Kimia Kebahagiaan
Al-Ghazali menjelaskan, kala itu ada kepercayaan bahwa unsur kimiawi tertentu dapat mengubah logam biasa menjadi emas.
OLEH: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin
“Kamu mau kuliah di bidang apa?” tanyaku. “Kimia murni,” jawab putri kami dengan mantap. Saya menghela nafas, bangga bercampur khawatir. Bangga karena belum ada dalam keluarga dekat saya seorang ahli ilmu alam. Namun saya juga khawatir jangan sampai mengkaji ilmu alam itu justru membuatnya meremehkan ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
Di abad pertengahan, ketika kaum muslim berjaya secara keilmuan, istilah kîmiyâ’ memang tidak hanya dipakai sebagai salah satu cabang ilmu alam, melainkan juga masuk dalam kajian tasawuf. Salah satu buku terkenal karya al-Ghazali (w.1111) berjudul Kîmiyâ’ al-Sa’âdah (Kimia Kebahagiaan). Buku ini aslinya dalam bahasa Persia, lalu diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, termasuk bahasa Indonesia.
Al-Ghazali menjelaskan, kala itu ada kepercayaan bahwa unsur kimiawi tertentu dapat mengubah logam biasa menjadi emas. Kepercayaan ini juga tergambar dalam novel berjudul Sang Alkemis karya Paulo Coelho yang bercerita tentang anak gembala yang berkelana dari Spanyol hingga Mesir. Di padang pasir, dia bertemu Sang Alkemis yang memiliki Batu Filsuf yang mengandung unsur kimiawi langka itu.
Namun, apakah sebenarnya unsur-unsur kimiawi yang dapat mengubah logam biasa menjadi emas? Paulo Coelho sama sekali tidak menjelaskan. Penjelasannya justru beralih ke hakikat hidup manusia. Para alkemis, katanya, selalu sibuk memurnikan logam-logam di laboratorium, sampai akhirnya mereka juga memurnikan diri mereka sendiri. “Alkemis adalah orang yang memahami alam dan dunia,” tulisnya.
Meski diceritakan bahwa Sang Alkemis berhasil mengubah timah menjadi emas dengan seiris tipis Batu Filsuf, tetapi pesan yang disampaikannya jauh lebih dalam.“Bagi orang-orang bijak, emas adalah logam yang berevolusi paling jauh…Manusia tak pernah memahami ucapan orang-orang bijak. Jadi, bukannya melihat emas sebagai lambang evolusi, mereka justru menjadikannya sebagai alasan perseteruan.”
Di sisi lain, dalam Kimia Kebahagiaan, al-Ghazali langsung masuk ke makna simbolik. “Khazanah ilahi yang menuturkan kimia ini terkandung di hati para Nabi. Siapa saja yang mencarinya di tempat lain, pasti akan kecewa, dan terpuruk di hari berbangkit” tulisnya. Bagi al-Ghazali, ada empat unsur penting kimia kebahagiaan yaitu: pengetahuan tentang diri, tentang Allah, tentang dunia dan tentang akhirat.
Pertama, untuk mencapai bahagia, manusia harus mengenali dirinya. Siapakah aku dan dari manakah aku datang? Kemana aku akan pergi? Apa tujuan hidupku di dunia ini? Di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan? Manusia harus mengenali hakikat dirinya, yang lahir dan yang batin, unsur-unsur yang akan hancur setelah kematian dan yang bertahan, serta potensi sifat-sifat mulia dan sifat-sifat tercela.
Kedua, dengan mengenali dirinya, manusia akan mengenal Tuhannya. Keunikan dan keindahan tubuh manusia adalah bukti keagungan Sang Pencipta. Bahkan, ruh sebagai hakikat diri manusia memiliki ‘kemiripan’ dengan Tuhan karena ia “tidak terbatasi ruang dan waktu, gaib, tidak terbagi, diluar definisi kualitas dan kuantitas serta tak dapat dilekati oleh gagasan tentang bentuk, warna atau ukuran.”
Ketiga, karena manusia hidup di dunia ini, maka dia harus mengenali hakikat dunia. Dunia adalah sarana bukan tujuan. Tujuan hidup adalah kembali kepada Allah dengan membawa ilmu dan amal kebaikan. Manusia adalah musafir yang hanya mampir sebentar di dunia ini. Dunia adalah kendaraan. Orang yang sibuk menghiasi kendaraannya tapi tidak mengendarainya menuju tujuan adalah orang yang dungu.
Keempat, setiap yang hidup pasti akan mati. Kematian bukanlah akhir melainkan suatu tahap peralihan dalam kehidupan. Bagi orang yang sangat mencintai dunia, kematian akan membuatnya amat tersiksa karena dia harus berpisah dengan segala yang dicintainya. Surga dan neraka tidak hanya bersifat jasmani, tetapi juga ruhani. Damai surga dan derita neraka sudah dirasakan manusia sejak di dunia ini.
Alhasil, kimia kebahagiaan itu ternyata sederhana. Yang amat sulit adalah mensenyawakannya dalam kehidupan kita. Tetapi kita harus optimistis. Sang Alkemis berkata,”Kalau seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagat raya akan bahu membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya.” (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrahman-20161107_20161106_224826.jpg)