Listrik Swasta
BEBERAPA waktu lalu, masyarakat dua provinsi, Kalsel dan Kalteng, disusahkan dengan listrik. Begitu seringnya byarpet.
BEBERAPA waktu lalu, masyarakat dua provinsi, Kalsel dan Kalteng, disusahkan dengan listrik. Begitu seringnya byarpet.
Saking seringnya, membuat kesal masyarakat. Sejumlah warga pun menggelar aksi. Gara-garanya PLTU Asamasam sering kekurangan suplai batu bara, sehingga tidak stabil menyuplai listrik ke kedua provinsi.
Mungkin masih ingat, didorong rasa jengkel, mereka mengadang tongkang batu bara di Sungai Barito. Titik aksi, dekat Jembatan Barito. Supaya tertib, mereka dikawal polisi. Bahkan gubernur Kalsel saat itu, H Rudy Ariffin juga ikut mengawal warganya. Maksud aksi sih, batu bara di Kalsel disuplai semua ke PLTU Asamasam, tidak keluar Kalsel. Supaya, PLTU tidak kekurangan bahan baku, sehingga listrik tidak byarpet.
Dalam perkembangan, PLN menjawab tantangan itu. Tanpa banyak tahu, bangun dua pembangkit lumayan besar. Dua-duanya di wilayah Kalteng. Satu unit PLTU di Kabupaten Pulangpisau dan satu unit pembangkit listrik bertenaga gas di Kabupaten Barito Utara. Siap menopang listrik Kalselteng.
Baru-baru ini Pemko Banjarmasin bergantian didatangi calon investor membangun pembangkit listrik. Bakal ada listrik swasta. Mereka dari Austral Byna, disusul Jepang, Korea dan dari China.
Kalau dari perusahaan Austral Byna berencana menggunakan kayu atau sisa kayu sebagai bahan baku pembangkit listriknya. Area untuk bangunan pembangkit pun siap disediakan. Tentu, dengan modalnya juga. Calon investor dari Korea menawarkan teknologi panel surya.
Sedang perusahaan dari China menawarkan teknologi dengan bahan baku dari sampah. Investasi yang mereka tawarkan, timbunan sampah yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih menjadi sumbernya. Mungkin perlu ratusan ton tiap hari.
Sementara, pesatnya permukiman Kalselteng di masa datang, bila PLN tidak mengantisipasi maka akan muncul defisit listrik lagi. Byarpet lagi.
Bila investor yang datang ke Pemko Banjarmasin memang benar, maka masyarakat Banjarmasin untuk jauh ke masa depan akan tercukupi keperluan listriknya. Tidak khawatir byarpet. Setidaknya mendapat dua sokongan, listrik dari PLN dan dari pihak swasta.
Khusus untuk tawaran dari China, pejabat pun kepincut. Dua hal, pemko tidak rumit lagi mengelola sampah. Kedua, keperluan listrik seputaran Banjarmasin pun tercukupi.
Teori sih begitu. Bagaimana kelanjutannya? Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah, menginginkan agar calon-calon investor serius. Segera merealisasikan, menanamkan modalnya.
Bila ada listrik swasta, mungkin mengurangi beban PLN. Setidaknya untuk Banjarmasin dan sekitar. Bersainglah, mana layanan listrik yang bagus, apakah swasta atau PLN. Mungkin ibarat pendidikan, lebih bagus sekolah milik pemerintah atau sekolah swasta yang bonafid?
Melihat ketiga calon investor listrik tersebut, berarti terbuka saja peluang listrik swasta. Tinggal aturan hukum dan teknisnya. Kalau masyarakat, pasti maunya listrik mengalir terus. Meskipun bayar agak mahal, mungkin tidak masalah asalkan tidak byarpet. Apalagi pelaku usaha.
Semoga, PLN tidak disalip listrik swasta yang siap mencaplok dua provinsi sekaligus. Mungkin, dimulai dari Banjarmasin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/tajuk-besar-new_20161014_224050.jpg)