Melawan Teror

berita yang keluar dari berbagai media barat menyebutkan pelaku terkait Islam. Ada yang menyebut pelaku jihadist,

Editor: BPost Online
BPost Cetak
Ilustrasi 

SECARA beriringan, Inggris dan Indonesia diguncang aksi terkait terorisme. Di negeri Ratu Elizabeth, seorang pengemudi mobil menabrak sejumlah pejalan kaki di Jembatan Westminster, London, Rabu (22/3) siang waktu setempat.

Dia juga menikam polisi hingga tewas. Pelaku akhirnya tewas ditembak polisi. Kejadian ini menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai puluhan orang lainnya.

Tanpa perlu menunggu hasil penyelidikan, berita yang keluar dari berbagai media barat menyebutkan pelaku terkait Islam. Ada yang menyebut pelaku jihadist, ada pula yang menyatakannya simpatisan pejuang pembentukan Negara Islam Irak Suriah atau ISIS.

Padahal tuduhan tersebut patut diselidiki lebih cermat dan memakan waktu mengingat pelaku telah tewas.
Segera setelah kejadian itu, polisi Inggris melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang yang berhubungan dengan pelaku. Ini tentunya untuk mengetahui motif pelaku dan jika mengarah pada terorisme dilakukan penanganan lebih lanjut.

Sementara itu di Indonesia, Densus 88 Mabes Polri melakukan penangkapan sejumlah orang yang diduga teroris dalam penggerebekan di Ciwandan, Cilegon, Banten, Kamis (23/3). Satu terduga tewas dan satu lagi mengalami luka tembak. Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo menyatakan terduga teroris itu ditembak karena melawan.

Terduga teroris mati ditembak dengan alasan melawan saat hendak ditangkap jamak didengar. Padahal keterangan mereka sangat penting untuk digali. Selain itu asas praduga tak bersalah patut dikedepankan.

Menangani terorisme perlu kecerdasan. Pertama terkait bagaimana melacak pelaku, menangkap dan mengetahui motif serta jaringannya. Kedua, bagaimana mencegahnya dalam arti luas. Artinya tidak sekadar menangkapnya.

Pemerintah jangan sampai melakukan blunder seperti yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Sejumlah langkahnya menangani masalah terorisme justru menuai kecaman. Rakyat AS terbelah sejak terpilihnya Trump. Ini tentu saja mengancam persatuan.

Kita juga bisa belajar dari AS terkait main tembak. Kerusuhan kerap terjadi akibat polisi main tembak. Sejumlah terduga pelaku kejahatan kulit hitam ditembak mati polisi hingga membuat warga kulit hitam marah. Mereka menilai kepolisian AS rasis.

Menangani terorisme tak bisa sembarangan karena bisa menimbulkan masalah baru yang lebih luas. Perlu berbagai pendekatan. Tentu saja ini bukan tugas kepolisian semata. Semua pihak termasuk komponen masyarakat seperti ulama perlu diajak dan turut serta.

Media massa pun harus bersikap netral dan objektif. Tidak hanya menyampaikan kebijakan pemerintah, tetapi juga aspirasi dari masyarakat.

Dialog merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah terorisme. Tidak hanya mendengarkan arahan dari negara-negara Barat. Bangsa Indonesia punya kearifan lokal berupa musyawarah mufakat. Berbagai sumbatan pun harus disingkirkan. Dengan demikian masyarakat, termasuk kelompok terkecil sekali pun, merasa diperhatikan sehingga merasa tak perlu membuat aksi fisik apalagi teror. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved