Fikrah
Di Mana Posisi Anda Ditempatkan di Dunia?
PERNAHKAH anda memperhatikan perabot rumah milik anda? Ada jam dinding yang terus-menerus berdetak setiap waktu, menuntun kita melakukan aktivitas
Oleh KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Kalsel
PERNAHKAH anda memperhatikan perabot rumah milik anda? Ada jam dinding yang terus-menerus berdetak setiap waktu, menuntun kita melakukan aktivitas yang harus kita lakukan pada waktunya; bangun tidur, sarapan, bekerja, istirahat dan lain sebagainya.
Ada pintu jendela berterali besi, lemari pakaian, brandcase uang bahkan lemari pajangan barang-barang kesukaan kita. Ada barang pajangan, figura, pot bunga, barang-barang antik. Ada dapur dengan peralatan santap berupa piring, gelas, panci, kuali, rice cooker.
Ada peralatan kebersihan berupa sapu, tempat sampah, bahkan toilet, dan penampungan kotoran kita. Semua perabot itu sama posisinya, berkhidmat kepada pemilik rumah. Masing-masing tidak boleh merasa lebih dari yang lain atau bahkan merendahkan, umpamanya pot bunga menghina tempat sampah.
Pemilik rumah pun memandang semua perabot itu sama, semua disayang dan dipelihara.
Demikianlah sepertinya kehidupan kita, ada orang yang ditempatkan Allah pada posisi ulama dan cerdik cendekia, menuntun umat dengan ilmunya seperti halnya jam dinding. Ada orang yang ditempatkan Allah sebagai umara, pemelihara umat seperti pintu, jendela dan lemari berhidmat dengan keadilannya.
Ada orang yang ditempatkan Allah pada posisi pajangan (wamul-ibad), mereka tidak memiliki apa-apa, berkhidmat dengan keikhlasan doanya. Ada orang yang Allah tempatkan pada posisi dapur, mereka adalah pedagang pengendali ekonomi (tujjar). Ada orang ditempatkan Allah sebagai petugas, karyawan dan pesuruh (muhtarifun), mereka berkhidmat dengan dedikasinya. (Tafsir ar-Razi, Mafatih al-Gaib, I/182).
Semua sudah terarah untuk berbuat sesuai posisi yang Allah tempatkan, kullun ya’malu ala syakilatih, tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing- masing. (QS.17/84). Masing-masing hendaklah berkhidmat dengan sadar (yaqdzah), bukan dengan kelalaian (gaflah), lupa kepada siapa berdedikasi.
Seseorang yang yaqdzah berkhidmat mencari cinta Allah, bila bangun tidur, yang pertama muncul di benaknya apa yang Allah perbuat untukku saat ini. Ia pun sadar apa kewajibannya kepada Allah. Allah pun akan selalu membimbingnya dan memberikan taufik kepadanya pada setiap apa yang dilakukan, sehingga selalu terarah menuju kebaikan.
Sedang seseorang yang gaflah, bila bangun tidur yang pertama muncul di benaknya, apa yang harus aku lakukan hari ini. Allah membiarkan orang itu sehingga ia terarah kepada kesalahan karena tanpa bimbingan.
Adam dan Hawwa diturunkan ke bumi. Sebelumnya setan telah diusir dari surga. Allah berfirman, ihbithu, ba’dhukum liba’dhin ‘aduwwun, turunlah kamu! Sebagian kamu musuh bagi yang lain. (QS. 2/36).
Iblis pun menancapkan bendera hasad di samping ilmu para ulama, terjadilah kedengkian antarmereka, berebut pengaruh dan pengikut, cela mencela dan saling hujat. Iblis menancapkan bendera zalim di samping keadilan para umara, mereka berebut kekuasaan dan memerintah dengan lalim dan aniaya.
Iblis menancapkan bendera ria di samping keikhlasan para orang awan, berdoa maanduh-anduh di hadapan umara dan agniya karena amplopnya tebal.
Iblis menancapkan bendera tamak dan rakus di samping amanahnya para pedagang (tujjar), sehingga transaksi ekonomi bukan lagi untuk memudahkan dan menolong umat dan masyarakat, tetapi semata meraup keuntungan duniawi.
Iblis menancapkan bendera curang di samping dedikasinya para petugas, sehingga bekerja dengan culas, bukan untuk pengabdian tetapi hanya cari muka di hadapan atasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/husin-naparin-20170316_20170316_232831.jpg)