Lailatul Qadr
Dinamakan lailatul qadr (malam kemuliaan), karena pada malam tersebut Allah menentukan segala sesuatu.
Oleh: KH Husin Naparin
LAILATULKADAR, malam penurunan wahyu Tuhan (yakni pada malam gasal bulan puasa sesudah tanggal 20), yang apabila seseorang beramal kebaikan pada malam itu, pahalanya akan dilipatgandakan; malam kemuliaan,” demikian tulis Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, cet 3, 1990 hal 487.
Lailatul Qadr terdiri dari dua suku kata, lailah dan al-qadr. Lailah berarti malam, yaitu mulai dari terbenam matahari sampai terbit fajar. Sedang kata al-qadr berasal dari kata: qadara/qadira-yaqduru/yaqdaru-qadran wa qudratan maqdiratan, yang berarti kuasa/mampu, kadar banyaknya sesuatu untung, nasib, kekayaan, dan kemuliaan. Tetapi lailatul qadr sering di artikan malam mulia (Al-qur’an dan Tafsirnya, Kemenag RI, jilid 10 hal 730).
Dinamakan lailatul qadr (malam kemuliaan), karena pada malam tersebut Allah menentukan segala sesuatu. Ada yang menafsirkan Allah menetapkan perjalanan hidup makhluk selama setahun; ada pula yang menafsirkan Allah mengatur strategi Nabi Muhammad mengajak manusia kepada kebajikan.
Ada pula yang menafsirkan karena banyaknya malaikat turun pada malam itu, sehingga bumi menjadi sempit; yang jelas pada malam itu Allah menurunkan Alquran sehingga disebut malam kemuliaan. Inilah keistimewaan lailatul qadr disamping keistimewaan lainnya, seperti tersebut dalam surah Al-Qadr.
Pada lailatul qadr nutfah orang kafir tidak akan menjadi janin. Pada malam itu tersingkap banyak keajaiban alam malakut. Pada malam itu suasana tenang dan sejuk menyenangkan, besok siangnya matahari terbit dengan cahaya yang redup karena kalah dengan cahaya malaikat yang turun naik sepanjang malam.
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan terjadinya lailatul qadr mencapai empat puluh pendapat. Imam Syafi’i cenderung berpendapat terjadi pada malam ke duapuluh satu atau ke duapuluh tiga.
Sedangkan Jumhur Ulama berpendapat malam ke duapuluh tujuh; sementara sebagian yang lain berpendapat lailatul-qadr berpindah-pindah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
Tidak ditentukan secara pasti lailatul qadr, agar umat beriman menyemarakkan semua malam-malam Ramadan dengan ibadah. Dalam menyemarakkan lailatul-qadr, ada tiga peringkat; Pertama: menyemarakkannya semalam suntuk dengan berbagai ibadah seperti salat, membaca Alquran dan banyak berdoa, termasuk doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah. Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul-‘afwa fa’fu ‘anni.” Kedua, sebagian besar malam dengan ibadah tersebut di atas; dan ketiga, menyemarakkannya minimal salat Isya berjemaah kemudian bertekad untuk salat Subuh berjemaah pula. (At-Takrirat As-Sadidah, Hasan Alkaaf, hal. 446)
Banyak di antara umat Islam yang terjebak pada masalah tanda lailatul qadr. Sebenarnya yang terpenting adalah beramal bukan mencari-cari tanda. Kepada anda yang menyaksikan suatu keajaiban dan anda yakini itu adalah lailatul qadr, dianjurkan untuk merahasiakannya. Kita tidak tahu, jangan-jangan itu adalah jebakan iblis.
Diceritakan suatu malam Ramadan, Syekh Abdul Qadir Jailani keluar rumahnya, lalu alam menjadi terang menderang dan muncul suara, “Wahai Abdul Qadir aku Tuhanmu, aku halalkan buatmu hal-hal yang haram bagi orang lain. Syekh Abdul Qadir tercenung, namun kemudian ia sadar lalu berkata “Pergi dariku wahai iblis laknattullah.”
Tiba-tiba saja alam menjadi gelap dan muncul lagi suara, “Wahai Abdul Qadir kau selamat dari godaanku, telah aku sesatkan banyak ahli tariqat dengan caraku ini.” Murid-murid Syekh bertanya, “dari mana guru tahu bahwa itu adalah iblis.” Ia menjawab dari ucapannya, “Aku halalkan buatmu segala yang haram bagi orang lain, karena apa saja yang Allah haramkan, haram buat semua.” (Syarh Hikam, Syekh Zarruq). (*)