Ahok Sumber Kekeruhan?
GELARAN Pilkada DKI Jakarta tinggal hitungan hari. Dan, seperti kontes-kontes rakyat selama ini, para pengelola jejak
GELARAN Pilkada DKI Jakarta tinggal hitungan hari. Dan, seperti kontes-kontes rakyat selama ini, para pengelola jejak pendapat alias lembaga survei pun sudah cawe-cawe memanas-manasi melalui hasil jejak pendapat mereka atas dua kontestan yang bertarung dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) paling panas di Tanah Air ini.
Kenapa panas? Karena harus diakui masing-masing partai politik benar-benar mempertaruhkan harga diri mereka di hadapan audien di Jakarta. Tengok saja, bos PDIP Megawati Soekarnoputri yang sangat berharap jagoan yang diusungnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berpasangan dengan kader banteng, Djarot Syaiful Hidayat, memenangi kontestasi politik Jakarta.
Banyak pihak menduga Megawati berobsesi ibu kota negara harus berada di bawah kendali atau bayang-bayang partai berlambang banteng moncong putih yang dipimpinnya. Seperti pada pemerintahan Republik Indonesia saat ini yang dipimpin Jokowi, kader PDIP.
PDIP tidak sendiri. Partai Golongan Karya, Partai Nasdem dan Partai Hanura –ketiganya berhaluan seide dengan PDIP; nasionalis– mengusung Ahok-Djarot. Seolah tidak ingin ketinggalan kereta, partai berbasis Islam, PPP dan PKB ikut-ikutan mengalihkan dukungannya ke calon petahana tersebut. Namun, kabarnya, kelompok akar rumput (grass root) di kedua partai itu menolak mengikuti kebijakan pimpinan mereka. Kelompok arus bawah di PPP dan PKB mengalamatkan dukungan sesuai marwah partai Islam –mendukung calon se-iman, Anies-Sandi yang merupakan kompetitor Ahok-Djarot.
Seperti kita sebut di atas, perebutan kursi DKI Jakarta 1 dan Jakarta 2, terbilang kontes politik paling panas selama ini. Pro dan kontra majunya Ahok yang warga keturunan sebagai calon gubernur menjadi fenomena menarik dari kontes politik di Jakarta kali ini. Di sisi lain, calon yang diusung dua partai besar itu juga telah melahirkan‘kekeruhan’ politik selama ini.
Suka tidak suka, kasus di Kepulauan Seribu yang menciptakan persoalan krusial; dugaan penodaan agama oleh Ahok telah banyak menyita energi bangsa ini. Persoalan religi itu semestinya sangat tidak patut dibawa-bawa oleh Ahok dalam proyek ambisi politiknya. Sehingga wajar kalau kemudian banyak pihak, khususnya mereka yang merasa terusik oleh ‘kelancangan’ Ahok mengambil sikap dan mendesak penguasa bersikap tegas terhadap Ahok. Aksi 411, 212, dan 313 menjadi sikap banyak orang yang merasa gusar dan marah terhadap Ahok yang dinilai telah melecehkan keyakinan mereka.
Dan, terakhir, lagi-lagi, Ahok, menggulirkan sebuah video iklan kampanye yang kembali membuat banyak orang tersinggung. Dalam video kampanye itu jelas sekali penggambaran kebencian terhadap kaum pribumi dan umat Islam. Dalam video yang beberapa kali sempat ditayangkan di beberapa stasiun televisi nasional itu, menggambarkan brutalisme sekelompok orang terhadap kelompok tertentu. Aksi brutalisme kelompok orang itu digambarkan dengan mereka yang mengenakan kopiah atau peci –yang sudah jelas semua orang bisa menerka siapa sebenarnya kelompok ini.
Dari kasus (video) ini kita semua tentu kecewa dan menyesalkan atas apa yang telah dilakukan calon gubernur Jakarta ini. Kita melihat ketidakjeraan Ahok dalam mengumbar ketidaksepahamannya dengan pihak-pihak di luar. Kalau perbuatan tidak etis ini tetap menjadi bagian dari program politik Ahok, bukan tidak mungkin Jakarta akan menjadi sumber dari ‘kekeruhan’ yang terjadi di negeri ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/tajuk-besar-new_20161014_224050.jpg)