Problem Ekologis di Ujung Hidung ULM

Bila intensitas curah hujan tinggi maka lantai rumah mereka calap (digenangi air) oleh air yang tidak diundang masuk, tapi memaksa masuk.

Editor: BPost Online
BPost Cetak
Fachrur Rozy 

Oleh: Fachrur Rozy
Pemerhati Lingkungan Hidup

“Setiap malam Amrullah Dicekam Waswas”. Itulah berita utama BPost pekan lalu. Di bawahnya ada anak judul Saban Tahun Sungai Basung Meluap. Berita itu memaparkan kepada kita tentang penderitaan orang-orang kecil yang tinggal dekat Sungai Basung, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru.

Bila intensitas curah hujan tinggi maka lantai rumah mereka calap (digenangi air) oleh air yang tidak diundang masuk, tapi memaksa masuk. Dan mereka tak berdaya mencegahnya. Air masuk dengan damai, tidak seperti banjir bandang yang merusak.

Amrullah (20 tahun) wong cilik yang notebene walaupun belum mempunyai keluarga, menjadi kepala keluarga karena ayahnya sudah tiada. Dia anak tertua dari empat saudara. Dia mempunyai tanggungan: nenek, ibu dan tiga adik-adiknya yang masih kecil. Profesi Amrullah adalah juru masak di warung makan di kawasan Sekumpul, Martapura. Ketika pemuda seumuran dia masih duduk di bangku kuliah, Amrullah harus bekerja karena tuntutan hidup.

Amrullah hanyalah representasi wong cilik secara khusus di daerah dekat Sungai Basung yang rumah-rumah mereka kecalapan air. Secara umum, Amrullah adalah sebagian generasi muda yang karena tuntutan hidup harus bekerja mencari nafkah guna menghidupi orang-orang yang dalam tanggung jawabnya.

Bencana ekologis rutin setiap tahun mencalapi rumah-rumah di tepian Sungai Basung juga adalah representasi bencana ekologis – banjir bandang, tanah longsor, kebakaran hutan yang mengakibatkan smog (asap kabut) – di beberapa wilayah Indonesia. Ya, melimpahnya air Sungai Basung sehingga mencalapi rumah-rumah penduduk merupakan bencana dengan skala seperti gigitan nyamuk. Tidak seperti banjir bandang, tanah longsor, asap kabut yang memakan korban jiwa, yang skalanya bagaikan amukan harimau.

Bencana banjir, tanah longsor, asap kabut tidak saya sebut sebagai bencana alam, tetapi bencana ekologis karena bencana tersebut sebagai akibat ulah manusia. Sedangkan bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, dan gunung meletus tidak terkait dengan perilaku ekologis manusia.

Saban tahun, Sungai Basung meluap, artinya saban tahun pula (pada musim hujan) rumah-rumah penduduk kecalapan air. Ketinggian air menurut Amrullah, pada Maret lalu yang masuk mencalapi rumahnya lalu hingga setinggi pinggang. Air ini mencalapi 120 rumah penduduk di Kelurahan Cempaka, Banjarbaru.

Apa ikhtiar Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru untuk menekan calap rutin ini? Menurut Rakhmat Taufik, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarbaru bahwa ikhtiar untuk mengatasi calap ini ialah melakukan pengerukan sungai, dan membuat embung. Namun, Tampaknya ikhtiar ini belum membantu mengatasi calap rutin yang sudah berlangsung beberapa tahun.

Seberapa besar signifikansi pengerukan sungai dan pembuatan embung itu mengurangi tingkat kecalapan? Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan data penelitian, yakni seberapa besar debit air permukaan setiap hujan, setiap tahun pada musim-musim hujan. Dan seberapa besar pengerukan sungai dan pembuatan embung mengurangi volume air permukaan yang melimpah ke permukiman? Barangkali ada program simulasi komputer untuk memprediksi banjir.

Peran Kampus
Bencana calap rutin tahunan di Kelurahan Cempaka memang bukan bencana yang spektakuler seperti banjir bandang, gempa bumi, tsunami, amukan angin puting beliung dengan areal yang luas, atau kebakaran hutan yang mengakibatkan asap kabut yang meminta korban jiwa. Namun, bencana calap ini tetap menderitakan wong cilik, yang barangkali karena kecilikannya sehingga bencana calap tersebut kurang mendapat perhatian baik dari pihak eksekutif, legislatif dan pihak kampus yang mempunyai ilmuwan-ilmuwan yang paham penanggulangan bencana ekologis.

Bencana calap ini merupakan problem kecil (seperti jerawat) di ujung hidung Universitas Lambung Mangkurat yang sekarang disingkat dengan branding baru ULM. Mengapa saya sebutkan seperti jerawat di ujung hidung ULM, karena di Banjarbaru terdapat Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) ULM.

Apa saja ikhtiar PSLH ULM untuk mengatasi problem calap rutin? Apa hasil kajian mereka? Apa akar masalah bencana ekologis calap tersebut? Bagaimana perilaku penduduk di sepanjang sungai tersebut dalam kaitannya dengan ekologis. Apakah perilaku mereka justru berkontribusi terhadap calap rutin tahunan tersebut? Misalnya dengan membuang sampah rumah tangga ke sungai.

Tokoh Lingkungan Hidup
ULM dengan PSLH-nya mempunyai peran penting untuk mengindentifikasi bencana ekologis di beberapa daerah di Kalimantan Selatan dan mengatasinya, atas dasar kajian-kajian ilmiah mereka. Kajian itu menelurkan rekomendasi ULM atau PSLH ULM kepada pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota untuk mengatasi bencana ekologis. Tentu setelah diambil penanggulangan itu tidak secara instan bencana itu tertanggulangi. Tentu memerlukan waktu, tetapi langkah yang diambil benar dan akan mengatasi bencana tersebut.

Kemudian, di Banjarbaru ada tokoh lingkungan hidup, yakni Prof Dr Ir H Gt Muhammad Hatta MS, mantan Menteri Lingkungan Hidup dan pernah menjadi Ketua PSLH ULM serta mantan PR I ULM. Tentunya beliau mempunyai pemikiran, akses ke lembaga-lembaga di Jakarta, di daerah seperti Walhi untuk membuat jaringan sinergi. Saya percaya ketika beliau membaca berita utama BPost tersebut menggugah beliau untuk membantu mengatasi bencana ekologis calap tahunan di kelurahan Cempaka, yang bagaikan “jerawat” di hidung ULM.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved