Nilai Ismul A’zham
Berhala-berhala itu pada setiap tahunnya terus bertambah sesuai dakwaan mereka; ada tuhan kebaikan dan kejahatan,
Oleh: KH Husin Naparin
PADA zaman dahulu, di Irak terdapat sebuah negara bernama Ninawa, di tepi sungai Dajlah, Mesopotamia atau dekat kota Mosul sekarang. Negeri ini dikuasai oleh bangsa Persia beratus-ratus tahun lamanya. Penduduknya hidup dalam kebodohan dan kegelapan, berpaling dari menyembah Allah SWT kepada penyembahan berhala yang mereka anggap sebagai Tuhan.
Berhala-berhala itu pada setiap tahunnya terus bertambah sesuai dakwaan mereka; ada tuhan kebaikan dan kejahatan, ada tuhan cahaya (terang) dan gelap, ada tuhan kesuburan, tuhan kemarau dan kekeringan.
Para penguasa memanfaatkan kebodohan umat, mengaku bahwa mereka adalah keturunan (anak) Tuhan, sehingga harus dihormati dan disembah. Rakyat hidup dalam kemiskinan karena hasil usaha mereka dipersembahkan kepada berhala dan keturunan tuhan, jika tidak mereka akan mendapat murka.
Diutuslah seorang nabi yaitu Yunus bin Matta. Ia berusaha memberikan pemahaman kepada mereka, bahwa Tuhan adalah Allah pencipta alam semesta dan pemberi rezeki, bukan berhala-berhala itu.
Namun mereka tidak mempercayai, karena Tuhan yang diserukan itu tidak bisa dilihat. Suatu ketika pernah Nabi Yunus AS menyaksikan seorang perempuan menangis tidak bisa memberi makan anak-anaknya karena bahan makanan dibawa oleh suaminya untuk dipersembahkan kepada berhala.
Nabi Yunus AS berusaha menghalanginya namun diusir secara kasar, ia hanya bisa berdoa semoga mereka mendapat hidayah Allah.
Sudah 33 tahun Nabi Yunus AS berdakwah, hanya dua orang yang beriman, itupun secara sembunyi-sembunyi. Nabi Yunus AS. berdoa agar umat ini dihancurkan saja seperti kaum kafir sebelumnya.
Datanglah Jibril AS mempertanyakan, mengapa Nabi Yunus AS sampai berdoa demikian? Ia menjawab, karena keimanan sudah tidak bisa diharapkan lagi. Jibril as meminta Yunus as untuk bersabar 40 hari lagi, jika mereka tidak beriman maka azab akan diturunkan. Nabi Yunus AS kembali berdakwah, tetapi Nabi Yunus AS ditangkap dan dibawa ke hadapan raja untuk diadili.
Raja bertanya, “Siapakah tuhanmu?”
Yunus menjawab, “Allah, pencipta dan pemberi rezeki”.
Raja berkata lagi, “Bukankah berhala-berhala itu?”
Nabi Yunus AS menjawab, “Bukan, karena berhala-berhala itu menerima sesembahan dan rezeki sedangkan Tuhanku adalah pemberi rezeki”.
Raja berkata pula, “Mampukah Tuhanmu membelamu dari siksaku?”
Nabi Yunus AS menjawab, “Mampu, kalau ia menghendaki”.