Magnet Kewalian

Dalam terminologi tasawuf, wali adalah orang yang dikasihi dan dekat dengan Allah berkat kebersihan hatinya,

Editor: BPost Online
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

“Di kampus kami, ada program S-2 kajian tasawuf. Tiap angkatan, mahasiswanya tidak banyak. Mungkin karena setelah tamat dari program ini, orang akan jadi wali,” kata saya bercanda, disambut ledak tawa para profesor yang menguji saya sebagai calon rektor, 2 Oktober 2017 silam.

Dalam terminologi tasawuf, wali adalah orang yang dikasihi dan dekat dengan Allah berkat kebersihan hatinya, kemuliaan akhlaknya dan ketekunan ibadahnya. Mungkin istilah ‘wali’ ini sejajar maknanya dengan ‘santo’ dalam Katolik atau ‘arahat’ dalam Budhisme. Istilah populernya, wali adalah orang suci, yakni kesucian dalam batas-batas kemanusiaan. Wali bukanlah Nabi yang terpelihara dari dosa.

Menurut al-Mu’jam al-Mufahras Li alfâzh al-Qur’ân al-Karîm karya Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, di dalam Alqur’an terdapat 44 kata waliy, baik yang berdiri sendiri ataupun yang berfaliasi dengan kata ganti, dan 42 kata awliya’ sebagai bentuk jamaknya. Makna kata waliy tersebut tentu beragam. Selain sebagai orang yang dikasihi Allah, waliy juga berarti pelindung, pemimpin atau teman dekat.

Untuk wali dalam arti orang yang dikasihi Allah, para ulama biasanya merujuk kepada Surah Yunus (62-64): Ketahuilah, sesungguhnya para wali Allah itu tidak merasa takut dan tidak pula bersedih. Mereka orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka kabar gembira dalam hidup di dunia dan di akhirat. Tak ada perubahan dalam janji-janji Allah. Itulah keberuntungan yang agung.

Ayat di atas menunjukkan, seorang wali adalah manusia yang berhasil mengggapai kebahagiaan sejati karena mereka tidak takut (lâ khawfun ‘alaihim) dan tidak bersedih (wa lâ hum yahzanûn). Rasa takut terkait dengan masa depan, sedangkan rasa sedih terkait dengan masa lalu. Seorang wali dapat terbebas dari hantu masa lalu dan ancaman masa depan. Hatinya selalu damai. Dia berbahagia dengan saat ini.

Mengapa? Karena para wali selalu berusaha hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Mereka tidak berduka akan masa lalu yang tak bisa diubah. Mereka tidak takut pada masa depan yang masih misteri. Mereka hidup penuh syukur atas segala nikmat yang diterima, dan bersabar atas musibah yang tak terhindarkan. Mereka selalu ingat pada Allah sebagai asal mula dan tempat kembali segala sesuatu.

Manusia mulia semacam itu tentu amat langka. Ia berhasil mencapai kematangan pribadi yang amat tinggi. Ia mampu meletakkan segala urusan pada tempat dan ukuran yang tepat sehingga melahirkan keselarasan dan keseimbangan. Dalam terminologi tasawuf, orang ini disebut juga insân kâmil, manusia sempurna (dalam batas-batas kemanusiaan) yang menjadi lokus penampakan nama-nama Allah.

Karena wali sejati itu langka, maka tak jarang muncul wali-wali palsu. Mereka berpura-pura saleh dan mengaku memiliki keramat, yakni keajaiban yang melampaui hukum alam. Padahal, ujung-ujungnya adalah penipuan belaka. Ada yang berlagak bisa melipatgandakan uang. Ada pula yang diam-diam mencabuli murid-muridnya yang perempuan. Mereka ini, kata Ibnu Taimiyah, adalah wali-wali setan.

Bagi kita sebagai orang awam, daripada ditipu wali palsu, mungkin akan lebih selamat jika kita berusaha mengikuti teladan hidup para wali sebagaimana yang disebutkan Alqur’an di atas. Kita harus belajar agar tidak bersedih tentang apa yang telah terjadi, dan tidak galau mengenai masa depan. Kita berusaha selalu ingat kepada Allah, dan menjaga diri dari kejatuhan moral. Semua ini pasti sulit, tetapi mungkin.

Biasanya, orang yang berjuang untuk menjadi baik dan berusaha mewujudkan kebaikan, kelak akan dipertemukan Allah dengan orang-orang baik pula. Mungkin saja mereka itu adalah para wali. Mungkin pula mereka adalah orang-orang biasa seperti kita. Tetapi mungkin pula sebagai sesama wali murid saja! Yang pasti, kedamaian yang terpancar dari kebaikan memiliki daya magnetisnya sendiri. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved