Roh Para Pejuang
Peringatan hari lahirnya Pancasila itu diperingati di berbagai daerah dengan semangat yang lain dari biasanya. Hari-hari terakhir
Oleh: Pramono BS
HANYA dalam waktu 11 hari sejak peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017, gema persatuan, kebhinnekaan, NKRI kembali menggoyang semangat putra-putri Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Itu terjadi saat peringatan Lahirnya Pancasila 1 Juni 2017. Ini merupakan peringatan pertama, karena kendati Pancasila yang pertama kali diucapkan Ir Soekarno 1 Juni 1945 di depan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sudah menjadi dasar negara sejak Republik ini berdiri namun tidak ada rezim yang tegas menetapkan 1 Juni sebagai Hari lahirnya Pancasila. Baru dalam pemerintahan Joko Widodo/Jusuf Kalla hal itu dipatenkan.
Peringatan hari lahirnya Pancasila itu diperingati di berbagai daerah dengan semangat yang lain dari biasanya. Hari-hari terakhir ini Pancasila sepertinya telah menjadi magnet pemersatu. Semua orang berbicara Pancasila, ketika situasi tak menentu menjelang dan seusai Pilkada DKI Jakarta, orang juga mencari padanan Pancasila. Ketika muncul isu-isu merembesnya paham radikal dari luar orang pun menoleh Pancasila. Pendek kata Pancasila kini banyak disebut.
Karena itu ketika Hari Kebangkitan Nasional diperingati, lahirnya Pancasila diperingati yang muncul adalah gelombang pendukung Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai antitesa dari tekanan situasi akhir-akhir ini.
Sebelum ini orang berbicara Pancasila tak lebih dari hiasan bibir saja. Zaman Orde Baru Pancasila bahkan tak pernah diakui kelahirannya. Tiba-tiba ada dan dijadikan azimat yang teramat keramat sehingga orang tak boleh menyentuhnya. Pancasila dan UUD 1945 menjadi alat kekuasaan. Jadi tidak ada hubungan batin antara Pancasila dengan rakyat, apalagi untuk mencerminkan tindak tanduk, kebijakan, kebersamaan dll. Semua terasa semu saja.
Tapi sekarang berbeda napas, orang membicarakan situasi negara selalu dengan memperhadapkan dengan Pancasila. Pemuda-pemuda di seantero tanah air bertekad mempertahankan kebhinekaan, persatuan untuk melawan sikap-sikap radikalisme, intoleran dan sebangsanya dengan menggunakan Pancasila sebagai rujukan. Keputusan Presiden untuk menetapkan 1 Juni sebagai Hari Pancasila bukan saja tepat sasaran tapi juga tepat waktu sehingga rakyat tak ragu lagi untuk berbicara soal Pancasila.
Semasa Orde Baru ada juga pendidikan soal Pancasila, yakni P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Tapi setelah reformasi dihapus karena dinilai tujuannya sangat politis. Sekarang pemerintah membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) yang akan lebih membumikan Pancasila, tidak sebagai doktrin tapi penerapan dalam kehidupan seharip-hari.
***
Rakyat kini memang dahaga terhadap persatuan. Dulu orang menyanyi Indonesia Raya atau lagu-lagu perjuangan hanya di tempat-tempat tertentu dengan komando. Sekarang dimana pun mereka berkumpul tanpa dikomando menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Ada perasaan kesal terhadap upaya mengobrak abrik tatanan kehidupan, kesal terhadap para pemimpin yang masih belum kapok juga untuk korupsi, kesal dengan para pemimpin yang terus bertikai berebut kursi khususnya di DPR. Bayangkan, DPR mengusulkan pimpinan DPR ditambah dari 5 menjadi 7, Pimpinan MPR dari 5 jadi 11 dan Pimpinan DPD dari 3 menjadi 5 dll.
Di bidang hukum, DPR masih saja terus berupaya melemahkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), orang penting tidak mau taat hukum, massa menjadi senjata untuk melawan pemerintah. Persekusi (penganiayaan) oleh kelompok tertentu terhadap warga yang beda pendapat bermunculan, keberingasan, menjadi-jadi. Presiden Jokowi sampai memerintahkan agar siapapun yang melanggar aturan digebuk.
Kita bersyukur Presiden Jokowi tidak mengikuti gendang tari mereka tapi tetap konsisten membangun negeri yang semakin terbuka isi perutnya setelah berbagai infrastruktur dibangun. Sebelumnya tidak semua daerah bisa tersambung sehingga melihat daerah-daerah seperti melihat di dalam gelap.
Hal positif yang bisa dipetik dari perkembangan situasi akhir-akhir ini adalah munculnya rasa nasionalisme kebangsaan yang datang tanpa diundang. Betapa susahnya menanamkan rasa nasionalisme, kini semangat itu muncul dengan sendirinya. Jangan sampai kesadaran seperti ini lenyap, hanya hangat-hangat tahi ayam.
Mengingatkan masa-masa penjajahan dahulu yang memanggil putra-putri bangsa untuk berjuang melawan penjajah. Sepertinya roh para pejuang itu kini hidup kembali. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/20080725_pramono-bs_20170326_005705.jpg)