Jendela
Keluasan dan Ketinggian
Disertasinya tentang sahabat Nabi, penyebaran dan aliansi politik mereka, merupakan salah satu karya terbaik yang kemudian diterbitkan Brill, Belanda
DR Fu’ad Jabali, dosen UIN Jakarta, adalah senior saya saat kuliah di McGill University, Kanada. Saya biasa memanggilnya Kang Fu’ad.
Dia pakar dan pecinta sejarah Islam. Disertasinya tentang sahabat Nabi, penyebaran dan aliansi politik mereka, merupakan salah satu karya terbaik yang kemudian diterbitkan Brill, Belanda.
Minggu lalu, saya mengundangnya ke kampus untuk berbicara tentang sejarah Isra Mikraj.
Saya semula mengira, dia akan membentangkan fakta-fakta sejarah seputar Isra Mikraj secara khusus dan rinci, membandingkannya dengan kepercayaan umum, lalu mengemukakan rekonstruksi baru. Ternyata, dia tidak melakukan itu.
Kang Fu’ad lebih memilih sudut pandang makro sambil memberikan tafsir yang relevan bagi kehidupan kita. Yang dia ambil bukan sekadar fakta, melainkan makna sejarah.
Menurutnya, makna terdalam dari Isra adalah keluar dari kesempitan menuju keluasan. Perjalanan Nabi dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina adalah perjalanan semacam itu.
Dia keluar dari kesempitan Makkah menuju tempat-tempat lain dan bertemu aneka ragam orang. Dia mampir di Thaibah (Madinah), Bukit Sinai, Bethelem, hingga Aqsha Palestina, dan bertemu Nabi-Nabi terdahulu.
Sejarah menunjukkan, Islam besar karena keluar dari kesempitan menuju keluasan itu. Dari Makkah Nabi hijrah ke Madinah.
Sepuluh tahun kemudian, Makkah ditaklukkannya. Setelah Nabi wafat, para sahabat membawa Islam ke wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Romawi dan Persia seperti Yerusalem, Baghdad, Suriah dan lain-lain.
Setelah itu, Islam terus menyebar ke Asia Tengah hingga Tenggara.
Bagi Kang Fu’ad, makna utama dari perluasan Islam itu bukanlah politik, melainkan budaya, yakni sikap terbuka kepada perbedaan.
Inilah maksud dari kesempitan menuju keluasan. Sikap terbuka itulah yang melahirkan kebesaran peradaban Islam.
Islam bergerak dari budaya Arab, masuk ke wilayah budaya-budaya lain, menyerap segala yang baik dan bernilai di wilayah itu, untuk kemudian dikembangkan.
Bergerak dari kesempitan menuju keluasan itu, bagi Kang Fu’ad, adalah hukum sejarah yang berlaku universal. Orang yang terkungkung hidupnya pada lingkungan yang sama, pasti sulit berkembang.
“Andai pak Mujib ini hanya tinggal di Amuntai, apakah dia seperti sekarang? Dia kan menempuh pendidikan ke Banjarmasin, lalu ke Jakarta, kemudian ke Kanada dan akhirnya Belanda,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/jendela-mujiburrahman_20180730_045141.jpg)