Mereka Bicara
Duka Ibu Pertiwi
Pertama, mall attitude oleh oknum supporter sepakbola yang kembali menyebabkan tragedi kemanusiaan
OLEH: Muh. Fajaruddin Atsnan MPd, Dosen STKIP PGRI Banjarmasin
MUSIBAH dan cobaan, silih berganti melanda negeri. Belum kering, duka tangis gempa Lombok, langit mendung kembali menyelimuti bumi pertiwi. Pertama, mall attitude oleh oknum supporter sepakbola yang kembali menyebabkan tragedi kemanusiaan, meninggalnya Haringga Sirila. Kedua, gempa dan tsunami yang meluluh lantakkan Palu, Donggala, dan sekitarnya.
Mall Attitude Supporter
Pertama, perihal mall attitude supporter sepakbola. Sebagai olahraga paling populer di muka bumi, sepakbola juga menjadi olahraga paling digemari di negeri ini. Antuasiasme masyarakat Indonesia terhadap sepakbola ditunjukkan dengan rela berbondong-bondong membeli tiket pertandingan, membeli atribut, hingga fans personal terhadap pemain, baik di level timnas maupun klub, sebagai bukti sahih akan magnet, daya tarik yang kuat dari sepakbola. Kalau dulu, penikmat si kulit bundar mayoritas datang dari kaum adam, tetapi di zaman modern, sepakbola makin digandrungi oleh kaum hawa.
Semakin luasnya penikmat sepakbola seolah menunjukkan sisi gemerlapnya industri sepakbola modern, dengan peranan fans atau supporter menjadi harga mutlak yang tidak bisa lagi dipisahkan dari sepakbola, Meskipun hadirnya para supporter dianggap sebagai masyarakat konsumtif pada industri sepakbola, tetapi nyatanya eksistensi supporter sedikit banyak memberikan andil baik untuk prestasi timnas maupun suatu klub, minimal membangkitkan semangat untuk berprestasi. Dengan kata lain, pencapaian (prestasi) suatu tim sepakbola tidak lepas dari dukungan dari supporternya.
Lenyapnya manfaat hiburan yang diperoleh ketika menonton pertandingan sepakbola akan terjadi manakala supporter kehilangan attitude (sikap) sportif dan kedewasaannya. Ironis, ketika permasalahan klasik crash antar supporter plus hingga kini terus menyebabkan nyawa melayang sia-sia, yang disebabkan oleh fanatisme dan kecintaan berlebihan baik terhadap klub maupun timnas yang tidak terkontrol.
Tindakan anarkis, kerusuhan, tawuran antar supporter, hingga pengeroyokan seolah mengotori seni indahnya sepakbola sebagai suatu permainan, dimana ada yang menang dan ada yang kalah.
Di level timnas misalnya, ketika timnas sepakbola kita bertanding, tak jarang sikap reaktif supporter kita, mulai dari mengintimidasi wasit yang dinilai tidak adil, justru memihak lawan, mengintimidasi pemain bahkan hingga wasit dan pemain mau meninggalkan lapangan.
Memang benar, rasa nasionalisme kita mendidih, manakala mata kita dihadapkan pada mall keputusan sang pengadil, yang merugikan bahkan membahayakan pemain timnas. Namun, akibat kurangnya pengendalian diri, dapat berujung terpancingnya supporter fanatik untuk melakukan protes dengan cara-cara cenderung destruktif.
Bentuk-bentuk protes yang tak pantas inilah, kemudian menjalar pada sikap anarkhisme yang mampu menghadirkan chaos khususnya di level antar supporter yang berujung petaka.Seorang supporter yang memiliki rasa fanatisme tinggi, sering kali berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan sikap fanatiknya melalui berbagai cara.
Celakanya, ketika cara yang ditempuh dan dipilih justru bertolakbelakang dengan prinsip olahraga yang sportifitas siap menang, siap kalah. Tak jarang, mereka (baca: oknum supporter) tidak lagi memperdulikan bagaimana mensyukuri suatu kemenangan yang sudah diraih, menghargai usaha meskipun kalah, tetapi justru sikap membabi buta, semata-mata membela apa yang dianggap benar.
Fenomena yang akan terus terjadi manakala edukasi terhadap makna mendukung bagi supporter, masih sebatas pada pemikiran harus menang, dan menganggap penyelesaian sebagai bentuk luapan ketidaksukaan terhadap hasil yang dicapai, harus melalui cara kekerasan yang cenderung tidak konstruktif.
Inilah yang kemudian kita khawatirkan ketika sikap supportif dari para supporter yang membangun aroma kondusif saat pertandingan sepakbola, berubah menjadi sikap destruktif yang kemudian bertransformasi menjadi sikap agresif. Bahayanya ketika fanatisme supporter, dibumbui oleh para provokator yang membuat suatu permainan yang sebenarnya enak untuk dinikmati, berubah menjadi ajang baku hantam.
Sepakbola tanpa supporter ibarat sayur tanpa garam. Greget bermain sepakbola akan lebih terasa ketika semakin banyak pendukung yang hadir langsung di stadion. Stadion tanpa supporter hampir bisa dipastikan akan kehilangan atmosfir gegap-gempita yang sering disajikan para supporter dengan atraksi atraktifnya.
Loyalitas terhadap timnas maupun klub kebanggaan memang diutamakan, tetapi totalitas dalam mendukung sebagai wujud fans sejati, dengan cara-cara persuasif, kreatif, tidak provokatif, layak dikedepankan dan dilestarikan.
Sabar dan tabah
Kedua, menyoal bencana gempa dan tsunami yang melanda Palu, Donggala dan sekitarnya. Hampir sebagian besar wilayah Indonesia, masuk dalam ring on fire atau cincin api, yang bermakna zona dimana terdapat banyak aktivitas seismik. Indonesia terletak di antara Cincin Api dan Sabuk Alpide yang membentang dari Nusa Tenggara, Bali, Jawa, Sumatra, terus ke Himalaya, Mediterania dan berujung di Samudra Atlantik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/suasana-pemakaman-haringga-sirila-23-di-indramayu_20180926_131754.jpg)