Kenangan Tujuh Tahun
Meski terlambat, karena baru saja tiba dari Kendari, saya bergegas pergi ke Hotel GSign, menghadiri acara perpisahan Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post
Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin
“Janganlah bersedih. Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan, dan setiap perpisahan, biasanya ada acara makan-makan,” tulis Hilman Hariwijaya dalam novel pop remaja era 1980-an, Lupus.
Jumat malam, 18 Maret 2016. Meski terlambat, karena baru saja tiba dari Kendari, saya bergegas pergi ke Hotel GSign, menghadiri acara perpisahan Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post, Yusran Pare, yang (di)pindah ke Tribun Jateng, Semarang. Sesuai lelucon Hilman, acara perpisahan itu diisi dengan makan bersama, pidato-pidato, sumbangan lagu dan puisi, pemotretan dan bersalaman.
Yusran telah memimpin sekitar tujuh tahun (2009-2016). Di tangannya, BPost berkembang pesat, dan meraih berbagai penghargaan nasional, bahkan internasional. Dia memang malang melintang di dunia kewartawanan. Ia sudah keliling kerja di berbagai koran, terutama koran-koran lokal di bawah Kompas. Belakangan, ia bahkan dipercaya melatih para calon wartawan Tribun di berbagai daerah.
Sebagai wartawan, Yusran tidak hanya pandai membidik berita, tetapi juga membangun kerja sama. Wataknya yang ramah dan rendah hati, membuatnya mudah akrab dengan siapa saja, dari pejabat, pengusaha, seniman, akademisi, ulama, pendeta hingga orang biasa. Melalui kerja sama, ia berusaha menjadikan koran sebagai ruang publik untuk saling belajar, memahami dan mengingatkan.
Saya adalah salah seorang yang beruntung ‘didekati’ Yusran. Hari itu, Selasa, 10 Februari 2009, usai diskusi buku saya, Mengindonesiakan Islam (2008), dia berkata ramah,”Maukah Pak Mujib kami lamar menjadi kolomnis di BPost?” Saya terkejut, gembira tapi ragu. Gembira karena dilamar, ragu karena takut tak mampu. Namun akhirnya, saya bersedia. Mei 2009, kolom Jendela mulai terbit.
Kini, hampir tujuh tahun sudah berlalu, setiap akhir pekan, saya rutin mengirimkan tulisan. Saya juga tak menyangka, bisa terus menulis tiap minggu seperti itu. Sebagai akademisi, saya terbiasa menulis panjang lebar dan rinci, dengan bahasa yang khas. Ini berbeda sekali dengan kolom pendek di koran, dengan pembaca dari berbagai lapisan. Saya terus belajar, dan lama-lama, menikmati pekerjaan ini.
Sudah dua buah buku kumpulan kolom saya itu terbit: Polisi Tidur (2010) dan Sentilan Kosmopolitan (2013). Dalam kata pengantarnya untuk buku kedua, Yusran antara lain menjelaskan bahwa, “Kolom diharapkan memberi semacam gizi intelektual bagi pembaca yang mungkin makin kekurangan waktu untuk membaca artikel-artikel di halaman opini yang biasanya agak panjang lebar.”
Seperti dikatakan Yusran dalam pidatonya Jumat malam itu, berkat teknologi komunikasi yang makin canggih, kini wartawan tidak diberi tenggat waktu lagi. Melalui ponsel pintar atau tablet, wartawan harus seketika melaporkan hasil liputannya di lapangan. Inilah tantangan jurnalistik era elektronik. Semua serba cepat, langsung, dan mendesak. Terlambat berarti basi, dan basi itu tak berguna.
Sebagai wartawan berpengalaman, Yusran tampaknya sangat sadar akan bahaya budaya kejar tayang itu. Berita yang diliput memang semakin banyak, tetapi dangkal. Semula dia berharap, rubrik opini dapat mengisi kekosongan ini. Ternyata, menurut survei, pembaca opini sedikit sekali. Karena itulah, Yusran menawarkan rubrik lain berupa kolom, dan belakangan, juga analisis berita dari pakar.
Tak dapat disangkal, berkat kolom Jendela, saya menjadi lebih dikenal masyarakat. Yusran sendiri memberi apresiasi. “Saya sempat merasa bersalah telah memaksanya menulis kolom yang pasti menyiksanya. Sekarang saya malah bangga,” tulisnya.Beberapa orang mengaku menjadi penggemar. Tetapi dari ratusan kolom yang sudah terbit, tentu ada pula yang tidak disuka bahkan dimurka.
Yusran sendiri adalah penulis yang hebat. Buku kumpulan kolomnya, Gigo-Gigo (2009), menunjukkan pengetahuannya yang luas tentang serba-serbi kehidupan manusia. Ia tampaknya sempat terganggu dengan paradoks manusia beragama yang mendua dan kadang munafik. Tetapi justru hal inilah yang kelak membuatnya bijak, tidak hitam-putih. Ia berusaha menerima manusia sebagaimana adanya.
Kiranya tepat sekali, dia diberi nama Yusran, artinya kemudahan. “Sesungguhnya bersama kesulitan (‘usr) selalu ada kemudahan (yusr), kata Alqur’an. Mungkin itulah cermin pengalaman hidupnya. Mungkin bukan kebetulan pula, penggantinya bernama Musyafi’, artinya penolong atau penggenap. Musyafi berharap, BPost tidak hanya menyebar informasi, tetapi juga menebar pengaruh positif.
Selamat jalan Yusran. Semoga selalu mendapatkan kemudahan. Selamat datang Musyafi’. Semoga akan menggenapi dan meningkatkan. (*)