Menghormati Tamu Memuliakan Raja

Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud ke Indonesia benar-benar disambut istimewa. Presiden Joko Widodo dan para

Editor: BPost Online
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin 

Oleh: AHMAD BARJIE B
Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari
Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kalsel

Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud ke Indonesia benar-benar disambut istimewa. Presiden Joko Widodo dan para menteri, TNI-Polri, DPR hingga rakyat umum memberi hormat dan apresiasi luar biasa.

Meski urusan investasi menjadi misi utama Raja Salman, kita tetap perlu melihatnya dari perspektif silaturahim dan penguatan hubungan kedua negara. Terlebih karena ikatan historis dan emosional kedua bangsa sudah sangat lama. Keharusan memuliakan tamu tetap kita utamakan dan tidak perlu ada kecurigaan.

Menghormati dan memuliakan sesama manusia, terlebih seorang raja dianjurkan agama. Sebuah hadis riwayat Imam Ahmad dari Abu Bakrah ra menyatakan: Barangsiapa memuliakan seorang raja yang diangkat Allah di dunia, maka Allah akan memuliakannya di akhirat, dan barangsiapa menghina seorang raja di dunia, Allah juga akan menghinanya di akhirat.

Raja dimaksud tentu raja yang alim, saleh dan adil kepada rakyatnya. Kalau sebaliknya tentu tidak perlu dihormati dan dimuliakan, bahkan harus dikritisi dan dilawan. Peribahasa klasik Melayu-Minang: Raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah.

Raja Salman tergolong raja yang alim di antara deretan raja-raja Arab Saudi selama ini. Dia hafal Alquran, berhaluan moderat, ramah, lembut dan adil. Dia kaya pengalaman, sejak usia belasan tahun sudah mendampingi ayahnya Raja Abdul Aziz al-Saud. Dia masih ingat ketika Bung Karno dulu berkunjung ke Saudi. Wajar dia sempat mencari-cari anak-cucu Bung Karno.

Di segi kedermawanan, Raja Salman sejak lama suka berbagi, banyak menyumbang dunia Islam. Dia gigih memajukan pendidikan dan memberi beasiswa untuk mahasiswa mancanegara. Dia tak suka foya-foya, pesta dan gaya hidup hedonis. Karena itu wajar kita menghormati beliau dan rombongannya.

Tradisi Arab dan Islam
Menghormati tamu sejatinya tradisi Arab, kemudian ditransfer menjadi tradisi Islam. Orang Arab terkenal sebagai bangsa yang sangat memuliakan tamu (ikram al-dhuyuf). Hal ini karena sejak dulu mereka bangsa pengelana dan pedagang, hidup mati tergantung banyak dari hubungan baik sesama manusia.

Sejak Nabi Ibrahim, Ismail dan keturunannya, Arab punya Ka’bah Baitullah di Masjid al-Haram sekarang. Mereka beroleh keuntungan ekonomi dan sosial dari kedatangan peziarah, yang kemudian disebut jemaah haji dan umrah. Jemaah bahkan diangkat derajatnya dengan sebutan Dhuyuf al-Rahman (Tamu Allah), bukan tamu biasa. Mereka tidak membedakan antara jemaah haji dan umrah, semua dipanggil ya hajj ya hajj.

Tradisi Arab menghormati tamu sejak sebelum Islam, diperkuat setelah datangnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Bahkan Nabi kemudian memberi makna teologis, barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah dia menghormati tamu. Intinya, jika seseorang tidak menghormati tamunya, berarti tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Minimal imannya tidak sempurna.

Beberapa tempat penting di Arab Saudi, baik di bandara, hotel, lokasi ziarah, terlebih di Masjid al-Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah, selalu terpampang kalimat-kalimat manis dalam berbagai bahasa untuk menghormati tamu.

Menghormati tamu mereka manifestasikan dengan tangan terbuka, sikap hangat serta ucapan-ucapan selamat, misalnya ahlan wa sahlan, marhaban bi hudhurikum, dll. Tamu biasanya juga disuguhi makanan dan minuman, dari air zamzam, kahwah (kopi Arab), kurma, roti, hingga daging kambing dan onta. Di bulan Ramadan, orang-orang Arab berlomba menjamu makan jemaah umrah dan siapa saja, dengan makanan enak dan berlimpah.

Mereka bersedia mencium dan dicium pipi atau dahi alakadarnya (berpelukan), tetapi menolak untuk mencium atau dicium tangan. Bagi mereka hanya orangtua yang berhak untuk dicium tangannya. Kalau di Arab Saudi jangan harap ada yang bisa dan berani berfoto selfie dengan raja, di Indonesia mereka terbuka.

Berbalas Pantun
Memang ada kalanya jemaah haji dan umrah, atau TKW kita, mengalami perlakuan kaku dan tidak layak, bahkan ada yang terancam hukuman mati karena kasus pidana. Masalah ini pun dibicarakan oleh Presiden Jokowi, dan Raja Salman memahami, dia menganggap orang Indonesia di Saudi sebagai rakyatnya sendiri.

Selayaknya kunjungan Raja Salman dan rombongan disambut sebaik-baiknya dan itu sudah kita buktikan. Semua komponen bangsa harus memberi kesan menyejukkan kepada Raja Salman dan rombongan bahwa negara kita benar-benar aman, damai dan kondusif. Dengan begitu sekarang dan ke depan investasi Arab Saudi atau negara mana saja lebih meningkat. Program investasi harus ditindaklanjuti secara konkret, dan itu perlu didukung kepastian hukum, stabilitas dalam negeri dan tentunya juga reformasi birokrasi.

Pada 2017 ini Kementerian Pariwisata menargetkan 15 juta kunjungan turis mancanegara ke Indonesia, dan 2020 ditargetkan 20 juta. Kalau selama ini wisman banyak berasal dari Eropa, Australia dan Timur Jauh, sudah waktunya kita juga mendorong wisman Timur Tengah. Arab Saudi pun tertarik berinvestasi di sektor pariwisata. Terbukti kunjungan rombongan Raja Salman ke Bali lebih lama daripada Jakarta.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved