Lelucon Seputar Kematian
Kematian biasanya identik dengan duka lara, lebih-lebih bagi keluarga tercinta. Namun tak sedikit pula humor atau lelucon yang
Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin
Kematian biasanya identik dengan duka lara, lebih-lebih bagi keluarga tercinta. Namun tak sedikit pula humor atau lelucon yang muncul seputar kematian. Sedih terus-menerus hanya akan membuat semakin pedih. Humor berfungsi meringankan beban dan meregangkan ketegangan.
Saat jenazah akan dimandikan, suasana tampak tegang. Keluarga dekat dan petugas khusus dengan hati-hati mengangkat mayat, menutupinya dengan kain, lalu mengguyurnya dengan air dan menggosoknya dengan sabun. Dalam keadaan serius itu, ada yang bertanya pada temannya,“Tahukah kamu mengapa mayat itu dimandikan?” Lalu dia jawab sendiri, “Karena dia sudah tidak bisa mandi sendiri!”
Lelucon yang paling banyak tampaknya mengenai salat jenazah, khususnya di kalangan santri. Salat jenazah adalah kewajiban kolektif (fardhu kifâyah). Jika sebagian orang bersedia melaksanakannya, maka yang lain terbebas dari kewajiban itu. Karena itu, dalam budaya Banjar, orang-orang yang bersedia datang untuk salat jenazah, biasanya diberikan amplop ala kadarnya, sebagai ucapan terima kasih.
Meskipun sedikit, bagi santri yang jauh dari orangtua, uang salat jenazah itu sangat berarti. Ketika salat jenazah selesai, imam pun berkata kepada seluruh yang hadir, “Saksikanlah bahwa almarhum termasuk min ahlil khair (artinya, termasuk golongan orang baik)!” Jemaah pun kompak menjawab, “khair!” Tapi para santri yang mengharap amplop, mereka teriaknya beda, bukan ‘khair’, tetapi ‘cair’!
Ada lagi lelucon dari seorang ustadz yang baru saya dengar. Suatu hari, saat salat jenazah dilaksanakan, tiba-tiba mayat bergerak-gerak di dalam keranda. Semua yang salat ketakutan dan berlarian. Namun anehnya, ada seorang bapak usia paruh baya yang tetap di tempat. “Mengapa Bapak tidak lari?” tanya orang. “Ada dua sebab. Satu, karena kaki saya kena asam urat. Dua, karena saya belum terima amplop!”
Di kalangan Islam tradisional, orang yang baru dikuburkan diberi talqin. Dalam ritual ini, seorang ustadz mengingatkan kepada yang meninggal, bagaimana menjawab pertanyaan dua orang malaikat, Munkar dan Nakir. Entah karena gugup atau sengaja, si ustadz tidak berkata,”Bila datang kepadamu dua orang malaikat,” tetapi “Bila datang kepadamu tiga orang malaikat…, maka yang satu itu palsu!”
Lelucon yang tak kalah menarik adalah seputar suami istri yang ditinggal mati pasangannya. Ada cerita tentang lelaki yang menangis sesenggukan di kubur istrinya usai penguburan. Dia berat sekali diajak pulang, hingga dipaksa kerabatnya. Setelah itu, dia pun menulis puisi dan cerpen tentang istrinya. Namun ternyata, belum dua bulan, dia sudah menikah lagi. Seolah kenangan istrinya sirna begitu saja!
Ada lagi cerita tentang Si Palui, Mukidi versi orang Banjar. Ketika istri tetangganya meninggal dunia, Palui menangis tiada henti. Orang-orang pun heran. Jangan-jangan ada sesuatu antara si Palui dan si istri tetangga. Lantas ada yang bertanya, “Lui, mengapa kamu menangis terus, padahal yang mati istri orang?” “Itulah masalahnya. Istriku di rumah jauh lebih tua, tetapi tidak mati-mati juga!” kata Palui.
Lelucon lain lebih berpihak ke istri. Suatu hari, seorang suami sedang sakarat. Dia pun berkata pada istrinya. “Kamu…tahu kan si A? Dia itu juga istriku. Aku punya satu anak dengannya,” kata si suami terbata-bata. Si istri pun berlinang airmata. “Ada lagi yang di kampung B. Itu juga istriku,” lanjut si suami. “Sudahlah pak. Bapak diam saja. Saya sudah tahu. Kini racunnya sedang bekerja!” kata si istri.
Tentu masih banyak lagi lelucon seputar kematian. Lelucon itu bukanlah meremehkan maut, tetapi menunjukkan bahwa ada banyak dimensi dalam setiap peristiwa. Lelucon mengajari kita, dalam situasi genting sekalipun, ada sisi lain yang dapat membuat orang tersenyum dan tertawa. Suka-duka, bahagia-sengsara, ternyata tidak pernah terpisah jauh satu sama lain. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrahman-20161107_20161106_224826.jpg)