Realitas HIV dan AIDS

Tentunya, kita semua memahami bahwa masa depan suatu masyarakat, bangsa dan negara berada di pundak generasi mudanya.

Realitas HIV dan AIDS
worldinn.drupada.net
Puluhan waria dan LSM peduli AIDS melakukan pawai untuk memperingati hari AIDS/HIV dunia beberapa waktu lalu 

Oleh: Imaddudin Parhani MA
Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Kalsel

Barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa setiap 1 Desember dirayakan sebagai Hari AIDS Sedunia. Peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) yang setiap tahun dirayakan ini merupakan momentum penting bagi semua sektor yang bekerja dalam penanggulangan HIV dan AIDS, untuk berkampanye bersama mengenai pencegahan dan penanggulangannya.

Sebagaimana fenomena korupsi yang begitu menggurita di Indonesia, HIV dan narkoba juga merupakan salah satu persoalan besar yang sedang dihadapi bangsa ini dan juga bangsa lain di seluruh dunia. HIV dan narkoba menjadi permasalah universal. Saat ini, ada jutaan orang di muka bumi ini, terutama generasi muda telah menjadi korban HIV dan narkoba.

Tentunya, kita semua memahami bahwa masa depan suatu masyarakat, bangsa dan negara berada di pundak generasi mudanya. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh HIV dan narkoba ini, baik secara fisik, psikis, sosial, ekonomi, dan budaya menjadi suatu alasan yang kuat bahwa HIV dan narkoba adalah musuh bersama seluruh umat Manusia. Upaya membebaskan bangsa ini dari cengkraman HIV dan narkoba, menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh komponen bangsa Indonesia.

Di Indonesia, realitas berkata bahwa sejak kali pertama ditemukan pada 1987 sampai dengan September 2015, HIV dan AIDS sudah tersebar di 381 (76%) dari 498 Kabupaten/Kota di seluruh provinsi di Tanah Air. Provinsi pertama kali yang menemukan HIV dan AIDS adalah Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adanya penularan virus mematikan itu adalah adalah Provinsi Sulawesi Barat pada 2011.

Secara kumulatif sejak 1 Januari 1987 sampai dengan 30 September 2015 telah terjadi kasus HIV sebesar 150. 296 dan kasus AIDS sebanyak 55.799. Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 25-49 tahun sebesar 69,1%, diikuti kelompok umur 20-24 tahun sebesar 17,2%, dan kelompok umur di atas 50 tahun sebesar 5,5%. Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1 berbanding 1. Sedang persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual sebesar 57%, LSL (Lelaki Seks Lelaki) sebesar 15%, dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun (Pengguna Narkoba Suntik) sebesar 4%. (Ditjen PP & PL, Kemenkes RI, 2015).

Bagaimana dengan realitas di Kalimantan Selatan? Sejak pertama kali ditemukan pada 2002 di wilayah Hulu Sungai Utara sampai dengan September 2015, jumlah kasus HIV dan AIDS di Kalimantan Selatan adalah sebesar 1.194. Rinciannya, HIV sebanyak 645 kasus dan AIDS 549 kasus. Persentase infeksi HIV AIDS tertinggi dilaporkan pada usia 20-29 tahun sebesar 38,8 persen, diikuti kelompok umur 30-39 tahun sebesar 31,8 persen, kelompok umur 40-49 tahun sebesar 12,6 persen dan kelompok umur 40-59 tahun sebesar 3,2 persen.

Berdasarkan jenis kelamin, rasio laki-laki dan perempuan adalah 1 berbanding 1. Sedangkan persentase faktor risiko HIV dan AIDS tertinggi adalah Seksual sebesar 87,7 persen, Penasun (4,6 persen), Perinatal (dari Ibu ke Anaknya) 2,5 persen, dan Transfusi darah sebesar 0,5 persen.

Seluruh Kabupaten/Kota di Kalsel sudah menemukan dan melaporkan kasus HIV dan AIDS. Secara berurutan, kabupaten dan kota yang menyumbangkan angka HIV dan AIDS terbanyak adalah Kota Banjarmasin (414 kasus), Kabupaten Tanahbumbu (258 kasus), Kota Banjarbaru (133 kasus), Kabupaten Kotabaru (53 kasus), Kabupaten Tabalong (52 kasus), Kabupaten Tanah Laut (45 kasus) Kab. Banjar (39 kasus), Kabupaten Batola (35 kasus), Kabupaten Hulu Sungai Selatan (30 kasus), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (21 Kasus), Kabupaten Hulu Sungai Utara (16 kasus), Kabupaten Tapin (14 kasus), Kabupaten Balangan (6 kasus), dan dari Kabupaten Kota di luar Kalimantan Selatan sebanyak 78 kasus.

Sementara berdasarkan jenis pekerjaan, orang dengan HIV AIDS (ODHA) di Kalimantan Selatan terbanyak adalah Wanita Pekerja Seks (25,4 persen), Tenaga Non-Profesional (21,7 persen), Ibu Rumah Tangga (15,1 persen), dan Wiraswasta/Usaha Sendiri (6,8 persen). Sedangkan apabila dilihat dari Populasi Kunci yang terkena HIV dan AIDS, maka yang paling banyak adalah laki-laki pelanggan pekerja seks sebesar 31,9 persen, disusul pekerja seks (26,2 persen), Pasangan Risti (Ibu Rumah Tangga) 20,4 persen, Lelaki Seks Lelaki (gay) 7,2 persen, Penasun (4,7 persen), anak (2,6 persen), waria (1,1 persen), dan tidak diketahui sebesar 1,5 persen.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved