Di Balik Aksi Pemadam
Konon Banjarmasin adalah kota yang memiliki unit pemadam kebakaran terbanyak di negeri ini. Tiap kelurahan, bahkan hingga ke tingkat RT
Oleh: Mujiburrahman
“KEBAKARAN di Banjarmasin seperti orang minum obat,” kata seorang warga. Maksudnya, hinga tiga kali dalam sehari. Mungkin karena musim panas, api gampang sekali menjalar. Mungkin karena galau manusia kota sudah sampai ke ubun-ubun sehingga orang gampang lalai akan bahaya api. Mungkin pula karena percikan arus pendek listrik dari kabel yang disambung secara seenaknya. Semuanya mungkin.
Konon Banjarmasin adalah kota yang memiliki unit pemadam kebakaran terbanyak di negeri ini. Tiap kelurahan, bahkan hingga ke tingkat RT (rukun tetangga), ada unit pemadam.
Alat pemadam kebakaran yang dimiliki tiap unit bermacam-macam. Ada yang memiliki mobil khusus, lengkap dengan tangki air dan mesin pompanya. Tetapi kebanyakan unit itu hanya memiliki mesin pompa, yang dibawa mobil biasa.
Ketika kabar kebakaran tersiar melalui berbagai jalur komunikasi, gegap gempitalah kota ini. Sirene mobil pemadam meraung-raung menuju lokasi dengan kecepatan tinggi.
Jalanan macet dan suasana terasa mencekam. Masing-masing unit berlomba tiba di lokasi lebih awal. Tak ketinggalan aksi orang-orang bersepeda motor yang mengikuti di belakang. Satu iring-iringan kendaraan laksana pawai akbar.
Namun, gairah menggebu untuk memadamkan api itu tidak selalu sesuai tuntutan keadaan di lokasi kejadian. Kadang di lokasi, air sulit didapatkan, sementara unit pemadam yang datang tidak membawa air sendiri.
Bisa pula terjadi, jalan menuju lokasi amat sempit, sehingga hanya beberapa unit yang bisa masuk, sementara yang lain akhirnya hanya bisa menyaksikan dan menunggu.
Tak jarang, dalam situasi panik kebakaran itu, ada orang-orang yang memancing di air keruh, mencari kesempatan dalam kesempitan. Pura-pura ingin membantu menghalau api agar tidak menjalar ke rumah tetangga, ternyata dengan gesit mereka mengambil harta benda di rumah orang.
Tidak jelas siapa mereka itu, apakah termasuk personel unit pemadam sendiri ataukah orang-orang yang menyusup.
Karena itu, wajar jika ada yang bertanya, adakah pengelolaan dan penertiban pemadam kebakaran di kota ini? Adakah pembinaan diberikan untuk para personel pemadam itu?
Adakah pembagian tugas, wilayah dan tanggung jawab yang disepakati oleh semua unit pemadam di bawah koordinasi pemerintah kota? Jika memang sudah ada, mengapa masih terkesan kurang tertib atau malah semerawut?
Boleh jadi, kebakaran dan aksi pemadam itu merupakan gejala dalam skala kecil yang mencerminkan keadaan Kota Banjarmasin dalamskala besar. Kota yang berpenduduk resmi sekitar 800 ribu orang ini (dalam kenyataan mungkin mencapai 1 juta), menyimpan banyak kebaikan sekaligus keburukan, kesejahteraan sekaligus kemelaratan. Ada ketertiban, tetapi masih banyak pula kesemerawutan.
Sudah maklum, kemiskinan dan pengangguran di kota ini cukup memprihatinkan. Seorang pejabat Kota mengatakan, sekitar 10 ribu kepala keluarga tercatat hidup di bawah garis kemiskinan.
Jumlah persisnya memang masih dipersoalkan, tetapi yang pasti jumlah mereka banyak. Ada yang tua, tetapi kebanyakan anak muda. Sebagian dari mereka ada yang bergabung unit pemadam kebakaran.