Nilai Ismul A’zham
Berhala-berhala itu pada setiap tahunnya terus bertambah sesuai dakwaan mereka; ada tuhan kebaikan dan kejahatan,
Raja pun memerintahkan petugas untuk menyiksa Nabi Yunus AS sehingga badannya koyak, darahnya mengucur dan ia pingsan.
Orang-orang tertawa mengolok-oloknya karena Tuhan Nabi Yunus AS tidak mampu mempertahankannya dari siksa raja. Setelah itu, mereka pun pulang ke tempat pekerjaan mereka masing-masing.
Di tengah malam Nabi Yunus AS diselamatkan oleh dua orang pengikutnya. Ia dibawa keluar kota untuk diobati. Adapun rakyat mengira jasad Nabi Yunus AS lenyap dihancurkan oleh berhala. Setelah Nabi Yunus as sembuh, ia kembali berdakwah sampai malam ke-40. Pada malam itu, Nabi Yunus AS meninggalkan negeri Ninawa karena yakin akan turunnya azab.
Betul saja, besoknya muncullah awan hitam di atas negeri itu, nyala api sambar menyambar kesana kemari dan bangun-bangunan menjadi hitam. Semua penduduk keluar rumah mencari Nabi Yunus AS untuk bertaubat; tetapi mereka tidak menemukannya.
Dua pengikut Nabi Yunus AS mengajak umat untuk berdoa dan bertaubat dengan ucapan, Yaa hayyu yaa qayyuum, hiina laa hayya ghairuka, laa ilaha illa anta wa laa ilaha ghairuka. Awan pekat dan angin panas ternyata menghilang, rupanya taubat mereka diterima Allah SWT.
Demikian satu-satunya bangsa yang selamat dari siksa Allah, sebagaimana Dia abadikan dalam firman-Nya yang artinya “dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu),beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu” (QS Yunus: 98).
Diterimanya taubat mereka, karena mereka memanggil nama Allah yaitu Al-Hayyu dan Al-Qayyum. Kedua nama inilah yang disebut dengan ismul a’zham (nama yang paling agung), sebagaimana riwayat Imam Ahmad. Terakhir, doa ini disingkat menjadi Yaa Hayyu Yaa Qayyum Laa ilaha illa Anta yang dibaca sebanyak 40 kali antara adzan dan iqamat salat Subuh (I’anah ath-Thalibin, Juz I, h. 286).
Negeri ini perlu banyak orang yang pandai menyeru Allah lewat ismul a’zham (nama-Nya yang Agung ini); diharapkan terlepas dari segala macam malapetaka dan problema. (*)