Jendela

Hujan Indah dan Gundah

Kepada tamu-tamu luar negeri, apalagi yang dari Arab, saya katakan bahwa kota ini adalah ‘sepotong surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’.

Hujan Indah dan Gundah
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

HUJAN lebat semakin sering mengguyur bumi di penghujung tahun ini. Desember memang biasanya musim hujan di negeri kita. Tidak ada yang aneh di sini. Setiap peristiwa alam pada dasarnya netral. Namun manusialah yang memaknainya, positif atau negatif.

Musim hujan yang dingin mungkin terasa berkah bagi penjual payung dan jas hujan. Teh dan kopi panas hingga bakso dan mie kuah juga makin laku di kedai-kedai. Bagi para seniman dan orang yang sedang kasmaran, hujan seringkali dianggap mewakili suasana romantis. “Hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu, menambah nikmatnya malam syahdu,” bunyi salah satu bait lagu “Sepanjang Jalan Kenangan”.

Sebaliknya, hujan deras dan berlangsung lama dapat menyebabkan banjir dan longsor yang merusak tanaman, jalan, jembatan, bangunan hingga menelan korban manusia. Bencana inilah yang kini banyak diberitakan media. Rumus klasik bahwa ‘kejadian buruk adalah peristiwa terbaik untuk diberitakan’ tampaknya tetap berlaku di sini. Kita memang lebih mudah tersentuh kabar buruk ketimbang baik.

Namun, sebaiknya kita jangan buru-buru menyalahkan media. Justru pemberitaan media itulah yang dapat menggugah kesadaran kita dan mendorong kita untuk melakukan introspeksi. Jika satu kawasan dilanda banjir dan air menggenangi jalanan hingga bangunan, maka pemerintah dan masyarakat harus segera bertindak.Bala bantuan yang diterjunkan adalah kebutuhan mendesak yang tak bisa ditunda.

Selain memberikan bantuan kepada korban yang bersifat jangka pendek, kita tentu perlu berpikir untuk jangka panjang. Kita wajib melakukan introspeksi, memeriksa, meneliti dan merenung, apakah kiranya sebab-sebab yang menimbulkan banjir atau longsor itu? Apa yang harus kita lakukan agar sebab-sebab itu bisa kita atasi? Apa yang harus kita antisipasi agar bencana serupa bisa dihindari di masa depan?

Semua ini logika sederhana belaka. Tidak perlu seorang sarjana, anak sekolah dasar pun akan sampai pada pemikiran yang sama. Tetapi logika sederhana ini justru seringkali diabaikan. Buktinya, setiap kali musim hujan datang, setiap kali pula banjir dan longsor menjadi bencana di berbagai tempat. Seolah banjir atau longsor itu adalah langganan yang tak dapat ditolak dan kita tak kuasa mencegahnya.

Apakah kita bodoh? Tidak juga. Banyak di antara kita yang ingin berusaha agar air hujan terkendali dan banjir atau longsor tidak terjadi, tetapi kendalanya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ketika hutan sudah digunduli oleh perusahaan kayu atau batu bara, berapa lama kita menanami dan menumbuhkan pohon-pohon itu kembali? Apakah perusahaan yang menebang benar-benar bertanggung jawab?

Keadaan serupa juga terjadi di kota. Saluran air seringkali tidak dipelihara dengan baik. Sebagian warga bahkan masih membuang sampah di saluran air dan sungai. Lebih parah lagi, alih-alih membuat rumah panggung di atas tanah rawa, sebagian masyarakat justru lebih suka menimbun kawasan berair itu dengan tanah. Akibatnya, penampungan air semakin kurang sehingga merembes ke mana-mana.

Saya sendiri sering membanggakan Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai. Kepada tamu-tamu luar negeri, apalagi yang dari Arab, saya katakan bahwa kota ini adalah ‘sepotong surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai’. Namun ternyata, cukup banyak pula sungai yang hilang akibat ditutupi tanah dan bangunan. Jika hal ini terus terjadi, mungkin kelak ‘Kalimantan’ akan berubah menjadi ‘mantan kali’!

Alhasil, hujan itu menjadi indah atau gundah, tergantung pada manusia yang menyikapinya. Tidak ada gunanya saling tuding. Masyarakat menyalahkan pemerintah atau sebaliknya. Yang diperlukan adalah kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan demi kesejahteraan bersama. Sekali lagi, ini logika sederhana, namun sekarang menjadi rumit dan sulit karena manusia semakin egois dan serakah! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved