Mereka yang Eksis
Remaja kita ini tidak salah. Dia memahami suatu istilah tidak dengan definisi, tetapi contoh. Kadang-kadang, definisi terlalu abstrak, sementara
Manakah yang lebih dihargai masyarakat: kekayaan, kekuasaan, dan penampilan, ataukah ilmu, kejujuran, kesederhanaan dan perbuatan baik?
Tentu saja, masyarakat itu beragam. Tetapi, manakah di antara keduanya yang lebih menonjol?
Saya kira, yang lebih dominan saat ini adalah pemujaan kekayaan, kekuasaan dan penampilan. Orang berburu harta dan kuasa dengan segala cara, karena dengan dua hal itu, dia akan dipuja bagai dewa, dan bisa tampil penuh gaya.
Masyarakat seolah tak peduli lagi, apakah dia mendapatkan harta dan kuasa itu dengan tipu muslihat dan kekejaman, ataukah dengan jujur dan berperikemanusiaan.
Hasrat untuk berkuasa dan dipuja itu rupanya juga menjalar ke relung-relung pikiran sebagian aktivis mahasiswa. Seperti para orangtua, mereka juga berebut ingin jadi ketua.
Bahkan ada yang tidak mau disebut ‘ketua’. Maunya disebut ‘presiden’ dan ‘menteri’. Acara pelantikan pengurus juga mirip pelantikan pejabat pemerintah. Jadi, yang dibanggakan justru gelar dan kulitnya, bukan isinya.
Sebagai anak muda yang masih mencari jati diri, kita mungkin dapat memahami hasrat akan kuasa semacam itu. Tetapi kita juga patut khawatir, jika hasrat tersebut tanpa dibarengi kesadaran akan tanggung jawab, wawasan ilmu dan keterampilan yang wajib dimiliki.
Jika mereka hanya pandai bergaya dan bangga akan gelar, bagaimanakah kelak jika menjadi pemimpin di masyarakat?
Di sinilah manusia dituntut untuk objektif, menilai diri apa adanya. Orang yang sombong atau rendah diri, keduanya sama-sama tidak objektif. Orang sombong menilai diri terlalu besar, dan orang rendah diri menilai diri terlalu kecil.
Orang yang rendah hati, adalah yang objektif, yang berusaha meletakkan diri sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Inilah yang disebut tawâdhu’ dalam tradisi Sufi.
Menjadi objektif, rendah hati, tentu tidak mudah. Ia menuntut suatu perjuangan. Secara alamiah, manusia cenderung mencintai dirinya sendiri. Sebagai terusan dari cinta diri itu adalah cinta kepada keluarga dan kelompok dari mana dia berasal.
Agar cinta itu tidak menjadi buta, maka mencintai diri harus berarti mengenali diri, merawat dan menumbuhkannya sesuai keadaan yang sebenarnya.
Inilah perjuangan eksistensial manusia sebagai makhluk yang belum selesai, yang terus-menerus menjadi, yang ada sekaligus mengada. (*)