Penceramah Idola
Salah satu kegemaran saya sejak kecil adalah menghadiri, menyaksikan atau mendengarkan ceramah agama. Kebetulan,
Oleh: Mujiburrahman
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin
Salah satu kegemaran saya sejak kecil adalah menghadiri, menyaksikan atau mendengarkan ceramah agama. Kebetulan, almarhum ayah saya juga seorang ulama-penceramah. Ketika saya masih kanak-kanak, saya cukup sering diajak ayah menghadiri ceramahnya. Saat menjadi santri di Pesantren Al-Falah, saya juga menyukai kegiatan muhadharah, yakni latihan pidato.
Karena itu, sejak kecil hingga sekarang, saya mengidolakan para penceramah kondang tingkat nasional seperti Miftah Farid, Sukron Makmun, Zainuddin MZ, Abdullah Gymnastiar hingga yang kini makin top, Abdul Somad. Di Kalsel, saya juga suka memperhatikan pengajian para tuan guru seperti Zaini Ghani (alm), Ahmad Bakrie (alm), A Hafizh Anshari, Husin Naparin, Akhmad Bakhiet, hingga Zuhdiannor.
Saya banyak belajar dari ceramah-ceramah mereka itu. Mereka menyampaikan banyak pengetahuan, wawasan dan pengalaman. Mereka juga menunjukkan teknik-teknik berbicara di depan publik dalam praktik. Mereka sangat pandai merebut perhatian orang banyak melalui topik yang diangkat, bahasa yang digunakan, intonasi, anekdot-anekdot hingga humor-humor segar yang kadangkala spontan.
Menjadi pembicara publik yang menarik tentu tidak mudah. Selain berbakat, para penceramah yang hebat itu biasanya menyiapkan materi yang menarik dan relevan dengan kekinian. Jam terbang mereka umumnya sudah tinggi. Mereka terkenal setelah malang-melintang di dunia dakwah lebih dari sepuluh tahun. Saat berbicara, mereka seolah menyatu bersama hadirin dalam bergembira dan berduka.
Masing-masing tokoh itu memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Ada yang suaranya lantang dan kata-katanya tajam. Adapula yang nada suaranya datar saja, bahkan lembut. Ada yang berapi-api sehingga hadirin tegang dan terpana, kemudian secara tak terduga melontarkan humor yang membuat orang terpingkal-pingkal. Ada juga yang datar-lembut tanpa humor sedikit pun, tetapi tetap memukau.
Salah satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari para penceramah itu adalah kemampuan mereka dalam menyederhanakan bahasa dan ungkapan agar konsep-konsep agama yang rumit bisa dipahami oleh orang awam. Lebih-lebih para tuan guru yang dengan sengaja menggunakan bahasa Banjar dalam pengajian mereka. Inilah yang membuat mereka menjadi pembicara publik yang benar-benar efektif.
Di sisi lain, mereka umumnya lebih banyak melihat ke dalam, yakni umat yang menjadi pendengar mereka. Ada yang hampir sama sekali tidak mau menyebut pihak-pihak lain yang berbeda, baik sesama agama ataupun yang berbeda agama. Ada pula yang suka menyebut-nyebut pihak luar dengan titik tekan pada perbedaan, guna menegaskan identitas diri hadirin dan mempererat kesatuan internal.
Sikap para tokoh agama tersebut tentu dapat kita pahami. Mereka hadir dan tampil sebagai pemimpin di kalangan umat tertentu. Mereka hidup dan bergaul dengan umat itu, dan merasa bertanggungjawab atas keselamatan mereka. Namun, keadaan ini secara sadar atau tidak sadar, dapat mendorong mereka ke sikap eksklusif, yang lebih banyak melihat perbedaan ketimbang persamaan, dengan pihak-pihak lain.
Titik tekan pada perbedaan itu semakin mengental ketika bertemu dengan kepentingan politik. Sikap moderat yang tidak memihak tidak disukai orang politik, karena dalam politik, memihak itu niscaya. Di dunia politik, siapa memanfaatkan siapa seringkali kabur. Boleh jadi para pemain politik memanfaatkan tokoh agama yang tulus dan polos untuk kepentingan mereka, tetapi boleh jadi pula sebaliknya.
Namun yang pasti, ketika perbedaan terus ditekankan, garis pemisah dipertebal, dunia akan semakin terlihat hitam-putih sehingga masyarakat pun terbelah antara ‘aku’ dan ‘kamu’, ‘kita’ dan ‘mereka’. Perbedaan itu semakin mutlak ketika ajaran agama yang dipercaya dari Tuhan Yang Mutlak dijadikan landasan pengabsahan. Jika semua perbedaan bersifat mutlak, apalah lagi yang bisa dipertemukan?
Syukurnya, tidak semua tokoh agama tertarik dengan politik, dan tidak semua yang tertarik dengan politik berpikiran eksklusif. Kepekaan mereka akan keadaan masyarakat, dan kemampuan mereka berbicara dalam bahasa awam, sesungguhnya merupakan modal penting untuk dapat membangun saling pengertian di antara perbedaan. Paling tidak, itulah arah masa depan yang kita harapkan! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrahman-20161107_20161106_224826.jpg)