Mengapa Nisfu?

Akhir pekan lalu, kaum Muslim tradisional melaksanakan ibadah Nisfu Syakban, 1437 H. Ada pro dan kontra mengenai keabsahan ibadah tersebut.

Editor: BPost Online

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Akhir pekan lalu, kaum Muslim tradisional melaksanakan ibadah Nisfu Syakban, 1437 H. Ada pro dan kontra mengenai keabsahan ibadah tersebut. Tetapi bagi saya, pertanyaan yang lebih menggoda adalah, mengapa nisfu (nishf), pertengahan bulan?

Mungkin karena tanggal 15 adalah bulan purnama, ketika bulan terlihat bundar sempurna di malam hari.
Kesempurnaan rupanya berada di pertengahan, bukan di awal atau akhir bulan. Setelah itu, bulan perlahan menyusut, menjadi bulan sabit hingga lenyap. Ada tiga malam langit tanpa bulan. Kemudian muncul lagi bulan sabit, yang perlahan membesar sampai menjadi purnama kembali.

Purnama Syakban adalah akhir menuju awal sabit Ramadan. Mungkin inilah yang membuat malam Nisfu itu sakral. Kesakralan itu terkait pula dengan catatan perbuatan dan ‘nasib’ manusia. Dipercaya bahwa pada malam itu, buku catatan perbuatan manusia selama setahun akan ditutup dan diganti dengan buku baru. Di malam itu pula, Tuhan menetapkan umur, rezeki dan nasib manusia selama setahun ke depan.

Kesakralan adalah sesuatu yang amat penting dalam agama. Kesakralan terwujud berkat kehadiran ilahi (tajalli) secara khusus pada waktu, tempat, benda atau orang tertentu. Manusia beragama, kata Mircea Eliade, selalu berusaha untuk berada atau dekat dengan segala yang sakral. Yang sakral memberinya makna hidup, yaitu kesadaran tentang dari mana, ke mana, bagaimana dan untuk apa hidup ini.

Kesakralan malam Nisfu Syakban didasarkan pada riwayat bahwa pada malam itu Allah membuka lebar pintu taubat dan mengabulkan doa. Karena itu, kaum Muslim tradisional biasanya melakukan berbagai ritual. Yang umum dilaksanakan adalah membaca Surah Yasin tiga kali dengan tiga permohonan (1) panjang umur dalam ibadah; (2) mendapatkan rezeki yang banyak dan halal; (3) iman yang kokoh.

Tiga permohonan tersebut adalah unsur-unsur utama makna hidup seorang Muslim. Umur yang panjang itu nikmat, tetapi hanya akan bermakna jika diisi dengan kebaikan. Hidup makmur dan banyak rezeki itu penting, asalkan semua yang diperoleh itu halal. Yang terpenting adalah iman, kepercayaan yang teguh pada Tuhan. Iman memandu hidup manusia, memberinya pegangan dan arah yang harus dituju.

Sikap beragama semacam itu menunjukkan sikap tengah atau moderat. Hidup duniawi memang bukan tujuan utama, tetapi harus dinikmati. Panjang umur dan hidup makmur adalah bagian dari kenikmatan duniawi. Inilah yang disebut nashîb (nasib) artinya ‘bagian’ atau ‘jatah’ kita dari kehidupan dunia. Tetapi, nikmat itu bisa menjadi laknat jika hidup dijalani dengan perbuatan sia-sia, tanpa kebaikan dan iman.

Karena itu, posisi tengah adalah posisi terbaik, jika diartikan sebagai posisi di antara dua yang ekstrem. Kikir itu buruk. Boros juga buruk. Keduanya berlebihan. Yang baik itu berada di antara keduanya. Itulah yang disebut pemurah. Inilah ajaran para Nabi dan filosof tentang akhlak mulia. “Sebaik-baik sesuatu adalah yang di tengah,” sabda Nabi. Begitu pula kata Aristoteles dan Sidharta Gautama.

Selain itu, posisi tengah juga dianggap sebagai corak pemahaman keagamaan yang tepat (ortodoks). Teks-teks Alquran dan Hadis penting. Tetapi penggunaan nalar dalam menafsirkan teks-teks itu juga penting. Teks dan nalar, akal dan naql, keduanya harus seimbang. Aturan-aturan hukum syariat itu penting. Tetapi makna batiniah di balik aturan itu juga penting. Hakikat dan syariat harus sejalan.

Jika umat Islam berhasil menjadi manusia tengah, maka mereka akan menjadi ummatan wasathan (QS 2: 143), penengah atau ‘wasit’ dalam pergaulan masyarakat dunia. Seorang penengah harus adil, tidak berat sebelah. Penengah adalah penghubung, jembatan, perantara, juru damai di antara dua atau lebih pihak yang bertikai atau bersaing. Penengah sejati adalah pribadi yang benar-benar seimbang.

Alhasil, keseimbangan adalah hukum semesta. Tubuh akan sakit jika tidak ada keseimbangan antara makan, minum, kerja dan istirahat. Ruhani akan kerontang jika tidak disiram dengan ilmu, ibadah dan perbuatan baik. Masyarakat akan galau jika mengalami kesenjangan sosial. Bencana akan menimpa, jika lingkungan dirusak. Semua perlu keseimbangan. Semua perlu posisi tengah. Nisfu Syakban itu penting. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved