Jendela

Materialisme Serakah

Kesadarannya begitu tinggi bahwa jangankan harta dan tahta, tubuh dan ruhnya sendiri bukanlah miliknya, tetapi milik Sang Pencipta.

Editor: Elpianur Achmad

Oleh: Mujiburrahman, Akademisi UIN Antasari

HIDUP yang damai itu seperti sikap tukang parkir. Aneka merek kendaraan dia terima dengan senang hati. Mobil dan sepeda motor yang super mahal tidak membuatnya sombong, sementara yang murah dan butut tidak membuatnya kecil hati.

Ketika kendaraan itu diambil orang, dia tenang saja. Dia sadar, semua kendaraan itu titipan belaka. Tugasnya hanyalah menjaga titipan itu dengan baik.

Di atas adalah tamsil yang sering dikemukakan oleh dai kondang (alm) KH Zainuddin MZ. “Kekayaan dan jabatan adalah titipan Allah, bukan milik kita. Orang yang sombong karena kekayaan dan jabatan adalah orang bodoh. Ada tidak pejabat yang sombong?” tanya Zainuddin.

“Ada!” jawab hadirin. “Pejabat yang sombong itu anak buah Fir’aun. Orang kaya yang sombong itu anak buah Qarun,” katanya.

Zainuddin memang sangat piawai menyederhanakan konsep agama yang rumit menjadi mudah dicerna. Tukang parkir itu adalah contoh sikap dasar kaum Sufi yang terkenal: lâ yamliku syai’an walâ yamlikuhu syai’un (tidak memiliki apa pun dan tidak dimiliki oleh apa pun).

Kesadarannya begitu tinggi bahwa jangankan harta dan tahta, tubuh dan ruhnya sendiri bukanlah miliknya, tetapi milik Sang Pencipta.

Para Sufi adalah citra ideal hidup keruhanian. Etika mereka berada di atas rata-rata. Mereka lebih putih dari yang putih. Sebagai orang awam, kita tentu jauh dari mereka. Mereka adalah pewaris cahaya kearifan yang dibawa para Nabi.

Merekalah orang-orang yang berhasil merengkuh damai dan bahagia sejati. Jika semua bukan milikmu, buat apa kau bersedih dengan kehilangan apapun yang menimpamu?

Kita tentu masih jauh dari sikap hidup Sufi itu. Namun, jika kita ingin mereguk sedikit saja air kedamaian hati, kita sebaiknya berusaha mendekati. Kenyataannya, kini gairah hidup kebanyakan orang ditentukan oleh nafsu memiliki yang tak pernah terpuaskan.

Meski gaji sudah naik, keinginan justru lebih naik lagi. Ibarat naik pohon, semakin tinggi, semakin banyak yang dilihat dan semakin bertambah pula keinginan.

Singkat kata, materialisme yang sering dikutuk dengan mulut itu justru diamalkan setiap hari. Kerja keras siang-malam, tujuannya tiada lain daripada menumpuk uang.

Orang-orang berebut proyek, melakukan pungutan liar dan habis-habisan mengejar jabatan, ujung-ujungnya duit belaka. Padahal, kadangkala orang seperti ini justru paling fasih mencela materialisme dan penampilannya sangat relijius.

Apa sesungguhnya materialisme itu? Jawaban para filosof terlalu rumit. Jawaban psikolog kiranya lebih praktis. Katanya, jika Anda menganggap memperoleh kekayaan sebagai kegiatan yang paling utama, dan bahwa kekayaan itu paling penting sebagai penentu kebahagiaan dan kesuksesan hidup, maka Anda adalah seorang materialis. Seorang materialis meletakkan nilai hidupnya pada apa yang dimilikinya.

Materialisme adalah pandangan hidup yang tidak kasat mata. Orang kaya belum tentu materialis, dan orang miskin belum tentu tidak materialis. Anggapan romantis bahwa orang desa yang miskin tidak materialis tidak selalu benar.

Orang miskin boleh jadi lebih materialis daripada orang kaya. Tak jarang orang dewasa yang serakah ternyata ketika kecil hidupnya melarat. Dia rupanya ingin ‘balas dendam’.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved