Meraih Manfaat Debat

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) Kalsel menggelar debat calon gubernur Pilkada Kalimantan Selatan 2015, di sebuah hotel di Banjarmasin,

Editor: BPost Online

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) Kalsel menggelar debat calon gubernur Pilkada Kalimantan Selatan 2015, di sebuah hotel di Banjarmasin, Sabtu (7/11/2015) malam. Senja harinya, di tempat terpisah, KPU Kota Banjarmasin menggelar debat calon Wali Kota. Kebetulan, jumlah calon gubernur dan calon wali kota sama, tiga orang.

Debat calon pemimpin daerah ini merupakan satu di antara tahapan proses pemilihan umum kepala daerah yang akan dihelat pada 9 Desember 2015. Sebagai bagian dari ritus politik, momentum ini seharusnya penting dan menarik bagi masyarakat sebagai bagian integral dalam proses demokrasi.

Debat berlangsung terbuka. Setidaknya, disiarkan langsung melalui televisi dan radio. Tempat debat pun terbuka bagi mereka yang diundang. Debat pertama, menampilkan calon-calon gubernur dan calon-calon wali kota dan calon-calon bupati. Debat berikut menampilkan calon wakil-wakilnya, dan debat terakhir menghadirkan pasangan-pasangan calon pemimpin daerah itu.

Penyelenggara pemilu berharap, momentum ini bisa menambah pengenalan dan pengetahuan publik terhadap calon-calon pemimpin mereka. Dengan tambahan bekal “referensi” debat ini diharapkan publik bisa menentukan pilihannya secara tepat.

Pada dua debat tersebut, baik kandidat gubernur maupun calon wali kota, tampil dengan gaya dan karakter masing-masing. Ada yang tampak siap dan rileks saja, ada juga yang terlihat gugup dan berusaha menutupi kegugupannya dengan berbagai cara.

Terlepas dari apa pun penilaian publik, debat politik adalah hal yang lumrah dalam sebuah kehidupan demokrasi. Debat seharusnya memang diniatkan sebagai wahana pendidikan politik masyarakat.

Ia mengajarkan dan membentuk sikap serta perilaku politik masyarakat untuk semakin rasional, mau menerima perbedaan, dan berpartisipasi atas dasar kesadaran bersama untuk membangun bangsa, bukan karena paksaan.

Debat politik, juga harus mampu mewujudkan kehidupan masyarakat yang semakin sadar akan hak dan kewajibannya, tanggung jawab moral, tertib sosial serta membentuk perilaku politik yang santun, kooperatif, saling menghormati dan tidak anarkis.

Di negara-negara demokrasi, debat politik adalah sesuatu hal yang biasa. Hal ini dapat dimengerti, karena debat politik selama ini hanya ada pada lingkungan masyarakat kampus dan cendekia, sedangkan pada masyarakat level bawah (marginal) baru terbiasa “debat kusir”.

Melalui debat politik di hadapan publik, calon-calon pemimpin daerah dapat menampilkan dirinya sebagai orang yang layak dipilih. Publik pun bisa menakar seberapa cerdas calon pemimpin mereka dalam beradu argumen dan nalarnya.

Tentu saja penampilan mereka melalui debat di hadapan publik tidak mutlak jadi ukuran. Apalagi jika yang tampil itu adalah para politisi, karena memang di forum retorika seperti itulah mereka dibentuk dan hidup.

Debat antarcalon pemimpin, tentu sangat bermanfaat bagi kehidupan demokrasi, tapi bukan yang paling menentukan. Piawai berdebat, belum tentu bisa memimpin. Demikian pula sebaliknya.

Saat ini, yang paling dibutuhkan adalah orang-orang jujur, bersih, kreatif, dan visioner untuk memimpin daerah dan bangsa ini. Bukan orang yang cuma pintar ngomong atau yang menganggap segalanya bisa dibeli. Jadi, jangan salah pilih! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved