Fikrah

Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab

Rajab adalah bulannya Allah, karenanya kepada kita dianjurkan banyak beristighfar, Rajab kita memperingati isra dan mikrajnya Nabi Muhammad SAW

Editor: Irfani Rahman
ISTIMEWA
Ketua MUI Kalimantan Selatan, KH Husin Naparin. 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID- NABI Muhammad SAW bersabda “Rajab sahrullah”. Artinya Rajab adalah bulannya Allah, karenanya kepada kita dianjurkan banyak beristighfar. Bulan Rajab adalah bulan istimewa. Bulan ini termasuk bulan haram, artinya haram berperang pada waktu itu, biasanya di bulan Rajab kita juga memperingati isra dan mikrajnya Nabi Muhammad SAW.

Dalam buku kumpulan doa Majmu Syarif dituliskan adanya doa istighfar rajab. Baik sekali dibaca pada setiap hari walaupun bukan bulan rajab. Beristighfar waktunya terbaik adalah waktu sahur, Allah SWT berfirman, menceritakan bahwa penduduk surga itu dahulunya mereka suka beristighfar di waktu sahur dan orang ahli surga itu adalah orang baik sewaktu hidup di dunia dan mereka suka berderma menafkahkan hartanya untuk kepentingan orang miskin. Oleh karenanya bagus sekali kita salat subuh berjemaah ke rumah Allah (Masjid). Dan usai berjemaah hendaklah berderma dan berinfak atau bersedekah kepada orang orang miskin.

Ketahuilah apabila matahari terbit dua malaikat berdiri di ufuk timur, keduanya berdoa: “Allahumma ati munfikan khalafa wa’ti mumsyikan talafa”. Artinya ya Allah berilah gantian kepada orang-orang yang menginfakkan hartanya dan timpakanlah kerusakan kepada orang yang kikir menahan hartanya dari berbuat kebajikan.

Dalam hadis yang lain diceritakan bahwa Nabi SAW bersabda: “Man shalatal qadatal jamaatan fil masjidi summa qaada yazkurullah taala hatta tatluazsamsu summa sallah rakataini khaanat lahu kaajri hajatin waomratin tammatin tammatin tammatin”.

Artinya barang siapa yang salat fardu subuh yang berjemaah ke masjid, kemudian ia duduk berzikir menyebut nama Allah (baik membaca Qur’an, beristighfar, betasbih) maka adalah baginya mendapatkan pahala seperti orang berhaji dan berumrah yang sempurna yang sempurna.

Kita tahu bagaimana susahnya mengerjakan haji dan umrah. Disamping memerlukan dana yang banyak memerlukan pula waktu yang panjang seperti di daerah kita Kalsel harus menunggu puluhan tahun dan bahkan ada yang sampai 40 tahun.

Namun demikian kita diberikan anugerah yang luar biasa dari Allah SWT sehingga seperti yang disabdakan Allah SWT tadi bahwa siapa yang sembahyang subuh berjemaah kamudian dia duduk berzikir dengan membaca Al-Qur’an atau berselawat atau beristighfar atau bertasbih (maka kepadanya dianugrahkan pahala haji dan omrah yang sempurna).

Dalam bulan Rajab ini terjadi peristiwa besar terhadap diri Nabi Muhammad SAW, yaitu isra dan mikrajnya beliau. Peristiwa isra dan mikraj diberitakan pada satu ayat Surah Al Isra ayat 1. Memperingati isra dan mikraj pada hakikatnya kita memperingati diturunkannya perintah salat yang langsung dijemput di hadirat Allah SWT yaitu mikraj.

Diriwayatkan, setelah Nabi Muhammad SAW berada dihadapan Allah SWT dengan suatu keberadaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, sehingga kita tidak bisa bertanya apakah Nabi berhadapan dengan Allah SWT, adakah punya jarak atau bagaimana, waulahualam. Karena Nabi juga tidak menceritakannya, berarti hal itu tidak perlu diceritakan namun demikian, ketika Nabi Muhammad SAW berada di hadapan Allah SWT, beliau tersungkur dan berkata: “Attahiyatul mubarakatus shalawatutayyibatu lillah”. Artinya penghormatan dan selawat yang terbaik hanya teruntuk bagi Allah SWT. Allah menjawab: “Assalamualaika ayyuhannabiyu warahmatullahi wabarakatuh”. Artinya selamat sejahtera buat engkau wahai Nabi dan rahmat Allah yang penuh berkah, Nabi menjawab pula: “Assalamualaina waala ibadillahi sholihin”. Artinya penghormatan yang engkau berikan itu wahai Allah bukan hanya untuk ku tetapi untuk semua hamba hamba Allah yang saleh.

Sesudah itu turunlah perintah salat yang 50 waktu. Setelah perintah salat ini diturunkan, Nabi Muhammad SAW turun dan bertemu dengan Nabi Musa AS di langit ke 6. Nabi Musa AS mempertanyakan apa yang diperintahkan Allah SWT. Nabi menjawab salat fardu 50 waktu, Nabi Musa AS menyarankan kepada Nabi Muhammad agar minta diringankan karena umat Nabi Musa yang berbadan besar hanya di fardukan salat 2 waktu yaitu siang dan malam.

Menurut sebagian ulama ini adalah riwayat yang disisipkan oleh orang-orang Yahudi sehingga terkesan bahwa Nabi Musa itu lebih pintar dari pada Nabi Muhammad SAW.

Dan Nabi Muhammad disuruh datang lagi kepada Allah SWT minta keringanan, sehingga Nabi Muhammad SAW bolak balik kepada Tuhan sebanyak 9 kali. Setiap kali menghadap dikurangi 5, sehingga akhirnya tersisa salat fardu seperti yang kita kerjakan sekarang.

Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya perintah salat, karena dijemput langsung kepada Allah SWT. Perintah-perintah rukun Islam lainnya cukup dengan turunnya wahyu dari Allah yang di sampaikan oleh Jibril AS, perintah puasa cukup dengan firman Allah: “Ya ayyuhallaji naamanu kutiba alaykumussiyam kama kutiba alallajina minkablikum laallakum tattakun”. Artinya wahai umat beriman, di wajibkan kepadamu puasa Ramadhan sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu semoga kamu menjadi orang yang bertakwa (Q.S Al Baqarah;183).

Perintah zakat dengan perintah Allah SWT melalui jibril “Waatuzzakat”. Artinya keluarkanlah zakat. (Q.S At Taubah;60). Perintah haji melalui ayat “Waatimul hajja waumrata lillah”. Artinya sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah SAW (Q.S Ali Imran).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved