Raja-raja Bola
SIAPA yang paling ribut setelah keluarnya sanksi FIFA terhadap PSSI? Tidak lain adalah para pahlawan kesiangan.
Selama ini rakyat hanya disuguhi petandingan yang tidakberdasar sportivitas tapi diwarnai kebohongan, seperti ‘sepakbola gajah’ dan pengaturan skor.
Pada era 1970-an, striker PSIS Budiman dihukum penjara karena menerima suap. Heran, kok bisa penyuapan itu terbongkar, padahal pada era itu komunikasi belum seperti sekarang. Kuncinya hanya ada pada pengurus, ada niat untuk mengungkap atau tidak.
Pengaturan skor sekarang bukan pekerjaan penjudi lokal tapi internasional, jadi lebih transparan. Baru saja tim manajer sepak bola Timor Leste di SEA Games dipecat karena suap. Miliaran duit rakyat tersedot lewat karcis pertandingan yang berbau kebohongan.
Sejarah PSSI cukup panjang, lebih tua dari usia republik. PSSI berdiri pada 1930 lewat semangat kebangsan yang kental. Tapi kini semangat itu luntur, PSSI justru asing di negeri sendiri.
Kita pernah berjaya di kancah Asia atau Asia Tenggara, padahal waktu itu PSSI masih dikelola secara amatir. Pemain yang menganggur direkrut oleh perusahaan atau PNS agar bisa hidup.
Sekarang banyak pemain terlambat gajinya, bahkan ada pemain asing yang mati karena sakit dan tak punya uang berobat.
Pada masanya, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persib Bandung, PSIS Semarang, PSMS Medan atau PSM Makassar adalah perserikatan yang menonjol. Sejak era 1980- an perserikatan lebur bersama klub dalam liga profesional. Tapi sejak itu pula prestasi anjlok. Yang bikin kisruh selalu pengurus yang enggan diganti.
Ibarat membunuh tikus, kalau sarangnya sudah penuh bakar saja biar lenyap sampai kutu-kutunya. Itu kira-kira yang jadi pemikiran pemerintah. Apa boleh buat, mulai dari bawah lagi.
Ini saat yang tepat untuk membenahi sepak bola, mumpung ada momen besar dari ‘runtuhnya’ kerajaan FIFA. Raja-raja bola termasuk para penjudinya, tukang ngatur skor sampai tukang catut, harus sadar. (*)