Tiada Bangga, Tiada Sesal

Dianugerahi tinggi badan ideal dan suara maskulin yang jelas dan tegas, Makkie adalah satu dari sedikit tokoh masyarakat Banjar yang dihormati oleh

Editor: BPost Online

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

“Kita rapat Yayasan Pesantren Rakha besok,” katanya lantang di ponsel. “Maaf, ulun (saya) sedang berada di Belanda, Pak,” kataku. Tak dikira, itulah percakapan terakhirku dengannya, November 2015 silam. H Ahmad Makkie, pribadi bersahaja dan rendah hati, mantan politisi dan Ketua Umum MUI Provinsi Kalsel itu telah wafat, Rabu, 27 Januari 2016 lalu dalam usia 78 tahun.

Dianugerahi tinggi badan ideal dan suara maskulin yang jelas dan tegas, Makkie adalah satu dari sedikit tokoh masyarakat Banjar yang dihormati oleh beberapa generasi. Kemampuannya menjalin relasi dan komunikasi, menggerakkan orang dan mendamaikan pertikaian, bukanlah tercipta secara tiba-tiba. Ia telah menempa dan mengasah kemampuannya itu dari tahap ke tahap hingga ke puncak.

Pria kelahiran Birayang, 21 April 1938 ini mulai be­kerja sebagai pembuat amplop di Kantor Camat Lampihong pada usia 18 tahun. Setahun kemudian, dia diangkat menjadi pegawai harian kantor Wedana Ba­langan, sambil bekerja se­bagai pengantar surat untuk Kantor Pos Amuntai. Pada 1959, saat usianya 21 tahun, ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kan­tor Pemda Amuntai.

Pada 1964, Makkie kuliah di Fakultas Ushuluddin yang ada di Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha), Amuntai. Di sinilah dia mulai aktif berorganisasi, bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Pemuda Anshor, dan Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin. Di tiga organisasi itu, dia menduduki jabatan penting, yaitu sebagai sekretaris.

Sebagai aktivis muda, Makkie mengalami masa pancaroba politik, era peralihan kekuasaan Soekarno ke Soeharto. Pada pemilu pertama Orde Baru, 1971, sebagai pegawai negeri sipil, para aktivis yang berafiliasi ke NU, dihadapkan kepada pilihan dilematis. Jika ingin tetap sebagai PNS, harus mau bergabung dengan partai pemerintah, Golkar. Jika tidak, akan dikenai sanksi, bahkan bisa dipecat.

Amuntai adalah kota santri, dan Rakha adalah pesantren tempat belajar dan mengajar Idham Chalid, politisi NU terkemuka saat itu. Karena itu wajar jika anak-anak muda NU di PMII dan Anshor mendukung Partai NU, dan kemudian PPP, setelah NU berfusi ke partai ini. Sebaliknya, mendukung Golkar seolah melawan orangtua sendiri, atau dianggap berkhianat terhadap kawan seperjuangan.

Berbeda dengan Syafriansyah, kawan seangkatannya yang lebih tua, yang memilih berhenti dari PNS dan berkiprah di PPP, Makkie memutuskan bergabung dengan Golkar. Tidak tanggung-tanggung, dia menjadi Sekretaris Sekber Golkar Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Saya kira, banyak di antara teman-temannya yang kecewa kala itu, tetapi Makkie yakin bahwa keputusannya sudah tepat.

Kemenangan Golkar di HSU pada Pemilu 1971 di atas mengantarkan Makkie ke kursi DPRD HSU. Kini pergaulannya semakin luas hingga merambah kalangan elite di tingkat provinsi. Dia mulai bergaul dengan para aktivis, seniman dan wartawan di Banjarmasin. Pada 1974, dia akhirnya ditarik ke Pemda Provinsi Kalsel sebagai ajudan Gubernur Soebardjo, kemudian ditempatkan di Bagian Humas.

Sebagai orang yang pandai bergaul, Makkie memang tepat sekali bekerja di Humas. Dia bukan hanya dikenal sebagai politisi, tetapi juga seniman. Dia adalah qari, pelantun ayat-ayat suci Alquran dan pernah tampil di Konferensi Islam Asia Afrika, Bandung, 1965. Dia juga menyukai sastra dan musik, khususnya musik tradisional, panting. Dengan modal ini, ia bisa diterima oleh berbagai kalangan.

Demikianlah, karier politik Makkie terus menanjak. Pada 1977, dia terpilih sebagai Sekretaris KNPI Kalsel, kemudian sebagai ketuanya pada 1979. Pada Pemilu 1982, Makkie ditunjuk sebagai Sekretaris Pusat Pengendalian Kampanye. Kemenangan Golkar pada Pemilu 1982 itu mengantarkannya ke kursi Bupati Tapin, yang kemudian didudukinya hingga dua periode (1983-1993).

Setelah menjadi bupati, Makkie terus berkarier sebagai anggota DPRD Provinsi Kalsel dari Golkar hingga 1997. Pada Era Reformasi, dia terpilih sebagai anggota DPD RI (2004-2009). Setelah itu, dia tidak lagi aktif di dunia politik. Masa tuanya dihabiskan untuk membina umat melalui perannya sebagai Ketua Umum MUI Provinsi Kalsel dan Pembina Yayasan Pesantren Rakha.

Makkie bukan orang yang suka menonjol sendirian. Terbukti, dia berupaya mengenalkan tokoh-tokoh Banjar melalui buku-buku yang diterbitkannya. Dengan dibantu para penulis seperti Kamarul Hidayat, Masdari dan lain-lain, ia menerbitkan Apa dan Siapa dari Utara (2006), Apa dan Siapa dari Bumi Murakata (2007) dan dua jilid Ulama Kalimantan Selatan dari Masa ke Masa (2010 dan 2011).

Demikianlah, politisi santri ini akhirnya kembali berkiprah di dunia santri. Seolah menyimpulkan seluruh kisah hidupnya, pada 2010 ia berpuisi: Tak ada yang perlu dibanggakan. Segalanya adalah pengabdian. Tak ada yang perlu disesalkan. Semuanya telah diikhlaskan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved