Jendela

Gempa Surabaya

Saya berada di lantai 15 hotel itu. Pas keluar pintu, saya melihat rombongan banyak orang yang juga mau keluar.

Gempa Surabaya
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor UIN Antasari

DI sebuah hotel di Surabaya, dini hari, sekitar jam 01.44 WIB, 11 Oktober 2018, saya terbangun dari tidur nyenyak akibat goyangan. Gantungan baju terdengar berdenting karena berayun-ayun. Saya segera bangkit dari tempat tidur. Goyangan itu berlangsung sekitar 2 menit lebih. Tak syak lagi, ini gempa!

Saya berada di lantai 15 hotel itu. Pas keluar pintu, saya melihat rombongan banyak orang yang juga mau keluar. Ada yang berlari ke tangga darurat, dan ada yang masuk lift. Karena goyangan sudah tidak ada lagi, saya nekad masuk lift bersama sejumlah orang, dengan hati berdebar-debar, semoga lift tidak macet. Akhirnya, kami pun sampai ke lantai lobi. Sudah banyak orang di luar. Semua tampak khawatir.

Namun, sekitar setengah jam kemudian, tidak ada goyangan lagi. Akhirnya, petugas hotel membolehkan kami masuk kamar untuk melanjutkan tidur. Pagi harinya baru diketahui telah terjadi gempa 6,0 SR yang berpusat di Situbondo, yang membuat ratusan rumah di Sumenep rusak dan beberapa orang meninggal dunia. Rupanya, Surabaya hanya terkena ‘imbas’-nya, meskipun banyak orang sempat ketakutan.

Mengapa takut? Karena orang umumnya mengetahui bencana gempa dan tsunami yang terjadi baru-baru ini di Palu, Donggala dan Sigi dengan korban jiwa 2.000 orang lebih dan masih perlu ditangani hingga sekarang. Orang takut karena masih ingin hidup. Bagi banyak orang, hidup lebih bernilai dari mati. Meski hidup di dunia ini tidak sempurna, tetapi masih sangat layak untuk dinikmati dan dijalani.

Sesuatu yang berharga seringkali baru terasa nilainya ketika kita kehilangan atau akan kehilangan sesuatu itu. Kita baru merasakan nilai listrik saat listrik padam, atau ada pemberitahuan bahwa listrik akan dipadamkan. Ketika setiap hari kita bangun pagi, menikmati hangat mentari, menghirup udara yang segar dan menyantap sarapan, boleh jadi kita lupa, betapa bernilainya anugerah hidup ini.

Di sisi lain, betapapun indahnya hidup di dunia ini, semua kita pasti akan mati. Suka atau tidak, maut akan menjemput. Sikap manusia terhadap hidup dalam kaitannya dengan kematian ini mungkin mirip dengan sikap terhadap gempa malam itu. Ada yang mengetahui lalu bersiap-siap menyelamatkan diri. Ada yang mengetahui tetapi tidak peduli. Ada yang tidak mengetahui dan hanyut dibuai mimpi.

Semua orang tentu tahu bahwa dirinya akan mati, tetapi tidak semua orang percaya dan yakin akan kehidupan sesudah mati. Ada yang berpikir, hidup hanya sekali di dunia ini, maka berpuas-puaslah. Nafsu jangan ditahan-tahan. Halal haram tidak dipedulikan. Ada pula yang percaya akan akhirat, tetapi tidak yakin. Gemerlap dunia telah membuatnya buta. Ia lalai laksana orang yang terbuai mimpi.

Menurut kaum Sufi, orang yang tidak percaya akan akhirat, dan orang yang terlena dengan kehidupan dunia, akan merasakan kematian yang menyakitkan. Mereka terkejut seperti tersentak dari tidur karena harus dipisahkan dari segala yang mereka cintai. Singkatnya, semakin besar cinta manusia kepada dunia (seperti keluarga, kekayaan, ketenaran dan kekuasaan), maka semakin menyakitkan pula kematian itu.

Jika demikian, mungkin sebagian besar manusia akan mengalami kematian yang menyakitkan. Namun, dalam Alquran disebutkan (QS 41:30-32), menjelang kematiannya, orang saleh yang selama hidupnya konsisten berbuat kebaikan akan ditemui para malaikat, yang memberinya kabar gembira tentang surga yang telah menunggunya. Karena itu, orang baik akan menghadapi kematian dengan damai-bahagia.

Selain itu, jika kiamat besar digambarkan Alquran antara lain seperti gempa (QS 99), maka kematian adalah kiamat kecil. Gempa dan kematian adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Ia bersifat ‘sementara’ bagi manusia. Sedangkan yang ‘tetap’ adalah pelajaran dan hikmah yang ditarik darinya. Peristiwa alam hanyalah peristiwa alam yang netral jika manusia tidak memaknainya dan meresapi hikmahnya.

Alhasil, ketakutan akan kematian saat terjadi gempa menyadarkan manusia tentang betapa bernilainya hidup ini. Sadar bahwa hidup ini sangat singkat, maka orang akan berusaha mengisinya dengan segala macam kebaikan, karena hanya dengan kebaikan itulah kebahagiaan dunia dan akhirat dapat digapai. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved