Pahala Haji dan Umrah
Nabi SAW baru melaksanakan pada tahun ke-10 H bersama ratusan ribu umat Islam, beliau berangkat dari Madinah, haji ini dinamakan hajjatul-wa’da.
Pemahaman ini disebut tekstual. Jika demikian, pelaksanaan agama menjadi kaku dan sulit. Syekh Muhammad bin Allan As-Siddiqi memahami secara kontekstual, apa tuntutan hadist ini. Beliau mengatakan, “dimaksud qa’ada yadzkurullaha adalah istimraru ala haali dzikrihi sawa’un kaana qaa’iman aw qa’idan aw mudh-taji’an, wal-julusu afdhalu illa idza aaradahu amrun kal-qiyami lithawafin aw shalati janazatin aw lihudhuri darsin wa nahwiha.
Artinya, terus menerus dalam keadaan dzikir, walaupun dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring; kendati duduk lebih utama kecuali ada hal yang memerlukan seseorang harus berdiri, seperti tawaf, salat jenazah, menghadiri pengajian agama dan semisalnya. (termasuklah pergi untuk qadha hajat dan bersuci).” (Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah, jilid 3, hal 64-65).
Mari meraih pahala haji dan umrah setiap hari. (*)