Mereka yang Eksis

Remaja kita ini tidak salah. Dia memahami suatu istilah tidak dengan definisi, tetapi contoh. Kadang-kadang, definisi terlalu abstrak, sementara

Editor: BPost Online

Oleh: Mujiburrahman

“DIA memang eksis, tapi narsis!” kata seorang anak remaja, menyebut salah seorang temannya.

Para orangtua mungkin agak bingung mendengar istilah serba ‘sis’ itu. Apa gerangan maksudnya?

Namun boleh jadi, remaja yang menyebut kata ‘eksis’ dan ‘narsis’ tadi juga tidak bisa menjelaskan makna dua istilah itu. Yang dia tahu, seseorang dianggap ‘eksis’ kalau tampil di media sosial, lalu mendapat pujian, atau di depan umum lalu mendapat tepuk tangan.

Sementara orang dianggap ‘narsis’ kalau suka memamerkan kesuksesan dirinya atau sering menyebarkan foto diri (selfie) di media sosial.

Remaja kita ini tidak salah. Dia memahami suatu istilah tidak dengan definisi, tetapi contoh. Kadang-kadang, definisi terlalu abstrak, sementara contoh lebih terasa nyata.

Bagi banyak orang, hidup rutin sehari-hari yang terus dijalani, tak sempat lagi untuk direnungkan hingga ke tingkat abstraksi. Hal ini lebih terasa lagi bagi mereka yang masih berjuang memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar belaka.

Sebenarnya setiap orang perlu eksis, tua ataupun muda, miskin atau kaya. Kata ‘eksis’ adalah serapan dari bahasa Inggris exist artinya ada atau mengada.

Dalam filsafat, terdapat aliran eksistensialisme yang menganggap eksistensi mendahului esensi, keberadaan mendahului isi, wujud mendahului hakikat. Adapun hakikat, dibentuk oleh perjalanan eksistensi, proses mengada hingga akhir hayat.

Dorongan untuk eksis itu, dalam psikologi disebut ‘aktualisasi diri’. Aktualisasi artinya membuat yang tersembunyi (potensi) menjadi nyata.

Tidak ada seorang pun manusia yang tidak memiliki kelebihan sama sekali, sebagaimana tidak ada manusia sempurna tanpa kekurangan sedikit pun. Kelebihan itulah yang perlu digali dan diaktualkan, agar manusia merasa memiliki sesuatu yang dibanggakan.

Salah satu bukti bahwa setiap manusia ingin eksis adalah, dia senang menerima pujian.

Pujian itu bisa muncul sebagai tanggapan terhadap tingkah laku, ucapan, tulisan, penampilan, prestasi, jabatan atau kekayaan yang dimilikinya.

Pujian tulus yang diberikan orang lain padanya, adalah suatu pengakuan bahwa dia itu ada dan berharga. Intinya, dalam hidup bersama, manusia ingin diakui dan dihargai.

Dengan demikian, sesuatu yang membuat seseorang merasa eksis erat hubungannya dengan nilai-nilai yang dipegang dalam suatu masyarakat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved