Generasi Selfie
Tahun 2017 ini, mahasiswa baru UIN Antasari mencapai lebih dari 3.000 orang. Karena keterbatasan tempat dan tenaga,
OLEH: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin
Tahun 2017 ini, mahasiswa baru UIN Antasari mencapai lebih dari 3.000 orang. Karena keterbatasan tempat dan tenaga, maka Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) dilaksanakan dalam tiga gelombang. Dua gelombang sudah selesai, dan hari ini dimulai gelombang terakhir.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, selama delapan hari yang telah lewat, banyak hal yang menarik perhatian saya dari perilaku mahasiswa baru. Ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan. Ada yang membuat kami tegang, dan ada juga yang membuat kami tertawa. Banyak kegiatan yang serius, tetapi ada pula yang santai. Banyak yang berdisiplin, tetapi ada juga yang melanggar tata tertib.
Yang membuat saya haru dan kasihan adalah, tidak sedikit dari mahasiswa baru itu yang takut dan waswas menghadapi PBAK. Salah satu buktinya adalah, banyak di antara mereka yang datang ke kampus sangat awal. Acara berbaris baru dimulai 06.30 Wita, tetapi mereka sudah datang jam 05.00 Wita. Bahkan yang tinggal di asrama kampus pun turut terburu-buru. Apalagi yang diantar keluarganya dari jarak yang jauh.
Mengapa? Saya kira mereka trauma dengan Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang dulu sangat represif. Saya sering memplesetkan MOS sebagai Masa Orang Stres. Baru setelah ada larangan perpeloncoan dari Mendiknas Anies Baswedan pada 2016 silam, MOS lebih baik. Generasi yang kini masuk kuliah masih tergolong korban MOS era sebelumnya. Karena itu wajar jika mereka menyimpan ketakutan traumatis.
Di sisi lain, gairah para mahasiswa baru itu sangat tinggi. Setiap kali dibuka sesi tanya jawab, banyak sekali yang ingin bertanya. Dalam pembelajaran pleno di ruang besar, film pendek karya para mahasiswa aktivis Komunitas Teropong cukup berhasil menyedot perhatian mereka. Apalagi dalam pembelajaran di kelas-kelas yang hanya diisi oleh 30-35 mahasiswa, interakasi dengan dosen tentu lebih leluasa.
“Apakah salah jika niat kita kuliah adalah agar kelak mendapatkan pekerjaan yang mensejahterakan?” tanya seorang mahasiswa saat giliran saya mengisi materi. Ini pertanyaan serius. Kadangkala ada orangtua yang memaksa anaknya kuliah di program studi tertentu, meski si anak kurang berminat, demi impian pekerjaan di masa depan. Apakah hal ini sejalan dengan keikhlasan dalam menuntut Ilmu?
Saya mencoba menjawab, “Kuliah untuk mendapatkan pekerjaan itu tidak salah, tetapi sempit. Tujuan kuliah adalah menuntut ilmu dan mendidik diri. Punya pekerjaan dengan penghasilan yang layak adalah keniscayaan hidup. Tetapi untuk hidup bahagia, berpenghasilan saja tidak cukup. Ilmu itu laksana cahaya yang menerangi jalan hidup kita, agar kita melangkah dengan tepat menuju kebahagiaan sejati.”
Yang lebih mengesankan lagi adalah rasa kebersamaan mereka. Anak-anak muda memang cenderung mudah membangun kebersamaan. Dalam setiap kegiatan orientasi (PBAK), para aktivis mahasiswalah yang sangat sibuk dan lelah, dari panitia pengarah, panitia pelaksana, hingga para pengawas. Begitu pula dua orang kakak pendamping untuk tiap kelompok, yang selalu membantu dan mengawal peserta.
Kami juga selalu khawatir dengan kesehatan peserta. Para peserta yang memiliki keluhan penyakit diidentifikasi lebih dini. Para aktivis KSR PMI UIN Antasari selalu memantau kalau-kalau ada peserta yang jatuh sakit dan perlu pertolongan. Mobil ambulance juga disiapkan. Setiap pagi, semua peserta diberi roti gratis, karena kami khawatir ada yang tidak sempat sarapan. Namun tetap saja ada yang jatuh sakit.
Sebagaimana biasa, tak semua pelaksanaan sesuai rencana. Minggu lalu, saat berbaris untuk penutupan, tiba-tiba kami diguyur hujan deras. Semua orang lari mencari perlindungan. Akibatnya, penutupan singkat dan sederhana dilakukan di tiga tempat dengan kelompok-kelompok yang cambur baur. “Anggap saja kejadian hari ini sebagai kenangan indah, sweet memory,” kata saya. Mereka pun bertepuk tangan.
Ketika acara sudah bubar jam 17.00, panitia bingung melihat tingkah peserta yang tak beranjak pulang. Mereka sibuk berselfie ria dan berfoto bersama. “Ayo, bubar. Kalian belum Salat Ashar,” kata panitia. “Sebentar lagi, Kak. Kami masih mau foto-foto dulu,” kata peserta. “Dasar generasi selfie!” batinku sambil tersenyum. Demikianlah suka duka mahasiswa baru generasi milenium kedua.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrahman-20161107_20161106_224826.jpg)