Takdir, Kalah dan Menang

Bahasa Inggrisnya lancar dengan pengucapan nyaris sempurna seperti penutur asli. Dia berbicara dengan semangat, diselingi lelucon dan anekdot.

Editor: BPost Online

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Bahasa Inggrisnya lancar dengan pengucapan nyaris sempurna seperti penutur asli. Dia berbicara dengan semangat, diselingi lelucon dan anekdot. Dia mungkin satu di antara perempuan Indonesia yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi ketika berbicara di hadapan para sarjana Eropa.

Dialah Amalia Alisjahbana, puteri Alm. Sutan Takdir Alisjahbana, sastrawan dan filosof Indonesia. Minggu lalu, tepatnya Kamis, 5 November 2015, dia berbicara di KITLV, Universitas Leiden, tentang makna novel karya ayahnya, Kalah dan Menang, dalam konteks masyarakat dunia saat ini. Karya ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, dan mendapatkan penghargaan dari Kekaisaran Jepang.

“Kami bangsa Indonesia adalah bangsa yang amat majemuk, tetapi kami bisa bersatu. Ketika akhir 1990-an Soeharto jatuh, ekonomi ambruk dan konflik berdarah terjadi di beberapa daerah, banyak orang mengira, Indonesia akan bubar seperti Uni Soviet. Ternyata tidak. Indonesia, juga tidak mengalami perpecahan dan perang seperti di Timur Tengah saat ini,” katanya.

Ia melanjutkan. “Mengapa? Karena persatuan Indonesia yang majemuk itu memang telah dipikirkan masak-masak. Hasilnya adalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang menyatakan, kami satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Di antara ketiganya, bahasalah yang paling menyatukan. Di sinilah peran ayah saya, Sutan Takdir, yang tergambar dalam tokoh Hidayat di novel ini.”

“Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, yang telah menjadi bahasa tutur lintas etnis di Nusantara. Ayah saya ingin agar bahasa Indonesia menjadi modern. Ia mulai menyusun tata bahasa dan kamus bahasa Indonesia. Seperti tergambar dalam peran Hidayat, dia kadang bertanya kepada dokter, insinyur dan lain-lain, untuk menanyakan terjemah istilah-istilah di bidang mereka,” kata Amalia.

Selain itu, Amalia menjelaskan, pergumulan tokoh-tokoh dalam novel ini menunjukkan bagaimana manusia menatap masa depan dalam bingkai kemanusiaan universal. Inilah yang semula ditekankan ayahnya dalam Polemik Kebudayaan 1930-an. Indonesia adalah masa depan, dan masa lalu adalah pra-Indonesia. Budaya Indonesia harus belajar dari humanisme, sains dan teknologi Barat.

Amalia kemudian menantang para pendengarnya. “Adakah sekarang kalian memikirkan, bagaimana kiranya masa depan kebudayaan Belanda, yang kini menjadi bagian dari Uni Eropa? Bagaimanakah pula masa depan Anda ketika kini jutaan imigran dari Timur Tengah datang ke sini, lalu menjadi warga negara? Jika Anda tidak memikirkannya, mungkin kelak Eropa akan mengalami krisis hebat.”

Di novel ini, tokoh Jepang bernama Okura, mengalami guncangan dan keraguan terhadap budaya samurai. Ia banyak berdialog dengan Elizabeth, wanita Swiss yang humanis. “Di sini Takdir mengkritik tindak bunuh diri ala Jepang. Hidup adalah anugerah terindah dari Tuhan. Bunuh diri bukan tindakan heroik, tetapi penipuan diri. Bukankah ini yang dilakukan para teroris seperti ISIS?” kata Amalia.

Dalam sesi tanya jawab, banyak sekali yang bertanya dan berkomentar. Seorang sarjana menanyakan sikap Takdir terhadap kebudayaan daerah. Amalia menjawab, ayahnya tidak antikebudayaan daerah, tetapi juga tidak menomorsatukannya. Yang nomor satu adalah kebudayaan nasional, yang humanis, sosialis, berbasis sains dan teknologi. Inilah cita-cita masa depan yang mempersatukan Indonesia.

Seorang mahasiswa asal Indonesia berkomentar, “Saya waktu di sekolah hanya pernah membaca cuplikan novel ini dalam buku pelajaran bahasa Indonesia. Saya kira kebanyakan siswa Indonesia kini tidak mengenal karya ini. Sungguh disayangkan.” Amalia membenarkan. Tetapi dia juga sudah melobi Menteri Pendidikan untuk lebih mengenalkan karya-karya sastra kepada para siswa.

Amalia juga mengeluhkan bahwa keinginan ayahnya agar pemerintah menggalakkan penerjemahan buku-buku asing yang bermutu, tidak mendapat sambutan. Menurutnya, Indonesia harus meniru Jepang yang banyak menerjemahkan karya-karya ilmiah dan sastra asing yang berbobot. Jika diserahkan kepada swasta, penerjemahan tidak akan berjalan maksimal seperti sekarang ini.

Takdir sempat dituduh kebarat-baratan. Mungkin yang lebih tepat, dia adalah humanis. Humanisme sekuler memang bisa berbahaya. Tetapi agama yang tidak humanis juga tidak kalah berbahaya. Saya lebih setuju dengan humanisme relijius. Agama bukan untuk Tuhan, tetapi untuk kebaikan manusia. Karena itu, agama sejati adalah yang dapat mengangkat kualitas kemanusiaan kita.

Menjelang Hari Pahlawan besok dan Pilkada serentak yang makin dekat, pikiran-pikiran Takdir patut direnungkan. Untuk apa para pejuang mengorbankan hidupnya dalam pertempuran di Surabaya? Untuk apa para calon bupati dan gubernur bertarung habis-habisan? Baik perang atau pilkada, keduanya akan berakhir kalah atau menang. Tetapi setelah itu, apa?

Kekuasaan tanpa cita-cita bukan hanya hampa tetapi nista. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved