Masjid Hilang

MUI rupanya khawatir perihal kelompok Islam tertentu yang memperuncing perbedaan menjadi permusuhan.

Editor: Yamani Ramlan

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Jika Anda masuk masjid, kemudian keluar. Ternyata sandal Anda hilang. Masjid itu kemungkinan besar adalah masjid NU. Kalau di masjid Muhammadiyah, yang hilang bukan sandal, tetapi qunut. Jika Anda keluar dan seketika justru masjidnya yang hilang, maka itulah masjid aliran baru.”

Demikian lelucon yang saya dengar, dan saya ceritakan kembali dalam seminar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin, Rabu, 31 Agustus 2016 lalu.

MUI rupanya khawatir perihal kelompok Islam tertentu yang memperuncing perbedaan menjadi permusuhan.

Padahal, manusia itu sama sekaligus berbeda. Begitu pula, umat Islam itu sama sekaligus berbeda. Karena itu, persamaan harus diakui, dan perbedaan harus dihormati.

Secara fisik manusia itu sama sekaligus berbeda. Ada perbedaan jenis kelamin, warna kulit, rambut, hidung, mata hingga tinggi badan.

Saudara kembar dan berjenis kelamin sama sekalipun, kalau dicermati ternyata memiliki perbedaan tampilan fisik juga.

Namun, anatomi tubuh manusia dan unsur-unsur yang dikandungnya relatif sama. Kesamaan inilah yang menjadi dasar pengembangan ilmu kedokteran.

Secara psikis, manusia juga berbeda sekaligus sama. Ada pribadi yang terbuka, suka bergaul, dan ada pula yang tertutup. Ada yang jenius, rata-rata hingga idiot.

Namun, tiap pribadi sama-sama memerlukan rasa aman, rasa dihargai dan disayangi. Di ranah kebudayaan, terdapat aneka ragam bahasa. Namun, makna yang dikandung dalam satu bahasa dapat dipindahkan ke bahasa lain melalui penerjemahan.

Islam diwahyukan untuk manusia yang sama sekaligus berbeda itu. Karena itu, Islam memiliki pokok/ batang (ushul) yang sama sekaligus cabang dan ranting (furu’) yang berbeda.

Ada sejumlah ajaran dan praktik pokok yang diterima oleh semua kaum muslim, dan adapula penjabaran dan penafsiran dari ajaran dan praktik pokok itu, yang kadangkala berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain.

Ungkapan-ungkapan pesan yang disampaikan dalam Alquran dan Hadis juga selaras dengan perbedaan kecenderungan dan kemampuan manusia yang menerimanya.

Ada orang yang mudah menerima nasihat yang disampaikan dalam kata-kata indah dan bijak. Ada yang baru bisa menerima setelah berdialog dan berdiskusi. Ada lagi yang baru menerima kalau argumennya benar-benar meyakinkan.

Menurut Ibu Rusyd, filosof dan ahli fikih abad pertengahan, paling kurang ada tiga jenis ungkapan dalam Alquran dan Hadis, yaitu yang bernada retorika (khitâbiyyah), dialektika (jadaliyya) dan demonstratif (burhaniyyah). Selain itu, ada ungkapan-ungkapan yang jelas maknanya (muhkamât), dan ada pula yang bersayap dan samar (mutasyâbihât). Yang terakhir hanya bisa dipahami oleh ulama yang kompeten.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved