra; lebih 20 tahun ia menjadi pelayan Nabi saw, ia berkata Kaana ajwadan-naasi, wa ajmalan naasi, wa asyja’an-naas, beliau paling dermawan, paling tampan, dan paling pemberani di antara manusia”(HR Bukhari Muslim).

Masih tutur Anas bin Malik, kulit dan tubuhnya selalu berbau harum melebihi misk dan ambar yang pernah ia cium, keringatnya bagaikan kilau mutiara, langkahnya tegap, telapak tangannya lembut melebihi halusnya sutera yang pernah ia pegang. Postur tubuhnya sedang, tidak tinggi sehingga orang tidak nyaman berbicara dengannya, ataupun pendek sehingga orang terpaksa menunduk bila bicara dengannya. Fisiknya ideal, warna kulitnya kecoklatan, rambutnya tidak keriting dan tidak pula lurus.

Al-Barra’ bin Azib berkata pula, “aku belum pernah melihat orang bila rambutnya menjuntai ke telinga dan memakai pakaian merah yang lebih tampan dari pada Rasulullah. Riwayat lain mengatakan Nabi SAW adalah laki-laki Arab yang tampan. Akhlak perilakunya menyenangkan. Ketika Sa’ad bin Hisam bertanya kepada Aisyah ra tentang akhlak Rasulullah, ia menjawab, “akhlak beliau adalah Alquran, apakah kamu tidak membaca ayat yang berbunyi, wa inaka la’ala khuluqin ‘azhiim, sesungguhnya kamu di atas budi pekerti yang agung”(HR Ahmad).

Beliau tidak pernah menolak makanan yang disuguhkan, tidak pernah mencelanya, tidak mencari-cari yang tidak ada, dan tidak pernah menghardik yang bukan-bukan. Sabdanya, “sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya dan aku terbaik terhadap keluarga di antara kalian”(HR Ibnu Majah).

Kaana shallallahu alahi wasallam yattasifu bi mahaasinil-akhlaqi bimaa tadhiqu bihi ‘an kitaabatihi buthuunul-auraaq; adalah Nabi saw memiliki segala sifat yang baik-baik, sempit lembaran-lembaran kertas untuk melukiskannya.” Demikian terjemahan satu ungkapan syair maulid Simthud-durar, jauh sekali dari apa digambarkan oleh para kartunis Barat di Perancis.

Akhir-akhir ini dunia disibukkan dengan berita terbunuhnya 12 orang korban (termasuk pemimpin redaksi majalah dan empat orang kartunis) mingguan Charlie Hebdo, Perancis, yang mengolok-olok sosok Nabi Muhammad saw; dengan alasan kebebasan berpendapat. (Mirza Satria Buana, BPost, 12/1/2015) Konon, penembak sesaat melakukan aksinya berteriak, Allah Akbar, kami membalas atas penghinaan terhadap Nabi. (Mujiburrahman, BPost, 12/1/2015).

Hari-hari berikutnya masih terjadi penumpahan darah. Peristiwa ini membuat Perancis berkabung nasional, sekitar 75 ribu orang berkumpul di Place de la Republique; belasungkawa dan kecaman datang dari berbagai penjuru dunia. Minoritas muslim di Perancis dan negara Eropa lainnya kena getahnya.

Tindakan penghinaan kendati dengan alasan kebebasan expresi perlu disesalkan, jika mencederai hak orang atau golongan lain. Penghina akan merasakan pahitnya hinaan jika terjadi sebaliknya terhadap diri mereka. Namun demikian, tindakan pembunuhan bukanlah solusi yang benar. Bukankah Nabi saw semasa hidupnya pernah dihina, dituduh pembohong, peramal, pendongeng, penyihir, penyair dan bahkan dituduh gila.

Nabi SAW tidak menggubris tuduhan mereka, tidak marah, tetapi memaafkan dan mendoakan orang yang menghinanya. Kemulian Nabi SAW tidak pernah berkurang sedikitpun dengan semua tuduhan itu. Ketika Nabi diusir oleh penduduk Taif, malaikat Jibril as menawarkan akan mengangkat sebuah gunung besar, kemudian menjatuhkannya kepada mereka. Beliau mencegahnya, “tidak”.

Bahkan beliau berdoa, allahumahdi qaumii fa-innhum laa ya’lamuun; Ya Allahtunjukilah mereka karena mereka tidak tahu, aku masih mengharapkan dari keturunan mereka, ada yang mau menyebut nama Allah.” Pada tahun 8 Hijryiah, terjadi Fathu-Makkah, Nabi Muhammad saw dapat membebaskan Makkah dari berhala dan kesyirikan. Para pembesarnya yang pernah menghina beliau menanti-nanti apakah yang keluar dari mulutnya? Ternyata, “salam,” (peace, damai yang dirindukan oleh siapapun). (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved