Nilai Satu Kebaikan
Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
Oleh: KH Husin Naparin
“SESUNGGUHNYA agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran 19)
Semua para nabi dan rasul membawa Islam, terakhir dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Salah satu pesan yang dibawa Islam ialah memperingatkan manusia akan adanya akhirat dan mengajak mereka untuk menyiapkan diri menghadapinya.
Di situlah nantinya manusia menjalani hidup yang hakiki dan kehidupan yang sebenarnya. Nabi SAW mengajarkan aktivitas hidup di dunia sekarang yang disebut ‘kerja’ bukan hanya untuk mencapai kenyamanan hidup dunia yang berakibat lupa akhirat, tidak; bukan pula hanya mencapai kenyamanan akhirat lalu lupa dunia, juga tidak; tetapi kerja duniawi sekaligus sebagai persiapan ukhrawi.
Di akhirat, Allah SWT memperlakukan manusia beriman atas tiga martabat yaitu golongan yang kemaafan (ahlul-afwi), golongan yang mendapat keampunan (ahlul-maghfirah), dan golongan yang mendapat rahmat (ahlur-rahmah). Ahlul-afwi adalah orang-orang yang masuk surga tanpa dihisab, mereka ini dipimpin oleh Abubakar ash-shiddiq.
Ahlul-maghfirah adalah orang-orang beriman yang mempunyai kesalahan dan meninggal tanpa taubat. Tetapi mereka menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sehingga cerahlah wajah mereka. Setelah mereka memperhatikan catatan amal itu, ternyata tercatat banyak sekali dosa.
Mereka pun merasa yakin akan dimasukan ke neraka. Namun Allah SWT berbisik, “kesalahan kalian telah Aku tutupi di dunia, hari ini kalian Aku ampuni, dan Aku tidak menghiraukan lagi dosa-dosa kalian itu.”
Ahlur-rahmah adalah mereka yang mempunyai banyak dosa, lalu Allah SWT beri rahmat sebagai imbalan akan perbuatan-perbuatan baik mereka di dunia. Hisab dan timbangan pun ditegakkan.
Ada orang yang hanya memiliki satu kebaikan melebihi kejahatannya, orang ini pasti masuk surga. Allah SWT berfirman: Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. (QS. Al-Qari’ah 6-7).
Sebaliknya ada orang yang memiliki hanya satu kejahatan melebihi kebaikannya, orang ini pastilah masuk neraka. Allah SWT berfirman: Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (QS. Al-Qari’ah 8-9).
Barangsiapa kebaikannya sama dengan kejahatannya, nasibnya ditentukan oleh Allah SWT. Tersebutlah seseorang hanya memiliki satu kebaikan, selebihnya dosa belaka, ia yakin dirinya akan masuk neraka.
Ada pula seseorang, ia kekurangan satu kebaikan. Ia berkata, “Ah, jika sekiranya ada orang yang mau memberikan satu kebaikan kepadaku niscaya aku masuk surga.” Ia pun mencari-cari adakah orang yang mau memberikan satu kebaikan kepadanya.
Mendengar hal ini, orang yang hanya memiliki satu kebaikan tadi bersedia memberikan kebaikannya kepada orang itu. Ia begumam, “satu kebaikan yang aku miliki tidak mampu membawaku ke surga karena banyaknya kejahatanku; biarlah kebaikanku yang satu ini kuberikan kepada orang yang kekurangan satu kebaikan itu, dengan demikian ia bisa masuk surga.” Alhasil, satu kebaikan diberikan kepada orang itu, sehingga ia masuk surga.
Melihat hal itu Allah SWT berfirman, “tariklah tangan saudaramu yang memberimu satu kebaikan dan masuklah kamu berdua dalam surga.” (Anas Ismail Abu Daud, Dalil As-Sa’ilin, hal.44). pesan riwayat ini, jangan meremehkan satu kebaikan. Kerjakanlah jika ada kemampuan dan kesempatan. (*)