Mereka Bicara
Tafsir Nomor Urut
Hasilnya, Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendapatkan nomor 1 dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapatkan nomor 2
OLEH: MUJIBURRAHMAN, Rektor UIN Antasari
Jumat, 21 September 2018. Atas prakarsa Komisi Pemilihan Umum (KPU), pasangan calon presiden dan wakil presiden telah mengambil nomor urut. Hasilnya, Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendapatkan nomor 1 dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapatkan nomor 2. Yang menarik adalah komentar para pendukung masing-masing pasangan di media sosial. Otak-atik tafsir angka mulai ramai.
Meskipun ramai, kesan saya, warganet umumnya menganggap hal ini sebagai canda dan hiburan saja. Pada akhirnya, nomor urut hanyalah simbol belaka. Simbol adalah tanda untuk menghadirkan makna. Makna adalah mutu atau hakikat dari sesuatu. Tanda hanyalah kulit, sedangkan makna adalah isi. Simbol tanpa makna, tak berguna. Namun, makna tanpa simbol, tak dapat dihadirkan. Keduanya saling terkait.
Namun, diam-diam saya tetap penasaran. Saya teringat sebuah buku karangan ilmuwan perempuan asal Jerman, Annemarie Schimmel, berjudul The Mystery of Numbers. Edisi bahasa Inggris buku ini terbit pada 1993, sedangkan terjemahannya ke bahasa Indonesia terbit pada 2006 silam. Versi terjemahan inilah yang saya miliki dan berhasil saya temukan di antara deretan buku-buku saya di lemari.
Buku setebal lebih dari 300 halaman ini, hanya membahas makna angka dalam berbagai peradaban umat manusia. Buku ini diperkaya dengan ilustrasi gambar-gambar unik perihal angka. Schimmel tampaknya ingin menunjukkan bahwa angka bukan sekadar simbol hitungan dalam matematika, tetapi juga simbol kehidupan itu sendiri, yang mencakup manusia, alam semesta hingga Sang Pencipta.
Apa yang telah ditemukan Schimmel tentang angka 1? Banyak hal. Salah satunya , angka 1 dianggap sebagai angka primordial, yakni asal-usul semua angka. Angka 1 “bukanlah bilangan, tetapi penghasil, permulaan dan dasar dari semua angka lainnya.” Karena itu, angka 1 dianggap simbol dari Tuhan Yang Esa, Yang Mutlak. Angka 1 adalah juga huruf pertama aksara Arab (alif) dan huruf pertama kata ‘Allah’.
Bagaimana dengan angka 2? Ada dua sudut pandang: positif dan negatif. Yang negatif menilai, angka 2 adalah pemisahan dan perpecahan dari ketunggalan. Sedangkan yang positif menilai, angka 2 adalah wujud keseimbangan semesta yang berpasang-pasangan dan saling melengkapi. Ada Yin, ada Yang. Ada feminin, ada maskulin. Ada lelaki, ada perempuan. Ada langit, ada bumi. Keduanya saling mengisi.
Sudut pandang positif tersebut sejalan dengan kaum Sufi yang melihat 1 dan 2 sebagai hubungan antara yang satu dan yang banyak. Yang Satu, dalam kemutlakan-Nya, takkan bisa dikenal. Namun, Yang Mutlak bisa dikenal melalui tanda-tanda kehadiran-Nya di alam semesta, diri manusia dan kitab suci. Tanda-tanda kehadiran-Nya itu merupakan perpaduan antara yang feminin (jamâl) dan maskulin (jalâl).
Setelah membaca Schimmel, saya pun tergoda ikut-ikutan menafsir nomor urut pilpres kali ini. Benar bahwa angka 1 adalah asal segala angka, tetapi angka 1 tidak akan hadir merambah kehidupan ini tanpa angka-angka lainnya yang dimulai angka 2. Benar bahwa angka 2 bisa berarti polarisasi, perpecahan dan disintegrasi, tetapi juga bisa berarti saling melengkapi dan mengisi. Ini tergantung pilihan moral kita.
Demikianlah, andai hanya ada satu pasangan calon, maka hambarlah pilpres kita. Tak ada lagi bahan untuk perbandingan. Tak ada pula gairah persaingan. Karena itu, pasangan calon yang satu, melengkapi pasangan calon lainnya. Namun kita pun harus ingat, dua pasangan calon juga berpotensi melahirkan konflik dan disintegrasi. Dua pasangan calon berarti dua yang berhadap-hadapan, head to head.
Alhasil, supaya angka 1 dan angka 2 tidak menimbulkan perpecahan, diperlukan angka 3. Pemegang angka 3 adalah rakyat pemilih. Rakyat pemilih harus sadar bahwa pilpres bukanlah perang habis-habisan: menang jadi abu, kalah jadi arang. Jangan sampai dua gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah. Jangan sampai rakyat hanya menjadi umpan dan korban, sementara elite politik bertepuk tangan!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/jokowi-maruf-amin-dan-prabowo-sandiaga-uno_20180923_195341.jpg)