Abdun (Hamba)

Inilah rahasianya kalimat tasbih subhana pengakuan akan kesucian sang pelaku atau menepis hal-hal yang tidak mungkin menurut kebiasaan.

Tayang:
Editor: BPost Online

Dapat kita pahami, Nabi Muhammad SAW yang diisrakan adalah dalam status beliau sebagai hamba-Nya (Allah). Dia (Allah) mengakuinya sebagai seorang yang hanya mengabdikan diri kepada-Nya.

Dengan pengabdian itu, ia berhak mendapat kemuliaan yang tinggi, dipanggil kehadirat-Nya, menyaksikan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Kita sebagai umat Muhammad bisa jadi akan mendapatkan kemuliaan dari pada-Nya bila kita mampu menstatuskan diri kita sebagai seseorang yang hanya mengabdi kepada-Nya.

Inilah sebenarnya tugas seorang manusia bahkan jin hanya beribadah (mengabdi kepada-Nya), karena inilah tugas hidup kita sebagai manusia sesuai firman Allah yang artinya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat 56).

Dalam doa iftitah ketika salat kita sampaikan suatu pernyataan, “inna shaalatii wa nusukii wa mahyaaya wamaamatii lillaahi rabbil alamin.” Artinya, “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam.”

Bila Nabi Muhammad SAW diisrakan berujung dengan miraj (bertemu dengan hadrat Allah) dan menerima perintah salat fardhu, maka umat Muhammad, Isra dalam taat kepada Allah, berujung dengan salat, sehingga dikatakan ash-shalatu mi’raajul mu’minin, salat itu mirajnya orang beriman.

Karenanya yang mendapat kemuliaan itu adalah orang-orang yang memosisikan dirinya sebagai hamba Allah, yang hanya mengabdi kepada-Nya. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved